
Laudia tak menyangka jika seorang ayah tiri tega mengkhianati ibunya, sakit bukan main kini di rasakan Laudia. Melihat lelaki tidak tahu diri itu ternyata berselingkuh dengan seorang gadis, di sebuah tempat makan yang Laudia kunjungi bersama sang ibu.
Mengepalkan kedua tangan, Laudia memukul meja dengan sekuat tenaga. Perasaanya bercampur aduk menjadi satu, ingin rasanya ia melabrak dan membuat lelaki yang menjadi ayah tirinya malu.
Sang ibu menahan tangan anaknya, terlihat kedua mata berkaca kaca, Aini menangis. Menggelengkan kepala, seakan sudah tahu jika sang ayah sudah sejak lama berselingkuh.
"Sudah biarkan saja."
Mengerutkan dahi, merasa aneh dengan larangan sang ibu." Tapi bu, dia."
Wanita yang terlihat galak dan juga sering membuat Laudia menangis, kini terlihat lemah. Aini menjadi depresi dan terganggu pisikologinya kemungkinan besar karena sang suami dan juga masa lalu mengantarkannya pada gangguan jiwa dan mental sang ibu.
Air mata tak terbendung lagi, wanita tua itu akhinya menangis, tak ada yang bisa ditutupi. Setelah air mata itu jatuh ke dasar pipi.
Kenapa? Lelaki yang menjadi suami Aini tega mengkhianati sang istri? Apa salah Aini?
Semua menjadi pertanyaan menumpuk pada kepala Laudia, seakan dia ingin mengetahui masa lalu sang ibu dan apa hubungannya dengan Hasan. Lelaki tua yang menjadi sopir sang CEO muda di perusahaan tempatnya bekerja.
"Ibu, tenang ya. Sekarang ibu makan lagi makananya sampai habis."
Wanita tua bernama Aini kini menyuapkan makanan, dari piring yang belum ia habiskan.
Terlihat sekali, ada rasa sesak pada sang ibu, ketika Laudia menatap manik manik bola mata terlihat berkaca kaca.
Tangan lembut Laudia, memegang erat punggung tangan Aini, memberi energi agar tetap kuat dan tak mempedulikan lagi lelaki tidak tahu diri itu.
"Ibu yang sabar ya."
"Terima kasih, Laudia. Kamu memang anak baik."
Saat ibu dan anak saling menguatkan diri, lelaki bernama Rendra datang menghampiri meja makan, membawa seorang gadis dengan memperlihatkan kemesraan di depan Laudia dan Aini.
__ADS_1
"Wah, ada istri dan anak haram ini."
Kata kata Rendra baru terdengar pada kedua telinga Laudia, baru kali ini gadis bertubuh tinggi semampai itu disebut anak haram oleh ayah tirinya.
"Maksud kamu?"
Laudia bertanya, menatap penuh kebencian pada sang ayah tiri. Ia ingin sekali menyumpal mulut kotor lelaki tua yang menikah dengan ibunya itu.
Rendra dengan lancangnya, mencuil dagu Laudia mengedipkan mata, memberikan senyuman manis didepan anak tirinya.
"Kenapa? Tidak suka jika aku memegang dagu indahmu itu. Ayolah, jangan munafik kita ini tidak ada hubungan darah sama sekali, jadi jika melakukan hal tak pantas. Tinggal menikah saja."
Laudia muak dengan perkataan Rendra yang terdengar menjijikan, ia memukul meja dengan sangat keras dan berkata." Kurang ajar. Jaga mulut kamu itu."
Telunjuk tangan, Laudia layangkan pada wajah Rendra, dengan tatapan mata menekram seperti seorang musuh yang ingin menelan mentah mentah.
Rendra, tetap berusaha menampilkan postur tubuh tak bersalahnya dihadapan sang anak tiri, memegang telunjuk tangan mulus Laudia. Mencium dan berkata." Wangi."
Plakk .....
"Ini adalah tamparan keras untuk orang yang tidak tahu diri seperti kamu."
Rendra, menyunggingkan bibirnya. Memegang pipi yang terasa sangat sakit. Tamparan sang anak tiri, lumayan membuat lelaki tua itu merasa malu.
Aini, hanya bisa menundukkan wajah. Tak ada perlawanan dari wanita tua itu. Seperti wanita lemah yang tak berdaya saat berhadapan dengan suaminya.
"Bu, kenapa ibu diam saja. Lelaki seperti dia harus diberi pelajaran." Teriak Laudia. Membuat Aini bangkit dari tempat duduknya dan menampar sang anak.
"Cukup, jangan sampai aku memukul dan menghajar kamu habis habisan ya, Laudia. Memang kamu anak tidak tahu diri." Bentak sang ibu. Laudia merasa heran dengan ibunya yang malah membela sang suami.
"Bu, sadar. Dia yang salah." Memegang pipi kiri, Laudia menangis, sedangkan Rendra hanya tersenyum kecil. Aini seperti menurut sekali dengan Rendra, entah apa yang sebenarnya di sembunyikan Aini. Sampai sampai ia lebih memilih Rendra dari pada anaknya sendiri.
__ADS_1
"Cukup." Bentakan sang ibu membuat Laudia kini terdiam, gadis itu pergi dari hadapan Aini. Dengan penangis terisak isak, karena tak ada pembelaan dari ibu kandungnya sendiri.
"Percuma aku menjadi anak ibu, jika ujungnya aku yang selalu disalahkan." Gerutu Laudia. Gadis bertubuh tinggi semampai itu pergi, hingga tak terlihat lagi.
"Laudia." Teriakan Aini, tak didengar oleh anaknya sendiri.
Rendra yang masih mengandeng pacar barunya. Hanya tertawa di atas penderitaan sang istri. Ia menunjuk Aini yang terlihat begitu penuh tekanan dengan berkata." Kamu urus anak haram itu hasil perbuatan zinamu dengan si Hasan. Andai saja kamu tidak aku nikahi. Kemungkinan besar kamu akan terhina." Bisik pelan Rendra mencaci maki istrinya sendiri.
Rendra kini pergi dengan merangkul bahu sang pacar, membuat luka pada hati Aini yang amat perih dan begitu dalam.
"Apa sebegitu hinanya hidupku, setelah menyerahkan mahkota pada Hasan. Lelaki yang tak bertanggung jawab itu. "
Menggengam erat, mengepalkan tangan merasakan rasa kesal yang begitu terasa mejalar pada kepala Aini.
Beberapa kali Aini menikah, dan hanya Rendra yang bertahan dengannya. Sampai Laudia bisa menjadi gadis cantik hingga mempunyai pekerjaan yang layak sampai sekarang.
Aini tak bisa berbuat apa apa, dia hanya bisa pasrah dengan keadaanya sekarang.
Walau mungkin yang ia lalui merasa menyakitkan, seakan berjalan pada pecahan beling.
Menangis hanya itu yang ia bisa luapkan. Orang orang seperti melihat Aini begitu menyedihkan sampai mereka hanya bisa bersimpati dari jarak jauh.
Laudia, mengusap air mata dengan perlahan, menatap ke arah langit." Apakah ini kehidupan yang sesungguhnya, terasa menyakitkan."
Laudia, terdiam sejenak, apa yang ia lakukan adalah hal yang salah, seharunya Laudia menemani sang ibu bukan malah meninggalkannya sendirian.
"Bodoh, apa yang aku lakukan. Seharusnya, aku menjaga ibu."
Laudia berlari dengan tergopoh gopoh. Untuk segera menghampiri sang ibu, Ia tak mau menjadi orang yang egois.
Setelah sampai di rumah makan, gadis manis berbadan tinggi semampai itu melihat sang ibu sendirian. Hatinya merasa sakit, harusnya ia menjadi sosok penyemangat dan juga memberi suport untuk kesembuhan sang ibu.
__ADS_1
Memegang punggung sang ibu, dengan berucap." Bu."
Wanita tua yang menangis memikirkan nasibnya, menatap ke arah belakang, terlihat senyuman terpancar dari bibir Laudia anak semata wayangnya yang ia selalu caci maki. Hina dan kadang ia pukul sampai wajahnya menyisakan luka lebab.