
Beberapa menit, setelah Edric berangkat kuliah. Kini Ellad datang membawa sesuatu untuk sang istri, ia selalu menampilkan wajah bahagia saat pulang ke rumah.
"Mamah, papah pulang."
Mendengar suara sang pujaan hati, Maya tampak berseri, membalikan badan melihat Ellad datang tersenyum, memeluk sang istri. Dwinda menyaksikan kemesraan kedua insan dihadapan matanya, dia hanya tersenyum sinis sembari melipatkan kedua tangan dan berkata dalam hati," nikmatin saja dulu kemesraan yang sebentar lagi akan pudar, tentunya aku miliki."
Kedua pipi Maya terlihat memerah, karena di sebelahnya ada sosok seorang sahabat yang melihat kemesraan terpancar oleh Ellad untuk Maya.
Dwinda membuang wajah, berusaha tak melihat apa yang diperlihatkan Maya dan juga Ellad.
"Sayang, kamu lihat aku bawa apa?"
Ellad menunjukkan sesuatu dalam tas.
"Bawa apa memang?" tanya Maya, penasaran pada suaminya yang seperti ingin menunjukkan sesuatu.
Ellad tetap dengan senyuman manisnya, untuk sang istri, ia tak pernah memperlihatkan kemarahan dan juga kekesalanya di depan Maya.
Cintanya begitu besar, sampai setiap keinginan sang istri selalu dipenuhi oleh Ellad.
Lelaki berambut putih, badanya tegap. Menyodorkan suatu barang mewah yang selalu diinginkan Maya," kamu lihat ini apa?"
Bertapa terkejutnya Maya, melihat barang yang ditunjukan Ellad untuk dirinya. " Berlian."
Dwinda tadinya acuh, kini melirik ke arah berlian yang dipelihatkan Ellad untuk sang istri, kini terpesona dengan sinar belian itu, ingin memiliki tapi tak bisa. Karena Ellad memberikannya untuk Maya seorang.
Betapa irinya Dwinda melihat barang mewah yang dipakai Maya, " enak sekali mereka, bisa bersenang senang dan membeli sesuatu. Sedangkan papahku dalam kebangkrutan mereka biarin." Gumam hati Dwinda.
Maya mendekat ke arah Dwinda dan bertanya." Bagaimana berlianya, cocok tidak di tanganku."
Sang pemilik bola mata coklat tersenyum, menampilkan kebahagian palsunya." Suami ibu memang hebat ya, dalam memilih barang untuk wanita. Ibu Maya, sangatlah cocok memakai gelang berlian pemberian tuan."
Maya tersenyum dan menjawab." terima kasih, Dwinda. Memang kamu sahabatku yang terbaik."
Ellad tetap acuh, tak melirik ke arah Dwinda sama sekali, membuat wanita pemiliki bola mata coklat itu penasaran.
"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Maya pada sang suami.
"Mm, aku mau ke mandi lah sayang!" jawab Ellad. Mengedipkan mata sembari memberikan sebuah kode.
Maya menarik tangan Ellad." Sayang, kenalin teman baru aku."
__ADS_1
Dwinda menyodorkan tanganya kehadapan Ellad. Membuat laki laki tua itu menjabat tangan Dwinda.
"Ellad."
"Dwinda."
Ellad yang memang selalu ceplas ceplos dalam berbicara kita berucap dengan nada sedikit jutek." Apa tidak salah kamu berteman dengan wanita semuda ini."
Maya memegang bahu sang suami." Walau pun dia masih muda, dia begitu cerdas."
Ellad seperti tak ingin tahu jika Dwinda begitu istimewa bagi istrinya, dia hanya mengusap pelan dagunya dan berkata." ya sudah kalau begitu. Papah mau mandi dulu."
Panggilan mesra mereka pun selalu sederhana, tentulah membuat Dwinda iri. Bagaimana bisa Ellad begitu setia sedangkan dia mempunyai segalanya, dimana seorang lelaki selalu memanfaatkan itu semua.
Rupa, tahta. Jabatan dan juga kekayaan. Ellad bisa mempunyai banyak wanita.
Tapi bagi Dwinda ini sangatlaj menarik.
"Dwinda."
"Iya, ada apa Bu Maya."
"Jangan panggil aku ibu dong, Maya saja gimana. Walau umur kita jauh tapi wajah aku tak memperlihatkan tanda tua kan."
"Iya, Maya."
"Nah, gitu donk. Gimana kalau kita soping. "
"Mm, jangan dulu deh, May. Aku kan belum gajian, kamu tahu sendirikan aku anak baru."
"Kamu ini gimana sih, kamu tenang saja, biar aku yang menelaktir kamu. Gimana?"
"Wah, enak banget. Kamu Nggak keberatan gitu neraktir aku."
"Nggak dong kita teman."
Dwinda semakin senang, rencananya pasti akan mudah dan gampang. Ketika sang lawan sudah semakin terjerat.
Hari hari, dilalui Maya dan Dwinda.
Banyak para dokter di rumah sakit, tak menyangka pada anak baru seperti Dwinda yang bisa dekat dengan Maya, dokter pemilik rumah sakit.
__ADS_1
Mereka begitu isengnya bertanya pada Dwinda, dengan rasa iri di hati dan pikiran mereka semua.
"Heh, Dwinda enak banget ya kamu. Sekarang bisa dekat dengan Ibu Maya."
Dwinda hanya diam, tak menangapi ucapan mereka semua.
"Anak songong kalau orang tanya itu jawab, jangan diam saja." ucap para dokter di rumah sakit.
Dwinda tetap saja diam seakan tak peduli dengan ucapan mereka yang sedikit menghina.
"Dasar tidak tahu diri, beraninya main keroyokan." Gerutu Dwinda pada hatinya.
Dokter itu kini meninggalkan Dwinda, hingga dimana Dwinda berucap," kenapa kalian tidak langsung tanyakan pada atasan kalian semua Bu Maya."
Menarik napas mengeluarkan secara perlahan, para dokter itu ingin sekali memukul wajah Dwinda.
"Jelas karena kalian sok caper."
"Caper bagaimana, jelas saya hanya anak baru yang tak tahu apa apa, kalian tahukan. Ibu Maya itu malas jika mempekerjakan kalian yang tidak becus bekerja."
Salah satu dokter menggengam erat kerah baju Dwinda dan berkata," apa maksud kamu. Jangan berbicara kebohongan ya."
"Siapa yang berbicara kebohongan jika kalian tidak percaya, ini buktinya."
Dwinda memperlihatkan sebuah rekaman suara yang begitu percis dengan Maya pada para dokter di rumah sakit, ia membuat sebuah tudingan jika Maya mengatakan hal yang sangat menyakitkan untuk para dokter, dibelakang.
Ia seakan akan, membenci kenerja dokter dokter di rumah sakitnya dan ingin menurunkan gaji para dokter di rumah sakit.
Dwinda sengaja mengkambing hitamkan Maya, karena ini bagian dari rencananya.
"Kalau begitu aku akan berhenti bekerja di sini."
Semua para dokter seakan kompak ingin keluar dari rumah sakit, tapi Dwinda menahan, ia mempunyai cara untuk meleyapkan Maya agar tidak ada pemimpim rumah sakit seperti Maya.
Para dokter yang sudah dicuci otaknya oleh Dwinda hanya menurut saja, mereka melakukan sesuatu yang tak terduga.
Dwinda melihat semuanya tentunya senang dan pastinya bahagia, jika semu berjalan lancar, rencananya akan berjalan mulus, hingga ia berusaha menjadi seorang pemegang rumah sakit dari istri CEO Ellad.
"Kalian tidak ingin kan di permainkan oleh Bu Maya, saya punya ide melenyapkan wanita itu, agar ia sadar dari kesalahanya."
Semua dokter ada yang setuju dan tidak, hanya ada tiga dokter, termakan omongan Dwinda. Yang lainnya tak ingin ikut campur, cukup diam dan menyaksikan apa yang nanti akan terjadi pada Maya. Setelah rencana berhasil.
__ADS_1
"Bagaimana, apa kalian setuju jika kita menaruh racun dalam makanan Bu Maya, dan setelah Bu Maya meninggal dunia kita bilang saja tidak ada sesuatu yang terjadi, semua murni karena meninggal dunia."