
Melihat amarah Aira, malah membuat Edric tersenyum ceria, " kamu lucu deh kalau tersenyum."
Pipi cambby Aira terlihat seperti ikan kembung, membuat jari tangan Edric gatal dan kini mencubit kedua pipi istrinya.
"Kamu mengemaskan, sayang."
"Aduh, kamu ini."
Aira mengusap pelan pipinya merasakan rasa sakit akibat cubitan tangan suaminya sendiri.
"Bisa tidak sih sayang, pelan pelan kalau mau nyubit," Aira semakin kesal dibuat tingkah oleh suaminya sendiri.
"Siapa suruh punya pipi kembung," balas Edric tertawa senang.
"Tadi aja marah marah, tak jelas kamu. Heh, ini tuh bukan pipi kembung tapi cambby." cetus Aira, melihat kearah suaminya yang kini fokus mengendarai mobil.
"Alah, sama saja," ucap Edric tak mau kalah dengan istrinya, sepanjang perjalanan mereka terus berdebat hanya karena masalah sepele.
Rasa kesal dan amarah kini hilang begitu saja dalam benak Edric, setelah melihat amarah pada raut wajah Aira yang mengemaskan.
Walau bawah mata Aira seperti mata panda, badan sedikit melebar, dan wajah tak terlihat cerah, Edric tetap mencintai sang istri. Tak peduli dengan perubahan fisik Aira, bagi dirinya semua adalah pengorban sang ibu untuk anaknya.
Padahal Edric sudah memberikan keringan, untuk mengurus anaknya, tapi tetap saja Aira ingin mengurus Erlangga dengan tangannya sendiri.
"Apa kamu tidak kelelahan sayang, mengurus Erlangga?" tanya Edric merasa kuatir dengan keadaan istrinya.
"Tidak kok, aku malahan senang. Bisa mengurus anakku sendiri tanpa bantuan Baby sister, kamu tahu sendirikan di rumah aku tak ada kerjaan, jadi tak usah menyewa Beby sister!" jawab Aira, menolak tawaran Edric untuk meringankan pekerjaanya.
"Ya, sudah kalau begitu. Aku tidak akan memaksamu," ucap Edric, mencubit pipi Aira lagi.
"Haduh, bisa tidak kamu. Jangan mencubit pipiku terus Edric, ini rasanya sakit. Tahu tidak," gerutu Aira di hadapan suaminya.
Aira mengepalkan kedua tangan, ingin meninju lelaki di sampingnya, tapi ia masih sadar jika lelaki disampingnya adalah suami dan ayah anaknya.
__ADS_1
******
Mereka kini berhenti di sebuah restoran mewah, Aira selalu sebal jika berada di tempat mewah, karena tak sebanding dengannya yang hanya wanita desa.
Memajukkan kedua bibir, merasa kesal, Aira duduk dengan wajah muramnya.
"Sayang, kamu ini kenapa sih. Aku perhatiin wajah kamu bete gitu?"
Pertanyaan Edric membuat Aira menjawab," lagian ngapain sih kamu bawa aku ke sini, kan kamu tahu sendiri aku tidak tahu cara makanya!"
Aira tetap menjaga Erlangga dengan baik, membuat Edric selalu tertawa mendengar tingkah konyol istrinya, apalagi saat berucap.
"Aira memangnya kamu mau dibawa ke mana? Sampai menolak aku ajak ke sini?" tanya Edric pada Aira, dengan harapan jika istrinya tidak meminta hal aneh.
"Ya, ke warteg gitu. Atau ke tempat pinggir jalan, atau ke warung sate!" jawab Aira pada sang suami.
Tawa kini dilayangkan kembali oleh Edric, Aira melihat suaminya tertawa lagi, membuat ia semakin kesal.
"Kamu ini aneh-aneh aja, mana ada di sini makanan di pinggir jalan," ucap Edric, kepada istrinya.
menggunakan sendok dan garpu seperti cara orang lain.
Edric menatap sang istri tentulah mengerti keadaannya sekarang, di mana ia masih menggendong Erlangga.
"Sudah cepat taruh Erlangga di sana, biar nanti kamu bisa makan."
Aira mulai menaruh Erlangga untuk tidur di tempat bayi, terlihat bayi mungil itu merasa nyaman. Sedangkan Aira berusaha untuk menyesuaikan diri, belajar memakan makanan restoran dengan sendok dan juga garpu.
"Sayang, bukannya kemarin aku ajarkan kamu cara makan makanan orang kaya?"
"Ya, tetap saja aku belum mengerti 100% cara seperti itu, bagi aku yang memang tinggal di desa lebih enak makan menggunakan tangan!"
Edric menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang tak pernah berubah," Ya sudah kalau kamu memang bisanya pakai tangan pakai tangan saja," ucap Edric memperbolehkan istrinya memakai cara makan seperti apapun yang disukainya.
__ADS_1
"Benaran, sayang. Tapi Kamu memangnya tidak akan malu pada orang-orang di sini. Kamu itu orang terpandang loh, masa ia istrinya kampungan."
Aira seakan sok peduli terhadap suaminya, walau dalam kenyataannya ia sangat sebal sekali, karena dibawa ke restoran mewah dengan cara makan yang begitu ribet.
Perlahan demi perlahan Aira mulai membiasakan diri untuk makan seperti orang-orang kalangan atas, ia harus terbiasa dan melupakan cara makannya yang selalu memakai tangan.
Aira kini mulai bisa, Edric melihat Aira merasa kasihan, raut wajah Aira seperti orang yang tertekan.
"Sayang, jika kamu memang tak suka makan menggunakan sendok dan pisau, kamu pakai tanganmu sendiri saja. Biarkan saja apa kata orang, lakukan apapun dengan diri kamu sendiri, tanpa tekanan ataupun perkataan orang lain. Jika kamu melakukan dengan cara orang lain, kamu tidak akan bahagia, kecuali kamu melakukan semuanya dengan keinginan kamu, dan pikiran kamu juga akan ikut bahagia," nasehat terlontar dari mulut Edric, tidak membuat Aira berubah.
Ia berusaha mengikuti gaya-gaya orang lain ketika makan, walaupun terasa sulit, tapi tak membuat Aira pantang menyerah, dia mencoba dan terus mencoba hingga pada akhirnya dia bisa memperlihatkan jika dirinya pantas bersanding dengan Edric.
"Kamu tenang saja, sayang aku akan berusaha. "
Kegigihanya itu, membuat Edric kagum dan senang. "Tuhkan apa aku bilang, seperti ini pasti aku bisa ."
"Iya deh, aku percaya."
Tiba tiba saja sosok seorang wanita datang menghampiri kedua Insan yang tengah menikmati makanan di atas meja, menghampiri Aira dan juga Edric.
"Halo, Edric."
Sapaan wanita itu membuat Edric terkejut, bagaimana bisa ia tengah menikmati makanan ada sosok wanita yang sempat menyatakan cinta kepadanya.
Aira seperti kenal dengan wanita itu. " Bu Dosen sedang apa di sini?" Pertanyaan Edric tentu saja membuat Aira menatap tajam ke arah dosen itu.
"Oh jadi dia dosen di kampus suamiku." Aira bergumam dalam hati. Menatap ke arah kepala hingga ujung kaki, wanita yang sangat seksi dan menggoda.
Tapi Edric melihat dosennya tanpa biasa saja, apalagi dengan pakaian minim seperti yang diperlihatkan dosen itu.
"Kebetulan saya datang sendiri ke sini, seperti biasa menikmati makanan di restoran ini!" jawab Siska sang dosen dengan begitu simpel.
Aira kini mempersilahkan dosen di kampus suaminya, untuk duduk bersamaan.
__ADS_1
Ada rasa kesal dalam diri Aira, kenapa bisa dosen Edric, dengan tidak sopannya mendekati Edric dengan begitu dekat, padahal meja di restoran itu sangatlah besar.
"Hem." Aira mencoba mengeluarkan suara, memberi kode sang dosen agar tidak terlalu dekat dengan suaminya, Siska malah semakin mendekat, karena rasa rindunya yang tak tertahankan.