Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 85 Masa lalu Dwinda 10


__ADS_3

Terlihat Edric masih cuek, melihat kedatangan Dwinda. Ia dengan fokusnya membaca buku tanpa peduli sang dokter yang semakin ke arahnya.


Sang pemilik bola mata coklat harus berusaha mengambil hati Edric, agar ia bisa menjadi istri sang CEO.


"Saya dokter yang diperintahkan papah anda." Begitu sopannya Dwinda dihadapan Edric.


Lelaki berumur dua puluh lima tahun itu, tetap saja membaca buku, tak mempedulikan perkataan Dwinda.


"Apa mau dimulai sekarang terapinya?" tanya Dwinda, tetap menjadi seorang dokter profesional. Walau dalam ke pura-puraan.


Dwinda yang terus saja mengoceh dari tadi, benar-benar tak dianggap oleh Edric, lelaki yang mempunyai bola mata biru itu malah menutup buku, pergi melewati sang dokter.


Melihat tingkah Edric, Dwinda berusaha untuk tetap sabar, mengelus dada.


"Edric, apa bisa kita mulai sekarang?"


Lelaki pemilik bola mata biru itu tetap saja diam, mengabaikan ucapan Dwinda.


Emosi semakin meluap, Dwinda tak bisa mengendalikan diri, ingin rasanya ia mencekik leher Edric dan membuat anak CEO Ellad itu mati di tanganya.


Namun, semua itu tak mungkin dilakukan oleh Dwinda. Yang ada dia malah masuk penjara secara mendadak.


"Apa rencana kamu selanjutnya? Setelah membunuh ibuku?"


Dwinda semakin murka di buat Edric yang malah membahas kematian ibunya, " apa tidak ada lagi pertanyaan selain menuduhku seperti yang kamu ucapkan!" Jawaban Dwinda malah membuat lelaki pemilik bola mata coklat itu tersenyum sinis.


"Waw, hebatnya kamu menyebunyikan kepalsuanmu dan juga kejahatanmu itu." Edric tetap saja menyalahkan Dwinda dengan kematian ibunya.


Dwinda berusaha mencari ide, agar anak semata wayang Maya itu tidak terus mencurigai dirinya dan menyalahkan atas kematian Maya.


"Jika anda ingin menyalahkan saya terus-menerus, sebaiknya saya pergi dari sini. Maaf jika menganggu waktu anda," ucap Dwinda mengemasi barang barang untuk terapi.


Edric tak mempedulikan ucapan Dwinda, ia menjalankan kursi rodanya ke arah pintu kamar mempersilahkan Dwinda pergi keluar kamarnya.


Dwinda dari tadi terus menahan emosi, ia seperti dipermalukan oleh Edric, melangkah keluar dari kamar.


Brukkk ....


Pintu kamar dibanting dengan begitu keras, membuat Dwinda merasa semakin malu akan dirinya sendiri.


Pelayan rumah membawakan minuman untuk Dwinda, kini terlihat heran. " kenapa Dokter sudah keluar dari kamar Tuan Edric bukannya .... "

__ADS_1


Belum perkataan sang pelayan terucap semuanya, Dwinda memberikan obat pada pelayan itu.


"Sepertinya Edric tak mau diganggu, jadi saya berikan saja ini pada kamu. Tolong larutkan obat ini pada minuman Edric setiap dia mau tidur. "


Maria yang memang mempercayai Dwinda sebagai dokter, menerima obat. Dan akan menuruti pesan dari Dwinda.


"Terima kasih. Ya."


"Iya, dok."


Dwinda pulang dengan raut wajah bahagia, walau Edric tak menerima suntikan obat dari Dwinda. Masih ada obat yang akan diminum Edric, dimana Dwinda memerintahkan pada pelayan di rumah Ellad.


"Selagi mereka percaya denganku, akan aku manfaatkan semuanya."


Dwinda kini berpapasan dengan Ellad, padahal Ellad tadi berencana untuk pergi ke bandara. Karena ia lupa membawa dokumen pentingnya dengan terpaksa Ellad kembali lagi ke rumah.


Saat keluar dari dalam mobil, Ellad mulai menyapa Dwinda." Loh, kamu sudah pulang lagi?" tanya Ellad pada Dwinda.


Dwinda tetap menampilkan senyumannya di depan Ellad tak memperlihatkan kekecewaannya.


"Sepertinya Edric belum siap dengan metode pengobatan saya."


Tok .... Tok ....


Ellad mengetuk pintu kamar anak dengan begitu keras, beberapa kali. Sampai Edric merasa terganggu dan membuka perlahan pintu kamarnya.


"Ada apa Daddy?"


"Kenapa kamu tidak mau dirawat oleh Dokter Dwinda?"


Edric membuang wajah di hadapan sang ayah, setelah mendengar nama dokter yang sangat ia benci.


"Daddy sudahlah, aku sekarang sedang malas!"


Jawaban Edric, membuat sang ayah semakin murka.


"Kamu ini bagaimana sih, kamu ini tidak kasihan pada Daddy, siapa nanti yang memegang saham perusaahan Daddy ketika Daddy mati."


Edric, hanya diam saat sang ayah menggerutu kesal pada dirinya, ia tak peduli akan ucapan yang terlontar dari mulut sang ayah. Edric lebih banyak menghabiskan waktu mencari tahu tentang cara kerja sebagai Seorang pebisnis dalam buku yang sengaja ia pinjam di perpustakaan.


"Edric juga tahu. Edric ingin di rawat soal seorang dokter di luar negeri bukan Dokter seperti dia."

__ADS_1


Dari awal Edric sudah mencurigai gerak-gerik wanita yang menjadi sahabat ibunya, ya tak pernah merespon ataupun terlalu dekat dengan wanita itu.


"Edric, Sudahlah jangan banyak maunya kamu ini, Dadyy ini sudah berusaha semaksimal mungkin membayar mahal dokter yang menjadi sahabat ibu kamu, janganlah kamu ingin diperiksa di luar negeri. Percuma saja nantinya Kamu tidak akan ada yang menjaga di sana, dan Dedyy akan sibuk dengan pekerjaan Dedyy."


Edric hanya bisa menundukkan wajah, setelah mendengar perkataan sang ayah yang terdengar menyakitkan hati.


Tak ada keinginan Edric untuk di penuhi sang ayah, Edric seakan tertekan. Dan ia hanya bisa terdiam.


"Besok ayah tidak mau tahu lagi, kamu harus mau dirawat oleh Dwinda. Jika tidak sebaiknya kamu pergi dari rumah ini."


Siapa yang tidak sakit hati dengan perkataan Ellad, ia begitu kejam dan tak memikirkan perasaan anaknya sendiri.


Yang ia pikirkan dirinya sendiri, Ellad terlalu egois.


Dwinda mulai menaiki mobil, ia pergi dengan perasaan penuh kebahagiaan.


Tak susah payah, membuat Edric bisa menjadi pasiennya.


"Sepertinya anak itu sedang mendapatkan teguran keras dari sang ayah. Setelah ini pastinya dia mau aku trapyy, kalau ia sepertinya semakin seru dan kini dunia berpihak padaku."


Dwinda tertawa terbahak bahak di dalam mobil taksi. Terlihat sekali seorang sopir, mulai menganggapnya gila.


"Nona, apa nona butuh obat."


Dwinda yang mendengar sang sopir berkata seperti itu langsung membulatkan kedua mata, menatap tajam kearah sang sopir.


"Maksud kamu apa, kamu anggap aku ini gila. Kamu tidak tahu ya. Aku ini dokter. "


"Maaf Nona, soalnya dari tadi Nona tertawa sendiri, dan berbicara sendiri. Saya mengira Nona gila. "


"Kurang ajar kamu."


"Maaf Nona."


Dwinda yang ingin memukul sang sopir, kini dikejutkan dengan suara ponselnya yang berdering. Dimana Ellad menelepon.


"Halo, Pak Ellad ada apa?" tanya Dwinda berusaha bersikap lemah lembut, seakan dia sedang merasa tak dihargai.


"Maafkan atas perlakuan anak saya, saya sudah menasehatinya, besok anda bisa datang lagi Ke rumah untuk pengobatan Edric!" jawab Ellad, berusaha merendahkan hati, agar Dwinda tidak marah akan sifat anaknya yang keras kepala.


"Tak apa apa pak, saya memakluminya, " ucap Dwinda dalam kepura puraannya.

__ADS_1


__ADS_2