
"Sayang kamu habis makan apa kok, sampai seperti ini?" tanya Aira memukul bahu suaminya, memang saat Aira datang Edric tengah meminum air putih sampai ia menela ludah dan terjadi rasa sakit pada tenggorok suaminya.
"Huuk, cuman minum air putih saja. Pas kamu datang saat itulah aku terpesona Aira, bagaimana bisa aku tahan akan kecantikkanmu ini," rayu Edric, membuat Aira meraih handuk, dan menempelkan pada wajah suaminya.
"Gombal terus, " cetus Aira terlihat kelelahan karena melayani suaminya sendiri, Aira semakin padai untuk memainkan perasnya di atas sang suami.
"Marah?" tanya Edric merayu. Lelaki pemilik bola mata coklat itu sudah tahu dan menyadari jika sang istri kelelahan karena melayaninya.
Ada rasa malu karena memang banyak bermain itu istrinya sendiri, sedangkan Edric hanya diam dan biarkan aksi Aira menylesaikan tugasya dengan penuh perjuangan. Hingga menghasilkan hasil yang luar biasa, kini ada dalam perut Aira.
"Nggak! " jawab Aira begitu singkat padat dan jelas.
"Gitu aja marah, nanti kecantikkannya hilang loh," ucap Edric mencuil dagu istrinya yang mengemaskan.
Aira mulai menyuruh suaminya untuk cepat cepat membersihkan diri, karena Edric tubuh suaminya penuh dengan keringat.
"Cepat mandi sana, bau tahu," printah Aira pada sang suami.
Edric malah memajukkan bibirnya, membuat Aira mendengus kesal. " Cium dulu."
"Ihk, nggak lah. Bau," balas Aira, Edric menarik tangan istrinya, sampai mencium pipi Aira.
Mulut Aira membulat, Edric memang keterlaluan, batang keras itu bangun lagi. Dengan terburu buru, Aira bangkit dan menyuruh suaminya untuk mandi.
Edric seperti anak kecil, menolak untuk mandi. Ia merengek dan berkata." Pengen di cun dulu."
Aira menggelangkan kepala melihat tingkah suaminya, ia mencubit hidung sang suami. Dan mencium bibir yang terlihat sedikit tebal itu.
"Dah." Ciuman sudah mendarat pada bibir Edric dimana lelaki itu berkata lagi," Jidatnya."
Aira menarik napas, kedua tangan memegang pipi mencium jidat suaminya. "Muach. Dah."
Saat itulah Edric pergi dengan hati senang dan perasaan gembira, karena mendapatkan ciuman dari sang istri. Perasaan tenang dan bahagia selalu membuat Edric bersemangat.
Aira yang melipatkan kedua tangan menatap ke arah suaminya sembari berkata," Edric, Edric. Mm."
__ADS_1
Wanita pemilik bola mata berwarna hitam, bulu mata lentik, kini duduk di atas sofa. Menyandarkan bahu pada sofa, ia melihat majala tergeletak di atas meja.
"Majala?"Aira meraih majala itu, melihat gambar dan juga bacaan.
" Menarik!" Ia lupa kemarin membeli majala itu dan menyimpannya di bawa meja begitu saja. Tanpa menyentuhnya lagi atau pun membaca.
Edric kini selesai mandi, ia datang dengan rambut basah, Aira yang melihat pemandangan suaminya itu, malah membuat kesal.
Wanita desa kini bangkit dari tempat duduknya, berjalan ke arah Edric, " kamu ini ya sayang, kalau habis mandi itu kebiasaan. "
Aira menarik kursi roda suaminya, menuju ke dekat sofa, menarik handuk dan mengeringkan rambut sang suami.
Alat pengering yang ia pakai, untung masi tergeletak di atas meja, mengambil, menyalakan alat itu. Dengan penuh cinta, Aira merapihkan rambut sang suami.
"Kalau habis mandi itu keringkan dulu rambutnya, jadi cipratan Airnya kemana mana." Mengerutu kesal pada suaminya sendiri.
Dengan telatennya sebagai seorang istri, Aira mengeringkan rambut suaminya yang basah. Perhatian Aira tiada duanya, ia selalu memberikan yang terbaik untuk suaminya.
Menjadikan seorang raja, melayaninya dengan baik. Begitupun Edric, selalu membuat Aira bagai seorang ratu.
"Oh ya, sayang. Kalau nanti keluar dari rumah atau di rumah ketika ada orang, pakaian kamu bisa sedikit tertutup tidak," ucap Edric pada sang pujaan hati.
"Bukan begitu, maksud aku. Kamu jangan terlihat seksi di depan orang, hanya aku saja yang melihat keseksian kamu. Bagaimana?" tanya Edric membuat Aira tersenyum tipis, Edric begitu peduli dan cinta pada istrinya.
Mengeringkan rambut selesai, Aira duduk si sofa dan berkata," pantas saja tadi aku melihat majalah ini sudah ada di atas meja. Padahal tadi aku menaruhnya di bawah meja, ternyata kamu sudah membaca isi majalah ini?"
Edric menganggukkan kepala, tersenyum tipis di hadapan istrinya," iya."
Aira senang jika Edric selalu menasehatinya dengan baik, pastinya Aira akan menuruti apa yang ia mau.
"Baiklah kalau begitu."
Edric tampak senang akan jawaban istrinya, sampai suara ponsel kini kembali menyala.
"Siapa ya. "
__ADS_1
Edric melihat nomor baru menghubunginya terus-menerus.
Aira kini menyuruh suaminya untuk segera mengangkat panggilan telepon.
"Sudah angkat saja, siapa tahu penting."
Mendengar perkataan istrinya, Edric langsung menurut ia mengangkat panggilan telepon yang terus menghubunginya.
"Halo, ini siapa ya."
Rendy sangat gembira, ketika panggilan teleponnya diangkat juga." Akhirnya kamu mengangkat panggilan telepon dari om."
Edric seakan tak asing dengan perkataan yang terlontar dari Edric. " halo, Edric. Apa kamu lupa dengan om."
Edric menatap ke arah istrinya, dengan posisi ponsel yang masih menempel pada telinga kanan Edric.
"Siapa ya?"
Edric takut salah menebak orang yang meneleponnya, maka dari itu ia mulai berkenalan dari awal lagi.
"Aku ayah dari dokter yang mengurus kamu!" balas Rendy.
"Oh, Om Rendy, Edric kira siapa, " ucap Edric. " Ada apa ya om?"
"Ada apa ya om menelepon Edric?"
Pertanyaan terus-menerus dilayangkan oleh Edric, Rendy yang belum menjawab, membuat ia berusaha mencari cela agar Edric tak bertanya lagi.
"Ngomong-ngomong, om ingin meminta bantuan kepada kamu, masalah Lucky!" jawab Rendy.
Sang pemilik bola mata biru itu, merasa aneh dengan jawaban yang terlontar dari mulut Rendy, "Ada apa ya, Om?"
Rendy langsung mengungkapkan semuanya, akan rasa kesal dan kesedihan yang menyelimuti hati, dengan perubahan anak pertamanya yang kini menjadi seorang wanita.
Rendy bingung menyembuhkan anak pertamanya itu dengan cara apa lagi, apalagi dirinya yang selalu disibukkan dengan pekerjaan. Hanya bisa mengandalkan orang lain.
__ADS_1
"Apa kamu bisa membantu Om akan masalah ini, Om benar-benar butuh bantuan kamu sekarang juga, Edric. Om ingin melihat anak pertama Om itu seperti Laki laki normal pada umumnya, tidak seperti sekarang, yang berpenampilan seperti wanita. Apa kalian bisa membantu merubah Rendy seperti semula?" tanya Rendy, dengan menyimpan banyak harapan, pada Edric dan istrinya.
" Masalah ini biar saya obrolkan dengan istri saya terlebih dahulu, karena mengubah seseorang itu bukanlah hal yang mudah, apalagi Lucky begitu persis seperti wanita pada umumnya, dalam gaya bicaranya dan juga kulit mulus Aira, wajah yang begitu terlihat seperti wanita cantik idaman para lelaki." ucap Edric, terlebih dahulu meminta izin kepada istrinya sebelum bertindak sendirian.