Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 44 Poto masa lalu.


__ADS_3

"Dwinda, ayolah kamu jangan marah seperti ini. Apa kamu tidak kasihan terhadap suamimu ini."


Dwinda mulai merebahkan tubuhnya, tak mempedulikan teriakan sang suami.


"Dwinda."


Beberapa kali Ellad, memanggil namanya. tetap saja Dwinda Masih pada tujuannya berusaha mendiamkan sang suami agar mau mengeluarkan Airanya dari rumah..


"Dwinda. Ayolah buka pintunya, kenapa kamu sampai seperti ini, memarahiku dan menyuruhku seenaknya?"


Sang pemilik bola mata coklat itu tetap saja tak menjawab perkataan Ellad, ia lebih nyaman diam dengan menikmati buku yang tengah dibaca.


Sudah habis kesadaran Ellad, ia hanya bisa pergi menuju ke ruang kerjanya kembali.


Hatinya kini rapuh, sudah menyesal memukul Edric.


Karena rasa penasaran, Ellad. Mulai mengecek semua di meja kantornya. Ia melihat berkas yang belum pernah ia lihat.


Seperti berkas bisnis dengan Pak Budiman, lelaki tua yang sudah ia buat menderita.


Berkas ini sudah lama terabaikan, karena bisnis dengan Pak Budiman di rasa tak akan membuahkan hasil untuknya. Maka ia mencabut semua investasi ke perusahaan Budimana, dulu ia mengambil keuntungan tanpa melihat rekan bisnisnya bangkrut.


Sampai dimana keluarga Budiman hancur dan Ellad tak mendengar kabarnya lagi.


"Ini berkas lama, tapi masih tersimpan rapi di sini. Mm, siapa yang menaruhnya."


Ellad melihat album poto, saat dirinya bersama rekan rekan bisnis sebayanya. Terlihat kebersamaan antara Ellad dan Maya begitu pun dengan keluarga Budiman yang begitu akrab bersamanya. Terlihat jelas kecerian ditampilkan Ellad dan keluarga Budiman.


Ellad melihat ada sosok anak kecil yang menjadi anak Budiman, ia seperti tak asing dengan wajah anak kecil itu, seperti percis dengan Istrinya Dwinda.


"Apa kebetulan sekali, biasanya kan wajah memang terkadang sama. Jadi tak heran."


Ellad kini membuang semua album poto yang ternyata ada di meja kerjanya.


"Ini almbum sampah semua, aku mengira pelayan di sini sudah membuang album poto tak berguna ini, nyatanya masih tersimpan."

__ADS_1


Lelaki tua berambut putih kini melemparkan berkas pada tong sampah, dengan sengajanya. Ia berusaha menenangkan fikiran. Mendengar kata kata yang keluar dari mulut Edric.


Jika Dwinda numpang tenar.


Menyenderkan badan pada kursi yang menemaninya selama di rumah, Ellad tak mengerti kenapa sang anak begitu membenci istrinya.


Padahal Dwinda wanita berhati lembut dan juga baik, mengacak rambut dengan kasar.


Ellad berusaha melupakan kejadian dimana ia memukul Edric dengan penuh kekesalan.


**********


Sedangkan Edric datang ke dalam kamar, dengan darah yang mengalir perlahan dari bibirnya yang terlihat sobek. Aira yang melihat sang suami terluka dengan cepat datang menghampiri Edric dengan berkata." Kenapa? Kok bibirnya bisa sampai berdarah seperti ini. Bukannya tadi baik-baik saja?"


Kepanikan mulai di perlihatkan Aira pada sang suami, dengan terburu buru tanpa memerintah sang pelayan di rumah. Aira kini mengambil air hangat untuk segera membersihkan darah dan juga mengompres pipi yang terlihat bengkak pada suaminya.


Dengan telatennya Aira perlahan-lahan, berusaha menyembuhkan pipi bengkak yang terlihat jelas oleh kedua matanya.


"Apa kamu bertengkar dengan ayah kamu sendiri?"


Edric memegang tangan Aira yang tengah menyembuhkan pipi bengkaknya." Terima kasih ya, sudah khawatir denganku."


kedua pipi Aira memerah, setelah mendengar kata terima kasih dari sang suami, tiba-tiba saja iya sedikit melemparkan handuk pada pipi Edric yang tengah diobati olehnya, bisa-bisanya bercanda di saat situasi tengah kesakitan.


"Aw, sakit."


Aira malah tertawa saat melihat suaminya meringis kesakitan, ia menjadi gemas dan ingin mencubit pipi bengkak Edric.


Di tengah kemesraan yang terjadi pada Aira dan Edric, Dwinda mengepalkan kedua tangan. Ia yang baru saja keluar lagi dari kamar tidur untuk mengambil barang.


"Sial, kemesraan. Kalian membuat aku cemburu."


Dwinda dengan tergesa gesa berjalan, walau dirinya masih merasakan pinggang yang begitu sakit.


"Sialan."

__ADS_1


Para pelayan yang melihat sang majikan marah-marah, membuat mereka begitu puas. Setidaknya kekesalan mereka terobati dengan Dwinda yang kesakitan dan berusaha berjalan. Maria mulai mengobrolkan hal yang penting kepada para sahabatnya tentang Aira.


"Aku ingin mengatakan hal yang penting kepada kalian. "


Para pelayan saling menatap satu sama lain, di jam malam ini mereka masih saja mengobrol karena memang jam pekerjaan sudah selesai.


"Aku ingin berbicara penting pada kalian semua di sini." Maria memulai obrolan.


Para pelayan lainnya, hanya mendengarkan apa yang akan dikatakan Maria.


"Apa yang ingin kamu katakan, Maria?" tanya Lina dan yang lainya.


Mereka seakan tak sabar ini segera mendengar apa yang akan dikatakan sahabatnya itu.


"Ini soal, Aira."


Mendengar kata Aira membuat para pelayan penasaran, karena sejatinya mereka begitu menyukai wanita desa yang sudah menikah dengan sang tuan muda.


Namun, karena perintah majikan yang menyuruhnya membuat Aira menderita tertentulah ada rasa keterpaksaan melakukan semuanya. Mereka merasa bersalah sekali ketika mengerjai Aira yang tak punya salah apa-apa.


"Jangan sampai Nyonya, menyuruh kita mengerjai Aira lagi. Rasanya aku tak tega sekali harus mengerjai Aira."


Maria yang mendengar keluhan Lina, ada rasa tak nyaman saat mengerjai Aira, kini tersenyum lebar pada para pelayan yang menjadi sahabatnya itu.


" Ini bukan soal mengajari Aira, tapi aku berharap kita semua ini bekerja sama dengan dia."


Mendengar hal yang dibicarakan Maria tentulah membuat para pelayan bingung, mereka saling menatap satu sama lain, ketika Maria memberikan usul yang belum sepenuhnya terungkap dari mulutnya.


" bekerja sama Bagaimana maksud kamu bukannya kita sekarang ada di pihak Nyonya Dwinda


Lina dan juga Ratna belum mengerti dengan obrolan yang kini dibicarakan oleh Maria, "kalian ini tenang saja, walau kita bekerja sama dengan Nyonya. Kita juga bisa menjadi sosok orang yang munafik di depan nyonya, aku maunya rencana untuk bisa bekerja sama dengan Aira berjalan lancar, di mana saat kita menyakiti Aira istri tuan muda, akan berusaha memperlihatkan akting kesakitan walau kenyataannya itu tidak sepenuhnya dialami Aira, dari sana kita bisa mengelabui Dwinda kalau sudah kita mengelabui Dwinda baru dari sana kita bisa menghancurkan Dwinda dan mengusir dia dari rumah ini, kalian tahu sendiri kan dia wanita jahat yang hanya ingin meluapkan napsunya. Kalau semua rencana berhasil kita tidak akan menerima perlakuan buruk lagi dari Nyony Dwinda."


"Meluapkan napsunya, bagaimana maksud kamu, Maria."


"Aku kan, sudah pernah cerita pada kalian. Jika Nyonya Dwinda itu seperti tertarik dengan Tuan Edric, sampai ia begitu benci terhadap Aira. Sepertinya itu alasan saat ini menyuruh kita mengusir Aira karena, Nyonya sangat menyukai tuan muda. "

__ADS_1


"Pantas saja saat melihat Aira dan juga Tuan Edric Nyonya terlihat begitu panas dan juga marah-marah tak jelas."


__ADS_2