Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 109 Seorang dokter, bernama Lilia


__ADS_3

Dengan terburu buru, Aira memakaikan pakaiannya, sedangkan Edric masih merasakan rasa kesal karena suara bel yang berbunyi pada rumahnya.


Menggepalkan kedua tangan, memegang erat selimut, merasakan betapa kesalnya Edric pada si pengganggu di siang bolong.


Aira pergi ke kamar mandi, untuk segera membersihkan diri. Terburu buru, ia memakai baju dan pergi membuka pintu rumah.


Perlahan Aira membuka pintu rumahnya, dia terkejut jika orang yang datang itu adalah seorang dokter berpakaian putih.


Aira mengira jika dokter itu adalah seorang laki-laki, kenyataannya dia seorang perempuan begitu cantik bertubuh tinggi dan juga berkulit putih.


"Apakah, Edric ada?"


Pertanyaan sang dokter membuat lamunan Aira membuyar, ia menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki penampilan dokter itu sungguh menggoda seorang lelaki.


Menarik napas mencoba mengeluarkan dengan begitu tenang, ada rasa cemburu dalam hati Aira. Ketika orang yang akan menangani suaminya adalah seorang dokter cantik berkulit putih dan juga bertumbuh tinggi.


"Silahkan masuk."


Aira mempersilahkan dokter itu untuk segera masuk, wanita muda berparas cantik mulai duduk di atas sofa. Ia manatap rumah yang terlihat sudah tua.


"Saya panggilkan dulu suami saya."


Dokter cantik itu mengganggukan kepala, senyum lebar memperlihatkan kecantikan yang sangat luar biasa.


Aira memegang wajahnya menatap sekilas ke arah cermin," apa aku cantik seperti dia?"


Tanya Aira pada dirinya sendiri, di mana sosok lelaki yang menjadi suaminya menghampiri Aira.


" Tidak ada yang bisa menandingi kecantikan kamu, Aira istriku."


Mendengar pujian dari Edric, tentulah membuat Aira tersenyum kecil. Kedua pipinya memerah merona," ada dokter yang mau menangani kamu. Di ruang tamu, kamu tahu sendirikan dokter itu cantik."


Senyuman itu kini hilang seketika, Aira malah menampilkan wajah cemberut. Edric yang tak tahu jika dokter panggilan ayahnya adalah seorang wanita.

__ADS_1


"Kenapa kamu kok cemberut gitu? Aku nggak tahu loh, kalau Daddy merekomendasikan seorang dokter aku tahu itu mungkin aku sudah menolak dari awal, kamu cemburu sayang, kalau cemburu, aku bisa menolak dia untuk tidak menanganiku akan kesembuhan kakiku ini?!" tanya Edric, Aira seakan berat sekali untuk tersenyum, apalagi memandangi wajah suaminya.


"Coba kamu lihat saja ke depan," cetus Aira. Siapa sangka setelah memiliki seorang Istri. Hidup Edric akan di penuhi dengan kecemburuan pada hati istrinya, apalagi sang pemilik bola mata biru itu memiliki wajah yang tampan dan juga bergelar sebagai CEO muda. Aira yang merasakan semua itu ketakutan, Edric akan pindah kelain hati.


"Sayang, kok kamu gitu sih." ucap Edric mendengar suara jutek istrinya.


Pastinya hidupnya akan dikelilingi oleh para wanita cantik, itulah yang ada dipikiran Aira sekarang. Sedangkan di pikiran Edric ingin sembuh dan membuat istrinya bahagia.


"Aku buatkan dulu minuman untuk tamu kamu."


Aira pergi begitu saja, tanpa melirik ke arah suaminya lagi.


Edric merasa kebingungan melihat tingkah istrinya yang polos dan juga melihat sisi kekanak-kanakannya masih ada dan melekat kuat.


CEO muda itu berusaha membenarkan kerah baju hasil pergelutannya dengan Aira yang tak beres, perlahan dia menggerakkan kursi rodanya untuk melihat ke ruang tamu. Siapa dokter wanita yang dimaksud Aira, tentulah membuat Edric penasaran.


Setelah Edric sampai di ruangan depan tamu rumahnya, betapa terkejutnya iya melihat sosok seorang wanita cantik berkulit putih dengan tubuhnya yang tinggi berdiri tersenyum dan menyambut kedatangan sang pemilik bola mata biru itu.


Edric melihat raut wajahnya wanita itu, seakan tak asing bagi dirinya, iya seperti kenal dengan wanita itu.


Perlahan Edric mulai mengingat-ingat wanita cantik yang datang ke rumahnya, dengan mengerakan kursi roda dan mendekat ke arah wanita berkulit putih dengan postur tubuhnya yang tinggi seperti model.


Setelah mendekat dan beberapa menit mengingat sang wanita cantik, Edric tertawa dan menghampiri wanita berkulit putih itu.


"Lilia. Apa itu kamu?" tanya Edric menampilkan senyumannya yang lebar, Lilia adalah sahabat masa kecilnya.


Wanita cantik itu menganggukkan kepala dan menjawab," ya aku Lilia, teman masa kecil kamu ini. Oh ya, apa kabar Edric.


Ada rasa tak menyangka pada diri Edric, memandangi teman masi kecilnya yang sudah bertumbuh dewasa dan mempunyai paras cantik.


Tidak seperti dulu, begitu kumel dan dekil.


"Loh kamu malah memandangiku sampai sebegitunya, kamu heran kan dengan perubahanku." Lilia mendorong kepala Edric, ia memegang pipi Lilia.

__ADS_1


"Aku masih tak menyangka. Jika kamu datang ke sini, padahal kita sudah lama tidak bertemu, dan sekarang kita bertemu lagi di kampung halaman kedua orang tuanku. Oh ya, jadi profesi kamu sebagai dokter setelah sekian lama kita tidak bertemu?" Lilia menampar wajah Edric.


Plakk ...." Ini hasil oprasian jangan sembarang di sentu."


Lilia walau cantik ia begitu tegas, apalagi pada Edric.


"Aku menjadi seorang dokter, karena melihat keahlian ibu kamu, aku suka ke sukses ibu kamu yang menjadi seorang dokter."


"Oh jadi karena itu. Tapi."


Edric mencoba memotong pembicaraan ya sendiri.


"Sudahlah. Jangan pernah membalas lagi Mommy ku, dia sudah tenang di alam sana. Jadi Ayah merekomendasikan kamu untuk menyembuhkan aku dari kelumpuhanku ini?" tanya Edric.


"Sepertinya tidak, hanya kebetulan saja." persahabatan Lilia dan juga Edric sangatlah dekat sampai mereka tertawa terbahak-bahak, di mana tawa mereka terdengar oleh sang istri di dapur.


Aira tengah membuatkan sebuah minuman segar untuk sang tamu, sebenarnya ada rasa kesal karena mendengar tawa Edric yang begitu renyah bersama wanita lain.


Setelah selesai membuatkan minuman, Aira mencoba berjalan untuk mengantarkan Minuman itu ke tamu yang datang.


Aira tidak suka dengan wanita cantik yang menjadi dokter untuk suaminya, dia merasa cemburu dan tak sanggup ketika dalam pengobatan wanita itu dekat bersama Edric.


Namun harus bagaimana lagi. Demi kesembuhan Edric, Aira harus bisa membuang pikiran negatifnya, ia berharap jika Dokter wanita itu tidak sama seperti Dwinda yang ingin merebut hati suaminya.


Setelah sampai di ruang tamu, Aira berusaha menahan rasa cemburunya itu, dia memberanikan diri berjalan untuk memberikan air minum kepada tamunya itu.


Edric menyadari kedatangan sang istri, dia menjalankan kursi rodanya memegang tangan istrinya untuk berkenalan dengan Lilia.


"Sayang, ternyata dokter ini adalah sahabatku, kenalkan namanya Lilia," ucap Edric. Aira mulai menyodorkan tangannya ke hadapan Lilia di mana wanita yang berpakaian dokter itu tersenyum kecil.


"Aira," balas Aira. Telihat tak suka dengan keramahan Lilia yang terlalu menonjolkan diri di hadapan suaminya.


"Ini istri kamu, dia cantik dan masih muda," Lilia memperlihatkan kedewasaannya sebagai seorang dokter. Tetap fropesional.

__ADS_1


Edric mulai mempersilahkan Lilia untuk duduk kembali, sedangkan Aira masih menatap tajam wanita yang direkomendasikan Ayah mertuanya itu.


Edric yang melihat istrinya masih berdiri, kini menarik tangan Aira untuk segera duduk dan membicarakan pengobatan apa saja yang akan dilakukan Lilia.


__ADS_2