
"Masa dia benc*ng sih Dad, itu kan tidak mungkin. Dia itu cantik sekali, tubuhnya pun bohay," ucap Aira, dalam sambungan telepon, sama ayah yang mendengar perkataan menantunya. Kini membalas," ya sudah, biar Daddy nanti telepon sahabat Daddy dulu ya."
Aira sedikit bernapas lega, jika mertuanya itu berpihak kepadanya," ya Daddy."
Sambungan telepon pun dimatikan sebelah, Ellad mulai menelepon sahabatnya itu.
"Kenapa bisa dokternya berubah menjadi wanita ya, ini kan aneh," gumam hati Ellad, lelaki berambut putih itu kini menatap layar ponsel. Mencari nomor ponsel sahabatnya.
Dreet ....
Akhirnya nomor ponsel sahabatnya itu aktif, Ellad bisa mengatakan yang sejujurnya kepada sahabatnya berada di Amerika.
"Halo, Ellad. Apa kabar?"
Tanpa basa basi Ellad menanyakan kepada sahabatnya itu tentang seorang dokter. Yang akan menangani kelumpuhan Edric.
"Oh ya, kabarku baik. Rendy, aku mau bertanya pada kamu!?" Ellad langsung bertanya begitu saja, tanpa menanyakan kabar sahabatnya.
"Kamu kenapa, seperti tak karuan begitu, mau tanya apa?" Rendy, selalu menampilkan sifat ramahnya.
"kemarin bukannya aku suruh kamu, agar menangani anakku dengan dokter laki-laki, kata kamu ke tiga anakmu laki-laki semua, tapi kenapa saat datang ke rumah, menantuku berkata bahwa dokter itu adalah seorang wanita?! Yang benar saja Rendy." ucap Ellad, ia penasaran dengan jawaban sahabatnya itu.
Karena tak mungkin Ellad mempekerjakan seorang wanita untuk mengobati anaknya, dari kejadian Dwinda kemarin, membuat ia cukup trauma berat. Sekarang ia tak mau membuat rumah tangga anaknya regang karena ada satu wanita.
Rendy malah sedikit terdengar bersedih, saat Ellad berkata seperti itu," maafkan aku Ellad, anakku memang laki laki, tapi karena ketidak tahuanku ia merubah dirinya sebagai seorang wanita. Nama wanita itu sebenarnya adalah Lucky, dia berjenis kelamin laki laki. Karena obsesi menjadi seorang wanita tak bisa aku tahan dan kendalikan. Lucky sudah beberapa kali oprasi, hingga ia berhasil menyerupai seorang wanita cantik yang jelita."
__ADS_1
Ellad tak menyangka jika nasib anak Reddy sungguh menyedihkan, ia merasa tak enak hati.
"Maafkan aku, sudah lancang sedikit memarahi kamu, Rendy. Nasib kita memang berbeda begitu masalah yang kita hadapi." Ellad berusaha, menghibur sang sahabat, ia merasa bersalah atas pertanyaannya sendiri.
Terdengar suara dari sambungan telepon yang masih terhubung antara kedua sahabatnya itu, Rendy menarik napas mengeluarkan secara perlahan, terdengar oleh Ellad, jika sahabatnya itu menahan tangis.
"Ya sudah, kalau begitu. Aku akhiri saja sambungan telepon ini." ucap Ellad.
Namun Rendy kini menegarkan hati, dan menghentikan sahabatnya itu agar tidak sambungan telepon yang masih terhubung dengannya," tak perlu kamu matikan panggilan telepon ini, aku yang harusnya meminta maaf kepada kamu. Karena tidak mengatakan yang sesungguhnya, membuat keluarga kamu menjadi kaget."
Ellad hanya bisa mendengarkan perkataan sahabatnya itu, ia berusaha membuang rasa egonya agar tidak memarahi sang sahabat.
Rendy kini berucap kembali," Kalau kamu mau cancel anakku tidak apa-apa, aku nanti akan memberikan dokter yang lebih baik dari anakku yang menjadi seorang b*ncong itu."
"Mm, baiklah. Kalau kamu masih menerima anakku untuk bekerja menjadi seorang dokter di rumahmu. Aku juga berharap, anakku bisa sadar bahwa dia itu adalah laki laki sepenuhnya, karena sebagai seorang ayah, melihat anak laki lakinya berubah menjadi seorang wanita. Aku merasa gagal menjadi seorang ayah."
Rendy terdengar sedikit mengeluarkan unek uneknya karena perubahan sang anak. Ia selalu berharap jika ada keajaiban yang datang pada Lucky, agar dia sadar. Bahwa menjadi lelaki seutuhnya adalah hal yang indah di berikan Tuhan sesungguhnya.
Ellad menjadi sosok lelaki yang cengeng, ketika mendengar curhatan dari sahabatnya itu. Ternyata bukan dirinya saja yang mempunyai masalah, tapi sahabatnya juga mempunyai banyak masalah. Yang belum teratasi sampai sekarang.
Apalagi menyangkut seorang anak, berubah menjadi sosok seorang wanita cantik manis jelita, seperti yang dilihat dari ponsel Ellad sendiri.
"Sebagai seorang ayah kamu harus tetap, itulah ujian hidup. Aku yakin Lucky anakmu akan sadar, Iya mau mendengarkan perkataan ayahnya. Walau itu tidak butuh waktu sebentar," Ellad berusaha menasehati sahabatnya itu agar tidak menjadi lemah.
Jelas dalam kondisi mempunyai banyak masalah, semua orang akan menjadi lemah dan tak berdaya. Mencari jalan keluar akan terasa sulit, apalagi tanpa seorang pendukung dari keluarga ataupun orang yang dicinta.
__ADS_1
Rendy mengusap perlahan air matanya, Iya kini merasa bersemangat, bisa merubah anak laki-lakinya, agar menjadi seorang lelaki seutuhnya dan bisa menikah mempunyai seorang anak hidup bahagia.
"Terima kasih, Ellad. Kamu memang sahabatku yang terbaik, Aku tidak akan lemah dan kalah dengan masalah begitupun keadaan yang menimpaku saat ini. Aku akan bangkit, merubah anak membuat dia menjadi lelaki seutuhnya."
Setelah mendengar Rendy berkata seperti itu, Ellad merasa bangga jika sahabatnya itu tidak akan kalah dengan masalah.
Percakapan mereka mulai usai, ketika DWinda memanggil namanya. Dengan terpaksa Ellad mematikan sambungan, berpamitan kepada sahabatnya itu.
Ellad tak mengerti dengan Dwinda, dia selalu berteriak meraung seperti mempunyai gangguan jiwa.
"Ada apa Dwinda?"
"Kenapa kamu tidak menjawab perkataanku, mengangkat panggilan telepon orang lain, kamu menghargaiku sebagai seorang istri!"
Tumben sekali perkataan manis itu terlontar dari mulut istrinya, di mana lelaki berambut putih itu hanya tersenyum sini. Ia sudah tak bisa terpanah lagi akan rayuan dan juga rengekan dari istrinya itu.
"Untuk apa aku menjawab perkataanmu lagi, sudah jelas semuanya. Jadi sekarang terserah kamu mau bagaimana pun di dalam penjara ini, kamu sudah bukan tanggung jawabku lagi. Kamu saat ini juga aku talak. Oh ya, untuk surat-surat pengadilan semua akan aku selesaikan sendiri. Jadi kamu jangan kuatir, dan satu lagi untuk harta gono gini tidak ada sebagian untuk kamu menikmatinya, karena wanita semacam kamu itu lebih pantas menjadi seorang wanita miskin."
Ellad ingin memberi pelajaran yang begitu kejam terhadap istrinya, Ellad sudah terlanjur sakit hati. Dan tak mau lagi, terjerumus akan masalah yang ia hadapi.
Ellad mengembalikan badan, untuk segera pergi dari dalam penjara. Karena setiap hari ia selalu menengok istrinya itu, apa jeda sedikitpun.
Namun tetap saja kedatangan lelaki berambut putih itu seakan tak dihargai oleh Dwinda, wanita pemilik bola coklat itu hanya manis ketika menginginkan sesuatu kepada Ellad.
"Ellad, jangan bercanda kamu. Kamu tidak berhak melakukan semua itu," teriak Dwinda. Para polisi mulai menenangkan tahanan itu.
__ADS_1