
Di dalam perjalanan menuju hotel Edric mulai menjalankan kursi rodanya lebih cepat, Aira terlihat tak bersemangat saat itu, ia mulai menarik lagi tangan sang istri.
"Kenapa jalannya cepat sekali, wajah kamu terlihat cemberut terus dari tadi. Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Edric, memperlihatkan wajah kuatirnya pada sang istri.
Edric tak pernah marah pada Aira, ia selalu bersikap sabar. Karena memaklumi usia istrinya yang baru mengijak umur sebilan belas tahun, Aira masih labil labilnya, kadang bad mood. Kadang ceria.
Aira menundukkan wajah, ia belum memperlihatkan sikap dewasa seperti wanita yang sudah menikah pada umumnya.
Aira cenderung seperti anak-anak, membuat Edric semakin suka dan cinta. Entah kelebihan apa yang disukai Edric pada istrinya itu, dia selalu mengalah dan bersikap dewasa.
"Aira, ayolah kamu jangan menampilkan wajah cemberutmu itu, semakin kamu cemberut dan semakin kegemasanmu itu terlihat oleh kedua mata. Aku ingin sekali malahap kamu sekarang juga, " ucap Edric dalam hati. Iya tak berani mengungkapkan keinginannya saat itu, ia takut jika Aira sedang kelelahan.
"Kamu marah tidak kalau aku berkata jujur?" Pertanyaan Aira membuat Edric mengerutkan dahi." Marah, marah untuk apa! Memangnya kamu mau berkata apa?"
Edric penasaran dengan istrinya, entah apa yang akan Aira katakan kepada Edric, sampai wanita Desa itu takut jika dirinya marah.
"Hey, untuk apa aku memarahimu kamu, itu rasanya tak mungkin. Apapun yang kamu katakan tentunya aku tidak akan marah, ayo katakanlah, Aira?"
Edric tak sabar ingin mendengar jawaban dari istrinya." Ayo katakan."
Aira mulai membisikkan suatu perkataan pada suaminya," sebaiknya kita berbicara di dalam kamar saja."
Edric mulai mengganggukan kepala menuruti apa yang dikatakan istrinya, mereka kini berjalan menuju ke dalam hotel.
Hotel yang mereka tempati ternyata sudah dipesan lebih awal oleh ayahnya, tinggal masuk ke ruangan yang sudah tersedia oleh sang ayah.
Perjalanan menuju kota Edric kebandara cukup lumayan jauh, maka dari itu mereka di suruh untuk beristirahat dulu sebelum menaiki pesawat.
Setelah sampai ke dalam kamar, Aira masuk dengan rasa lelahnya, dia duduk di atas kasur. Merasakan betapa empuknya kasur yang ia tiduri.
Kedua mata mulai merasakan ketidak dayaan, yang tadinya ingin menghindar, dengan berusaha mengulur waktu Aira malah merasa kelelahan dan tertidur begitu saja.
Edric melihat pemandangan itu sangat mengasyikkan, Aira tak sadar jika suaminya mulai beraksi.
Ia lupa memberitahu perkataannya saat tadi di luar hotel, sampai dimana sentuhan manja dari Edric terjadi.
__ADS_1
Apakah bisa Aira menghindar, setelah Edric memberikan pemanasan agar sang istri tenang dan tak merasa kaget.
Di ruangan hotel itu sudah disedikan aroma wangi, agar setiap orang yang tertidur di hotel itu merasakan tidur nyenyak.
Apalagi Aira yang sudah merasa kelelahan, ketika terbius akan aroma harum dalam ruangan kamarnya.
Ia tenang dan bisa terbawa akan alam mimpi.
Edric mulai merasakan sensasi pada dirinya, ia berusaha membuat Aira bangkit dalam gelora asmara yang di inginkan Edric.
Sentuhan Edric, mampu membuat Aira tersenyum senyum, dengan kedua mata yang menutup.
Padahal saat di pusat perbelanjaan Aira begitu ketakutan dan tak berselera, karena takut merasa kelelahan.
Tapi nyatanya setelah terpancing, Aira kini merasakan sesuatu begitu membuat dirinya tak bisa menolak.
Edric menang, wanita kalau belum digoda pasti menolak. Tapi kalau sudah terpancing, pastinya dia mengiginkannya lagi dan lagi.
Aroma wanginya lilin terapy, membuat mereka malah semakin bersemangat, apalagi Edric yang sudah menahannya dari tadi. Bagitu terlihat beringas, walau dalam ke adaan lumpuh.
Apalagi nanti saat kelumpuhanya sembuh.
Tersenyum lebar.
AC yang menyala tetap saja, membuat kedua insan itu berkeringat. Padahal tadi mereka jelas kedinginan, tapi setelah melalukan ritual suami istri semua badan di penuhi keringat.
Aira terbangun, tak menyangka akan melakukan hal yang malas ia lakukan karena tubuhnya tak memungkinkan, tapi saat sentuhan itu terjadi. Aira malah bersemangat sekali, seakan tak ada jeda baginya.
Ponsel berbunyi, Pak Hasan menelepon.
Edric langsung mengangkat panggilan telepon dari sopirnya.
"Halo, Pak Hasan ada apa?"
Edric yang mulai bersiap-siap untuk segera mandi, karena tak nyaman dengan keringatnya.
__ADS_1
"Tuan, satu jam lagi keberangkatan pesawat, tuan sudah harus harus berada di bandara sekarang juga," ucap Pak Hasan yang ternyata berada di luar hotel.
Karena terlalu menikmati Gelora Asmara dengan istrinya, Edric lupa jika ya harus segera berangkat ke luar negeri.
Lelaki pemilik bola mata biru itu, memandangi wajah istrinya yang terlihat kelelahan. Ia merasa tak tega jika harus membangunkan istrinya, karena kedua matanya terasa begitu berat untuk di buka, membuat Aira malah mengorok.
"Ya elah, ngorok lagi. Gimana baguninnya, kasihan sekali." Ucap pelan Edric yang penuh dengan perhatian.
"Tuan, tuan."
Suara sang sopir ternyata masih terdengar pada sambungan telepon, Edric lupa mematikan sambungan telepon dengan sopirnya.
"Gimana tuan, apa tuan dan Nyonya sudah siap siapa?" tanya sang sopir.
"Kamu tenang saja, dalam waktu 10 menit saya akan keluar dari hotel ini!" jawab Edric. Sembari mencubit kedua pipi istrinya, dimana Aira Begitu Tetap tenang dan menikmati tidurnya.
Sambungan telepon pun dimatikan sebelah pihak, waktunya Edric membangunkan kembali istrinya.
"Bangun Aira, waktunya kita berangkat ke bandara lagi."
Aira mulai duduk, tubuhnya terasa lemas. Iya menjawab perkataan suaminya, " tapi. Aku masih ngantuk."
Aira malah membaringkan lagi tubuhnya di atas kasur, kedua matanya terasa sangat berat sekali, ia tak sanggup untuk mandi ataupun pergi keluar hotel.
"Apa tidak bisa nanti?" tanya Aira, membuat Edric mengacak rambutnya.
"Ya ampun Aira. Mana mungkin bisa nanti, jelaskan keberangkatan kita itu sekarang, kenapa kamu malah tidur lagi ayo cepat bangun kita mandi dulu."
Printah Edric, Aira berusaha bangkit dari tidurnya, berjalan sempoyongan dengan rambut yang begitu berantakan dan baju yang sudah tidak beraturan.
Baru setengah langkah berjalan, Aira malah terduduk ia merasakan rasa lemas yang sangat luar biasa.
"Loh, malah. Duduk ayo mandi," ucap Edric, berusaha membantu istrinya untuk berdiri, walau iya dalam keadaan duduk di kursi roda.
"Ayolah Aira," ucap kembali Edric kepada istrinya, berharap Aira dengan sigap bangun dan mulai membersihkan badannya untuk segera pergi ke bandara.
__ADS_1
Karena Aira yang tak bangun juga, membuat Edric dengan terpaksa mengambil air dalam ember di kamar mandinya. Ia terpaksa mengguyurkan air itu pada badan istrinya, agar Aira bangkit dari rasa lelah dan juga rasa mengantuknya.
"Aduhh, sayang kamu kok tega sih, " gerutu Aira. Mulai berdiri dengan badan yang sudah basah.