Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 94 Dibawa paksa.


__ADS_3

Lisa sebenarnya ingin menyelamatkan sang sahabat, tapi apa daya dirinya sudah berada di bandara.


Ia juga takut akan kejaran polisi, dan introgasi mereka." Maafkan aku Dwinda."


Tangan bergetar sembari memegang ponsel, Lisa ingin sekali menelepon Dwinda, tapi karena rasa takutnya ia mengurungkan niat. "Jika aku menelepon Dwinda bisa gawat, pastinya polisi akan mengejarku ke sini, aku tidak mau jika aku masuk ke dalam penjara."


Lisa duduk menunggu pesawat yang akan mengantarkanya ke luar negri, ia memegang kepala dengan kedua tangan. Terlihat gelisa dan tak bisa berpikir jerni.


Satu tangan memegang bahunya, sampai dimana Lisa berucap." Jangan tangkap aku."


"Lisa, kamu kenapa?"


Kedua mata Lisa menatap pada sang sahabat, ialah Alex," Maaf Alex, aku tak fokus."


Alex mengereyitkan kedua alisnya, ia duduk di dekat Lisa dengan bertanya." Apa yang sedang kamu pikirkan Lisa, kenapa kamu ketakutan seperti itu."


Menelan ludah, Lisa tak mampu mengatakan kepada sahabatnya, bahwa dirinya kini menjadi seorang buronan polisi.


Jika ia mengatakan semua itu, Alex mungkin tidak akan membawanya pergi ke luar negeri, ya tak bisa lari ke mana-mana. Hanya bisa pasrah saat polisi menangkapnya.


"Aku tidak sedang memikirkan apa-apa, aku sudah tak sabar ingin melihat pemandangan pada pesawat."


Alex merasa heran dengan Lisa yang tak biasanya berkata seperti itu, perkataan konyol, membuat Alex tertawa kecil.


Lisa memandangi Alex, terlihat lesung pipinya ia tampilkan saat tertawa. "Kenapa kamu malah tertawa."


Lelaki dengan lesung pipinya itu, mencuil hidung Lisa dan berkata." habisnya kamu lucu sih."


Lisa tersenyum tipis, ada sesuatu yang ia rasakan saat ini. Sampai dimana kedua matanya membulat melihat sosok polisi berada di bandara.


Wanita itu bersembunyi dibalik jeket Alex, " kamu ini kenapa Lisa?"


Lisa menyipitkan kedua matanya, ia ketakutan sekali. Alex memegang pipi camby sahabatnya itu, " kamu ini kenapa?"


Bibir tipis Lisa ia tampilkan di depan Alex, membuat Alex tertawa pelan, " apaan sih. Nggak jelas kamu ini."


Alex berdiri, waktunya mereka menaiki pesawat.


Lisa sedikit bernapas lega, perasaannya kini terasa tenang, saat Alex mengajaknya untuk masuk ke dalam pesawat.


Mereka mulai duduk dengan rasa tenang. Apalagi Lisa bisa tertidur pulas dari kejaran polisi.

__ADS_1


*********


Sedangkan di rumah Ellad, Edric melihat Dwinda, memarahi satpam.


"Dad, sepertinya Dwinda tengah mengamuk di luar rumah."


Ellad menghampiri Edric, melihat pada kaca jendela. Dwinda memaksa satpam untuk membuka gerbang. " Sudah biarkan saja, Dadyy sudah mengurusnya, menelepon polisi untuk menangkap Dwinda."


"Apa Daddy akan membuat dia di dalam penjara?" tanya Edric pada sang ayah, saat melihat Dwinda di luar rumah. "


"Tentu saja Daddy akan membuat dia masuk ke dalam penjara. Kenapa tidak, karena dia sudah membuat keluarga kita hancur apalagi membuat orang yang sangat Daddy cintai meninggal dunia!" jawab Ellad pada anak semata wayangnya.


"Kenapa wanita itu, bisa melakukan tindakan yang begitu merugikan orang lain, sebenarnya apa maksud Dwinda melakukan semua kejahatan yang sengaja ia perbuat kepada keluarga kita?"


Ellad dengan posisi kedua tangan yang merogoh saku celana, kedua mata menatap ke arah Dwinda. Kini ia menjelaskan pertanyaan yang terlontar dari mulut anaknya," Dwinda, melakukan semua ini karena ia ingin balas dendam terhadap Daddy."


"Balas dendam? Memangnya Daddy melakukan kesalahan apa terhadap dia, sampai wanita itu membalaskan dendamnya hingga begitu keji terhadap keluarga kita."


"Hanya karena bisnis, Daddy tidak mau bekerja sama dengan ayah Dwinda. Karena jika Daddy bekerjasama dengan ayahnya, perusahan Daddy tidak akan berkembang pesat sejauh ini, hingga mengantarkan Daddy menjadi seorang CEO sampai sekarang."


Edric memahami apa yang dikatakan ayahnya, karena memang dunia bisnis itu begitu kejam. Sampai harus bisa merelakan orang yang jatuh di depan mata.


Padahal Ellad, hanya membatalkan kerjasama itu, ia tak mau rugi.


"Semua sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur, apa lagi yang harus di sesali, tingal kita merubah diri."


"Daddy merasakan penyesalan itu sekarang. Dwinda marah besar terhadap Daddy, karena ayahnya meninggal dalam kebangkrutan dan sang ibu masuk ke dalam rumah sakit jiwa."


"Miris sekali hidup Dwinda. "


Dreet ....


Suara ponsel Ellad berbunyi, ia mengangkat panggilan telepon, dari polisi.


"Halo, pak."


"Ya, pak. Masuk saja, biar nanti saya menemui bapak. "


"Baiklah."


Ellad mulai pergi, dimana Edric bertanya pada sang papah." kemana?"

__ADS_1


"Daddy mau pergi menemui Dwinda, kebetulan sekali polisi sudah sampai di rumah kita!"


"Apa ini tartik, Daddy."


Ellad menganggukkan kepala, tersenyum dan menjawab. " tentu. "


Lelaki tua itu membantu Edric dengan mendorong kursi roda anaknya. Mereka berdua mulai menghampiri Dwinda di luar rumah, pintu terbuka.


Dwinda masih saja memarahi Satpam, dimana para satpam memberi hormat pada sang tuan.


Wanita bola mata coklat, menatap ke arah suami dan juga anaknya. Ia nampak gelisah, tak bisa lari ke mana-mana. Karena gerbang rumah Ellad sudah di tutup rapat rapat.


Ellad memperlihatkan wajah dinginnya, di hadapan sang istri. Ia kini menyuruh para satpam untuk membuka pintu gerbang, dimana satu kesempatan untuk wanita pemilik bola mata coklat itu keluar dari rumah Ellad.


Kedua mata membulat, setelah melihat pemandangan begitu menyeramkan untuk Dwinda.


"Polisi."


Edric dan Ellad mendekati para polisi, dimana Dwinda mencoba lari, dengan sigap polisi menangkap wanita lemah itu.


"Papih, kenapa? Papih malah lakukan ini, apa salah Mommy." Dwinda mencoba membuat Ellad bersimpati dengannya, tapi Ellad sudah terlanjur membenci wanita yang kini menjadi istrinya.


Dwinda menangis memperlihatkan kesedihannya di hadapan sang suami," Papih, Please jangan lakukan ini Mommy tidak mau masuk ke dalam penjara."


Edric terlihat kesal dengan apa yang dikatakan wanita bola mata berwarna coklat itu.


"Sudahlah, jangan berpura-pura lagi Dwinda. Semua kebusukan kamu sudah terungkap, jadi jangan mengelak lagi."


"Jangan ikut campur kamu Edric, kamu tidak tahu masalahnya kamu hanya seorang anak kecil."


Ellad menghampiri istrinya, menatap sang istri penuh dengan rasa benci," kenapa kamu malah tega membunuh istriku Dania. "


Deg ....


Ellad dengan lantangnya mengatakan nama asli Dwinda di depan semua orang.


Ia terdiam. Ellad menyuruh polisi segera membawa istrinya itu.


"Cepat bawa saja dia, masukkan dia ke dalam penjara. "


. Ellad juga, melaporkan semua dokter yang bekerjasama dengan Dwinda.

__ADS_1


"Papih. Tolong dengarkan dulu Mommy, ini semua bisa dibicarakan secara kekeluargaan Jangan sampai melaporkan ke polisi begini. "


"Sudahlah Dwinda terima saja, ini semua hukuman untuk kamu, jadi nikmatilah penjara agar kamu bisa menyadari kesalahanmu sendiri," ucap Ellad, pada Dwinda. Di saat wanita pemilik bola mata coklat itu dibawa paksa oleh polisi.


__ADS_2