
Aira tetap saja memperlihatkan sisi polosnya di depan Ellad, ia berusaha tetap membuat semua orang merasa kasihan dan tak menyalahkannya atas kejadian yang menimpa Edric.
Dokter keluar, ia memberi tahu tentang keadaan Edric kepada Aira dan yang lainnya.
" Bagaimana keadaan suami saya, dok? Apa tidak ada sesuatu serius yang dialami suami saya?"
Terlihat kekhawatiran dari raut wajah Aira ia perlihatkan di hadapan dokter dan yang lainnya.
Dwinda yang melihat wajah Aira penuh dengan drama, membuat iya menyunggingkan bibir seraya bergumam dalam hati," alah, sok drama sekali tuh cewek desa."
"Pasien belum sadarkan diri, kemungkinan kehabisan darah, jadi ibu dan bapak tenang dulu, ya." Ucap sang dokter berusaha memberi penjelasan kepada Aira dan juga yang lainnya.
Padahal apa yang dikatakan dokter adalah omong kosong, dimana dokter lelaki itu hanya menuruti apa yang diminta oleh Edric.
"Apa boleh saya melihat ke adaan suami saya?"
Pertanyaan Aira, membuat sang dokter menganggukkan kepala.
"Silahkan, hanya saja sebentar saja ya. Karena masih ada pengecekan untuk pasien Edric!"
Jawaban sang dokter, tentu saja membuat Aira dengan terburu-buru masuk ke dalam ruangan suaminya.
Ia tak sabar ingin melihat secara langsung keadaan Edric, seharusnya Aira senang mendengar kabar tak menyenangkan yang dikatakan dokter, tapi ia malah sedih dan menyesal.
Apa Aira menyadari jika Edric begitu tulus mencintainya, sampai Ia juga tak rela jika suaminya kenapa-napa.
Melangkah, masuk ke ruangan Edric. Terlihat lelaki yang baru sebulan menikah denganya sudah terkapar diranjang rumah sakit, dengan selang infus dan alat lainya.
Aira tak menyangka jika akan sepatal ini, hatinya begitu sakit, ia kuasa dengan apa yang ia lihat.
Berjalan, semakin mendekat. Kedua mata Edric masih menutup, Aira tak tega, ia menangis sejadi jadinya. Edric yang mendengar tangisan istrinya, merasa ingin tertawa.
Dengan sekuat yang ia mampu, Edric berusaha menahan dan ingin tahu sebesar apa ketulusan hati Aira, apa dia akan tetap melanjutkan balas dendamnya atau malah menghentikan di saat melihat Edric dalam ke adaan menyedihkan.
Dwinda dan juga Ellad ikut masuk ke dalam ruangan, melihat keadaan Edric.
Dwinda yang memang seorang dokter merasa heran, dengan keadaan Edric. Terlihat bahwa Edric baik baik saja, tapi kenapa Edric sampai di pasang alat rumah sakit begitu komplit.
"Seperti ada sesuatu yang menarik," ucap Dwinda dalam hati.
__ADS_1
Ellad mendekat ke arah Aira, mengusap pelan punggung menantunya itu," kamu yang sabar ya, Aira. Edric pasti baik baik saja."
"Iya, Dad."
Dwinda semakin mendekat, ia mengecek kembali keadaan Edric, dimana sang pemilik bola mata biru itu menyadari jika Dwinda adalah wanita yang selalu membuat masalah.
Saat tangan Dwinda mulai menyentuh dada Edric, saat itulah Ellad berucap." Apa yang mau kamu lakukan, Dwinda?"
Dwinda dengan terburu buru, memposisikan tanganya kembali, tersenyum di hadapan Ellad.
"Papih ini, aku kan seorang dokter. Jadi penasaran ingin tahu keadaan Edric."
Entah kenapa Ellad tiba tiba saja berubah menjadi cetus, ia menjawab," tak usah lah kamu mengecek anakku. Kan kamu tahu sendiri apa tadi kata dokter."
Jawaban Ellad membuat Dwinda merasa kesal, kenapa lelaki tua berambut putih itu gampang sekali berubah.
Membuat rasa bosan menyelimuti hati sang pemilik bola mata coklat.
Edric bisa bernapas lega dalam hatinya, ada sang ayah yang menghentikan aksi pengecekan Dwinda kepada Edric.
Setengah jam Ellad berada di ruangan anaknya, u membuat lelaki berambut putih itu langsung mengajak istrinya untuk segera pulang ke rumah, dia melihat Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore, awalnya Dwinda ingin menolak sang suami yang mengajaknya pulang, karena ia ingin menunggu anak tirinya itu di rumah sakit.
Saat itulah Dwinda dan Ellad kini berpamitan kepada Aira untuk segera pulang dan besok kembali lagi menjenguk Edric.
Dengan terburu-buru Ellad berjalan meninggalkan istrinya, menaiki mobil dengan raut wajah tak menyenangkan saat dilihat oleh Dwinda istrinya sendiri.
Sebenarnya saat Edric sengaja pergi ke dapur sendirian, dia mendengar para pembantu menggosipi Dwinda yang selalu menggoda Edric.
Awalnya Ellad tak percaya, tapi saat melihat rekaman yang diperlihatkan Maria, membuat Ellad saat itu langsung percaya, hati lelaki mana yang tak sakit hati, jika istri yang ia cintai berhianat, mencoba mengoda anak tirinya.
"Pantas saja selama ini, Edric begitu membenci Dwinda, jadi ini alasannya." Gerutu hati Ellad.
Tanpa sadar Ellad mengendari mobil dengan kecepatan tinggi ia tak sadar jika bahaya tengah mengintainya.
"Papih, ini apa apaan sih, mau cari mati." Dwinda berteriak.
Membuat Ellad semakin segaja, " Papih."
Dwinda menutup wajah, ia tak mengerti kenapa dengan suaminya.
__ADS_1
"Papuh?"
Hingga teriakan yang terakhir kalinya, Ellad memberhentikan mobil secara mendadak, Dwinda yang lupa memakai sabuk pengaman, membuat kepalanya terbentur keras.
"Ahk."
Ellad berusaha menahan amarah, agar dirinya bisa mengendalikan diri, menarik napas mengeluarkan secara perlahan dan itupun berulang ulang.
Setelah tenang, Ellad berusaha mengotrol diri dan mengeluarkan emosi dengan menatap ke arah istrinya.
"Papih, kenapa kok. Natap Mommy gitu amat?"
Dwinda dengan jidatnya terluka, berusaha menghindari tatapan suaminya, ia benar benar ketakutan saat itu, melihat Ellad yang seperti ingin memakannya hidup hidup.
"Papih."
ucap Dwinda, tak membuat Ellad memalingkan kedua matanya, ia tetap menatap lekat pada wajah sang istri. Berharap jika wanita dihadapannya akan menjawab semua pertanyaan yang akan ia lontrakan dengan jujur.
Dwinda berusaha mendorong tubuh lelaki tua berambut putih itu, " Papih. Mommy tak suka dengan tatapan papih seperti itu."
Pada akhinya, Ellad berhenti menatap sang istri. Ia melihat ke arah depan, mereka ternyata berhenti di tempat sepi.
Dwinda beberapa kali menelan ludah, merasa tak enak hati. " Papih, ayo jalan. Kita pulang ngapain coba berhenti di sini, mommy takut pih."
"Kenapa Mommy takut, kan ada papih."
Jawaban yang sangatlah dibenci oleh Dwinda.
"Sudahlah pih, jangan bercanda. Ayo kita pulang, Mommy pengen mandi, perut lapar."
Wajah ingin dikasihani, diperlihatkan oleh Dwinda pada suaminya, berharap jika Ellad menuruti apa perkataanya.
"Kalau papih tidak mau pergi dari sini, bagaimana?"
Dwinda membulatkan kedua matanya, mendengar apa yang dikatakan suaminya membuat ia semakin heran.
"Papih ini kenapa? Masa ia kini diam di mobil dengan suasan sepi seperti ini. Apa papih kecapean, biar mommy sini yang nyetir."
Dwinda mulai turun untuk menganti posisi duduk, tapi Ellad malah berucap, " jangan turun."
__ADS_1
Dwinda yang sudah membuka pintu mobil merasa heran, menatap ke arah suaminya