
Aini memeluk tubuh anaknya, dengan penuh penyesalan karena telah menampar dan membentaknya. Isak tangis terdengar begitu nyaring. Mereka berpelukan.
"Kamu kembali?" Tanya Aini, melepaskan pelukan anaknya, kedua tangan kini memegang pipi Laudia. Senyum terukir pada bibir tipis gadis itu.
" Mana mungkin aku tega meninggalkanmu ibu!' jawaban yang membuat hati Aini, merasa bahagia.
"Terima kasih, Laudia. Kamu selalu mengerti ibu," ucap Aini, mengajak pulang anak semata wayangnya.
Perasaan Laudia terlihat begitu bahagia, dengan keceriaan yang ditampilkan sang ibu di depannya.
"Ibu menyayangi kamu, Laudia. Hanya saja ibu masih jadi wanita pengecut yang tak bisa memberi tahu masalalu ibu kepada kamu.'' Gumam hati Aini, berjalan dengan penuh beban yang ia tanggung sendiri.
Mereka berjalan untuk segera menaiki mobil taxsi, pulang melepaskan rasa lelah untuk segera beristirahat di dalam rumah.
Hari ini, Laudia begitu senang bisa membahagiakan sang ibu, dengan uang yang diberikan Edric.
Ia membawa pulang sang ibunda, untuk beristirahat. Hasan yang melihat dari kejauhan hanya bisa mengusap pelan air matanya hati dan pikiran terasa rapuh. Membuat Hasan hanya bisa mengawasi dari kejauhan.
Pantas saja selama ia mengantarkan Laudia, ia melihat jika anak itu memiliki paras cantik seperti Aini, tentulah membuat ia penasaran dan ingin melihat apa benar Laudia anak dari Aini.
Luka lebab yang terlihat dari wajah Laudia, hampir sama dengan luka lebab yang berada di dada Hasan. Karena saat perpisahan itu Aini memukulnya habis habisah, siapa sangka Hasan dan Aini tidak bersatu karena keegoisan sang orang tua.
"Aini, apa kamu masih mau memperbaiki cinta kita, apa masih ada harapan untuk aku bersama kamu lagi. Aku sangat mencintai kamu."
Hasan ingin menyelidiki Laudia itu anak siapa? Karena hasil hubungan bersama Hasan, Aini sempat dikabarkan hamil anaknya.
Dan Hasan mendengar kembali jika anak itu sempat digugurkan oleh Aini.
Langkah kaki terasa berat, membuat tangan bergetar, ingin mendekat tapi tak kuasa.
Pastinya Aini akan menyalahkan Hasan, dari kesalah pahamanan di masa lalu.
__ADS_1
"Aini, aku rindu." Gumam hati Hasan.
Setelah mengantarkan Edric, lelaki tua itu mengikuti Aini dan anaknya pergi. Ia ingin tahu siapa suami Aini yang sekarang? Apa Hasan mengenalnya?
*******
Rendra telah sampai di rumah dengan membawa seorang gadis yang sengaja ia bayar, untuk menemaninya semalam.
Karena memang Rendra tidak pernah menyentuh Aini, setelah pernikahan mereka terjadi. Entah karena ia benci atau jijik.
Laudia yang melihat pemandangan itu, ingin rasanya, menjambak rambut sang ayah tiri. Mengusirnya dari rumah.
Namun, Aini selalu melarang. Iya tak mau menjadi pertengkaran lagi bersama suaminya hanya karena masalah wanita yang ia bawa ke dalam rumah.
Sudah cukup Aini bersabar hanya karena ia bergantung hidup bersama Rendra, lelaki yang rela menikahinya setelah kepergian Hasan dan juga hinaan dari Deni.
Deni lelaki tajir yang dipaksa menikah dengan Aini, oleh orang tuanya. Tapi setelah Deni tahu jika Aini bukan seorang perawan, membuat ia menjadi wanita terhina di desa.
Rendra adalah lelaki yang menjadi sahabat Hasan, ia terpaksa menikahi Aini untuk menutupi kehamilan Aini bersama Hasan.
Hingga Rendra, nekad membawa Aini ke luar kota, menjalankan hidup bersama dan membesarkan Laudia, tapi ternyata semua itu tak seindah yang di pikirkan Aini.
Wanita desa bernama Aini itu mengira jika Rendra akan baik kepadanya, tapi ternyata tidak. Rendra malah lebih kejam, ia terkadang menghina dan juga memukul Aini dengan tangan kekarnya.
Meluapkan emosi ketika amarahnya selalu hadir, saat Rendra ingin menyentuh sang istri, terkadang sentuhan itu membuat Rendra ingat pada sang sahabat yaitu Hasan.
Dengan berusaha keras hidup di kota dan membesarkan Laudia, hingga anak gadis itu menjadi wanita cantik dan kini menjadi sekertaris di perusahaan sang CEO.
Terkadang, karena melihat kemolekan tubuh Laudia. Rendra selalu tak tahan, ia selalu mabok mabokan, setiap pulang ke rumah, menahan tekanan pekerjaan yang membuat dirinya terkadang menjadi orang yang sangat stress. Hingga otaknya menjadi jahat dan ingin mengauli Laudia.
Terdengar suara raungan dan juga kenikmatan dari kamar Aini, membuat wanita tua itu hanya menundukkan wajah.
__ADS_1
Laudia, mengusap pelan bahu sang ibu dengan menguatkan apa yang ia dengar di dalam kamar.
Setiap kali Laudia ingin menabrak pintu kamar ibunya, selalu Aini yang menahan dan mengatakan hal seperti biasan." tak usah ikut campur." Bagaimana bisa mental wanita bernama Aini itu kuat jika setiap hari ia diperlakukan layaknya seseorang wanita yang terhina dan tidak dihargai oleh suaminya sendiri.
Niat Rendra itu sebenarnya salah, seharusnya ia lebih menghargai seorang wanita yang menjadi istrinya, walau Aini itu orang yang sangat dicintai Hasan sahabatnya sendiri.
Menyelamatkan Aini bukan juga harus menyakitinya, bagaimanapun seorang wanita adalah Intan yang berharga yang harus dijaga.
"Bu, dia itu b*j*ng*n, k*p*r*t. Apa pantas melakukan hal yang menyakiti hati ibu, ayolah bu, sadar. Dia tak jauh berbeda dengan lelaki di luar sana yang hanya .... "
Belum perkataan Laudia, terucap semuanya. Aini menyelah ucapan anaknya sendiri. Iya tak mau berdebat dengan Laudia dan malah memukul kembali anaknya.
"Cukup Laudia, kamu ini tidak tahu apa-apa. Sebaiknya cepat kamu masuk ke dalam kamar. Biarkan saja semua ini ibu yang menyelesaikan. "
Laudia hanya terdiam, ia tak mau terus seperti orang bodoh yang membiarkan ibunya terluka terus menerus.
Sampai dengan lancangnya, mendobrak pintu kamar sang ibu.
"Laudia."
Tariakan Aini, membuat Laudia berusaha tak peduli. Ia tetap saja mendobrak dan membuat pintu kamar sang ibu akhitnya terbuka.
Hasan yang mendengar teriakan Aini, tentulah membuat ia penasaran ingin sekali ia melihat ke dalam rumah wanita yang menjadi Cinta Pertamanya, melihat apa yang sebenarnya terjadi, perasaan aneh dan juga tak menentu dirasakan oleh Hasan.
Lelaki tua itu hanya berani berdiri di depan rumah untuk melihat siapa suami Aini yang sekarang, "Seperti ada keributan yang terjadi, ada apa?"
Hasan memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah Aini, penasaran dengan apa yang terjadi sehingga di dalam rumah itu terdengar teriakan.
ketukan pintu beberapa kali dilayangkan oleh Hasan, tapi tak ada jawaban sama sekali. Sampai teriakan itu terdengar kembali.
"Aini. Aini." Teriak Hasan kembali, berharap sang pemilik rumah membuka pintu dan mendengar teriakan Hasan yang begitu mengkhuatirkan Aini dan juga Laudia. Keringan dingin bercucuran hati merasa tak karuan.
__ADS_1
Tak ada jawaban sama sekali dengan sekuat tenaga mendobrah pintu rumah berusaha dengan keras, menyelamatkan Aini.