
"Loh, memangnya kenapa, pih?" tanya Dwinda, ia mulai nekad turun dari dalam mobil, tapi Ellad malah membentak istrinya." Aku peringatkan kamu sekali lagi, jangan turun."
Dwinda tak mendengar bentakan suaminya, ia malah turun dan menutup pintu mobil.
"Papih, ayo turun. Biar mommy yang mengendari mobil."
Sang pemilik bola mata coklat itu mengetuk pintu sebelah suaminya, ia meneriaki suaminya yang tak kunjung membuka pintu mobil.
Sampai dimana Ellad membuka kaca mobil menatap ke arah sang istri," Kenapa kamu tidak mau menurut kepadaku? Bukannya aku sudah memperingati kamu agar tidak turun dari dalam mobil?"
Dwinda terdiam, Ellad kini berucap kembali" Aku berharap kamu betah tinggal di sini."
Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut suaminya, tentulah membuat Dwinda syok, bawahnya sang suami akan meninggalkannya di tempat sepi.
"Papih, jangan gila. Masa ia mommy di sini sendirian, " ucap Dwinda dengan raut wajah ketakutan.
" Siapa suruh kamu tidak menurut dengan, coba kalau tadi kamu menurut. Mungkin kamu tidak akan aku tinggalkan di tempat sepi seperti ini, " balas Ellad seperti sengaja mengerjai istrinya itu.
Mungkin Ellad ingin memberi pelajaran terlebih dahulu kepada istrinya, sebelum ia mengatakan kebenaran yang sebenarnya terjadi. Bahwa dirinya selalu berusaha menggoda anak tirinya.
Ellad mulai menutupi kaca mobil, melambaikan tangan untuk segera pergi dari hadapan sang istri.
Ellad benar benar tega meninggalkan Dwinda begitu saja.
"Papih." Teriak Dwinda.
Mobil kini sudah melaju dengan kecepatan tinggi, Dwinda benar-benar ditinggalkan di tempat sepi.
Ia melempar batu dengan sengaja, tapi tidak mengenai mobil yang sudah melaju begitu jauh.
"Sialan, kenapa dengan Ellad. Ia begitu tega meninggalkan aku di sini sendirian. Ada apa sebenarnya, apa dia tahu semuanya. Ahk, mana mungkin. Jika ia tahu bisa gawat rencanaku kedepannya." Gerutu Dwinda berjalan dengan rasa kesal menjalar pada hatinya.
Ia menangis, sendirian dengan merasakan rasa lapar dalam perutnya.
Dwinda mencoba mencari ponselnya di dalam saku celana.
Namun ternyata ponselnya berada di dalam mobil, Dwinda sekarang benar-benar dalam kesulitan. Ia tak bisa berbuat apa-apa? Hanya menangis dan menatap ke sekliling, hanya ribunan pepohonan yang menjulang tinggi.
Pikirannya sudah tak tahu kemana, bagaimana jika ada orang jahat melakukan hal yang tidak baik pada Dwinda. Pikiran wanita itu sudah kemana mana.
__ADS_1
Sampai kelakson mobil berbunyi kembali. " Papih, kamu kembali lagi?"
Betapa senangnya sang pemilik bola mata coklat itu melihat sang suami datang kembali, bunga yang tadinya kecewa dan sedih merasa senang dan tenang.
Dwinda berpikir bahwa ternyata sang suami hanya mengerjainya saat itu.
Ellad membuka kaca mobilnya melihat sang istri yang sudah basah dengan air mata," cepat masuk ke dalam mobil."
Dengan terburu-buru udah Dwinda masuk ke dalam mobil, perasaannya yang sudah kacau balau kini merasa tenang setelah masuk ke dalam mobil sang suami.
"Bagaimana rasanya ditinggalkan seperti itu?"
Ellad bertanya dengan menatap raut wajah istrinya.
Sedangkan Dwinda, malah marah memarahi lelaki berambut putih itu," Papih ini apa-apaan sih, pakai acara mengerjain Mommy seperti ini. Papi Ini nggak kasihan apa sama Mommy?"
Ellad malah tertawa terbahak-bahak, merasa puas dengan apa yang dikatakan istrinya. Bagi Ellad ini semua baru permulaan, setelah rasa sakit yang sudah dibuat oleh istrinya sendiri.
Sebenarnya Ellad juga merasa penasaran, Apa maksud sang istri melakukan semua ini. Terlebih lagi saat Maria mengatakan, Dwinda selalu menatap foto sambil menangis.
Foto siapa yang sebenarnya ia tangisi?
"Papih, kenapa ketawa coba. Papih ini nggak merasa bersalah apa?" tanya Dwinda. Memarahi Ellad habis habisan.
"Kenapa aku harus merasa bersalah. Bukannya kamu yang mulai duluan!" jawaban yang mengejutkan untuk sang istri.
"Papih ini kenapa, kalau ada apa apa itu. Di bicarakan, bukan malah kaya gini. Mommy nggak suka ya," ucap Dwinda. Seakan menasehati sang suami agar mengerti dengan keluhannya saat ini.
" Untuk apa semua harus dibicarakan dengan baik-baik. Bukannya kamu juga sudah merahasiakan semuanya dari papih, " balas Ellad.
dengan memberi kode bahwa Dwinda itu sudah berkhianat.
"Papih ini ngomong apa, jadi nggak nyambung gitu. Ngelantur deh," ucap Dwinda, berusaha menenangkan suasana, agar sang suami tak marah dan juga meninggalkannya kembali.
Kini Ellad mulai menyalakan mesin mobilnya, untuk segera pulang ke rumah. Ia berusaha mengakhiri perdebatan yang tak kunjung usai. Karena sang istri yang tak mau mengaku.
Seperti biasa Ellad mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, Dwinda tak berani meneriaki Ellad lagi, karena dirinya tak mau diturunkan lagi.
Dengan terpaksa hanya bisa diam tanpa bisa melawan sedikit pun.
__ADS_1
Dwinda sepertinya harus berhati-hati dengan suaminya yang lambat lalu akan mengetahui rahasia yang sudah ia simpan sejak lama.
Setelah sampai di rumah, Ellad membuka pintu mobilnya, menutupnya dengan begitu keras. Memperlihatkan kemarahan di depan sang istri.
Berjalan dengan begitu cepat hingga meninggalkan Dwinda yang masih berada di dalam mobil, Maria yang menyambut kedatangan majikan merasa heran.
"Sepertinya tuan marah besar akibat video yang aku tunjukan padanya."
Dwinda datang menyusul, dengan raut wajah menyedihkan, Maria hanya bisa menundukkan wajah, berusaha menahan tawa dalam hati.
"Maria, tolong buatkan saya makanan. Saya lapar." printah Dwinda kepada Maria.
"Baik, Nyonya, " ucap Maria, dengan sigap pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan sang nyonya.
Saat Dwinda membuka pintu kamar, tiba tiba saja pintu kamar terkunci, tentulah membuat Dwinda kaget, mengetuk pintu beberapa kali. Tak ada jawaban sama sekali.
Tok .... Tok .... Tok ....
Ketukan pintu beberapa kali diketuk, Ellad tak menjawab panggilan sang istri.
"Papih sayang. Buka dong, mommy mau mandi, masa papih tega biarin mommy tidur sendirian di luar. "
Hening.
Tak ada jawaban sama sekali, Dwinda tetap berusaha keras membujuk sang suami, agar mau membukakan pintu kamar, karena rasa tak nyaman pada tubuhnya yang ingin sekali mandi.
"Sayang, papih. Ayolah buka pintu kamarnya."
Teriak Dwinda dengan harapan jika suaminya mau membukakan pintu kamarnya.
Ellad tengah merebahkan tubuhnya, ia mendengarkan musik, tak mempedulikan teriakan sang istri dan juga gedoran pintu yang terus-menerus dilayangkan oleh Dwinda.
"Siapa suruh bermain api, sudah ketahuan kan baru tahu rasa." Ucap Ellad menikmati musik yang ia dengan santainya.
Dwinda pada akhinya, menyerah. Dengan terpaksa ia mandi di lantai bawah, kamar kusus tamu.
"Ellad benar benar keterlaluan, bisa bisanya ia seperti itu, tidak tahu diri." Gerutu Dwinda dalam hati, saat kakinya melangkah menuju kamar tidur yang di kususkan tamu.
Saat membuka pintu kamar tamu?
__ADS_1
Apa yang terjadi dengan Dwinda?