Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 63 Berlian


__ADS_3

"Dwinda. Nama wanita yang kini menjadi istriku, ternyata dia adalah anak dari rekan bisnis dimasa lalu. Pantas saja dia datang mencari kesempatan saat kematian Maya. Kematian istriku juga belum terungkap sampai sekarang."


Mengepalkan tangan, memukulkan pada meja. Lelaki berambut putih, badan tegap. Masih fokus menatap layar leptot. Ternyata Ellad tengah mencari informasi tentang Dwinda, nama. Dan indentitas istrinya yang sekarang.


Karena terlalu percaya, Ellad tidak teliti akan hal sekecil ini, iya sudah ditipu selama tiga tahun oleh Dwinda wanita yang selalu membuat dirinya jatuh cinta.


Perasaan dan pikirannya tak pernah lari kemana mana, Ellad terlalu menyayangi Dwinda, sampai ia menjadi lelaki bodoh.


Teriakan Dwinda terus terdengar oleh Ellad, lelaki itu tetap saja diam, tak memperdulikan sang istri.


Ellad sudah menduga bahwa cinta sejatinya hanyalah Maya.


"Ellad."


"Buka."


Suara Dwinda terus terdengar, membuat rasa tak nyaman pada diri Ellad, dengan terpaksa lelaki berambut putih itu. Keluar melihat sang istri yang terus menerus mengetuk pintu.


"Ellad, kamu ini kenapa. Masa ia kamu bilang pada para pelayan aku ini pembantu baru."


Bibir Dwinda mengkerut, terlihat ia begitu sedih dan ketakutan akan pertanyaan para pelayan di rumah.


Ellad mendekat, memegang kepala istrinya. Perlahan mengelus rambut panjang Dwinda. "Kenapa kamu begitu percaya dengan para pelayan, bisa saja mereka hanya bercanda."


"Bercanda, kamu bilang semua hanya bercanda." Hardik Dwinda, masih tak menerima perkataan suaminya.


Ellad kini memeluk sang istri dan berkata, " sudah jangan marah seperti itu, nanti sore kita jalan jalan beli kalung berlian. Bukanya kamu suka berlian?"


Mendengar Ellad mengatakan kalung berlian. Tentu saja membuat Dwinda merasa senang, raut wajahnya berubah mejadi berbeda. Kesedihannya hilang seketika.


Ellad sudah menduga, jika wanita itu mudah ditaklukan hanya mendengar suatu barang seperti berlian. Inilah kesempatan untuk mengetahui semuanya, " Ya sudah, kamu sekarang ganti baju dulu. Aku tunggu kamu di mobil."


Hati Dwinda berbunga bunga, tentu saja ia senang dengan ucapan sang suami. Saatnya berlari dan menganti pakaian menyedihkan di badanya.

__ADS_1


"Iw, mana ada seorang nyonya memakai pakaian pelayan."


Dwinda langsung meleparkan pakaian yang sudah ia buka, ingin rasanya membakar pakaian diatas lantai.


Terburu-buru Dwinda memakai baju mewah, penampilanya sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Sengaja untuk memancing Ellad agar semakin terpesona dengannya.


Ia tahu jika Ellad itu suka penampilan Dwinda, apalagi minyak wangi khas dipakai.


Penampilan yang sempurna.


******


sedangkan Ellad berada di dalam mobil, menelepon seseorang untuk menyusun rencana kembali, mengerjai sang istri tercinta.


"Dwinda, kamu itu tidak tahu ya, sedang bermain dengan siapa? Andai saja kebohongan tak kamu buat. Semua tentu tidak akan membuat kamu menderita."


Dwinda akhirnya keluar dari dalam rumah, Ellad sudah tidak tertarik lagi dengan penampilan sang istri, karena ia sudah tahu kebusukan yang disimpan oleh istrinya sendiri.


Mengusap dagu secara perlahan. kedua mata menatap tajam, pada wanita yang berjalan berlenggak-lenggok. Mendekat, ke arah mobilnya.


"Dwinda, dulu ya aku sangat mengagumimu. Tapi sekarang jangan harap, karena kamu sudah aku hapus dalam ingatan dan juga perasaan ini. "


Sang pemilik bola mata coklat, mengira jika suaminya akan membukakan pintu mobil untuk dirinya.


Namun ternyata Dwinda malah diabaikan begitu saja, dia membuka sendiri pintu mobil, dengan raut wajah kesal duduk di samping CEO.


"Sayang, biasanya kamu bukakan aku pintu, tapi sekarang kamu kok cuek bebek kayak begitu. Pervuma dong aku dandan rapi seperti ini tapi kamu tak hargai aku." gerutu Dwinda di depan sang suami, ia berharap jika Ellad peka seperti dulu. Tidak cuek dan mengabaikannya seperti orang lain.


Mendengar ucapan Dwinda, Ellad menutup mulut, dia tersenyum kecil.


"Kamu kan punya tangan sendiri dan masih sehat bisa kan buka sendiri. Masa harus aku terus yang membukanya."


Dwinda sangat kesal sekali dengan perkataan suaminya itu, ia ingin sekali meremas bibir sang suami. Menendang wajahnya, membuat lelaki di sampingnya babak belur.

__ADS_1


Namun semua itu tidak mungkin dilakukan oleh dirinya sendiri, yang ada wanita pemilik bola mata coklat itu pasti akan kalah dengan kekuatan Ellad.


Maka dari itu, wanita lebih mengandalkan kelembutan dan juga kelemahan yang ada pada dirinya. Agar lelaki menjadi sosok yang mengasihani seorang wanita.


"Kami ini kenapa sih, tadi baik-baikin aku sekarang kok gitu lagi." ucap Dwinda, dengan amarah menggebu-gebu pada hatinya.


Pikiranya kini sudah tak menentu, hatinya tak karuan. Dwinda mencoba membuat drama untuk tidak ikut melihat membeli berlian.


"Kalau kamu terus begini kepadaku sebaiknya aku ganti baju lagi pergi tidur. "


Ellad tak menghentikan aksi sang istri yang akan keluar dari dalam mobil, ya begitu cuek mengabaikan apa yang dikatakan istrinya sendiri.


"Sayang.Kamu kenapa sih, nggak nahan aku. Harusnya itu kamu tahan ke, apa kek. Ngomong agar aku nggak ganti baju dan marah."


Menatap kearah wajah sang istri dengan berkata." sebenarnya apa mau kamu, bukannya aku sudah baik-baikin kamu untuk kita membeli berlian. Tapi sekarang kenapa kamu malah marah-marah seperti itu hanya karena hal sepele?"


"Iya kan wanita itu selalu ingin dimengerti, jadi kamu peka sedikit lah agar aku itu tidak marah-marah terus dari tadi."


"Sudahalah, jangan jadi istri lebay. Aku males mendengar kamu berkata seperti itu, kalau kamu memang mau berlian ayo kita pergi. Tapi kalau tidak ya sudah nggak papa. "


Dwinda terdiam memikirkan perkataan suaminya, Mana mungkin ia menyia-nyiakan berlian yang akan dibelikan suaminya, itu rasanya tidak mungkin.


" kita jadi beli nggak berliannya kalau tidak Ya sudah aku mau istirahat dulu tidur."


"Ya jadilah. Ayo kita beli berliannya."


Ellad mulai menyalakan mesin mobil untuk segera pergi mencari berlian yang diinginkan istrinya. Iya tahu jika sekarang istrinya ada dibawah kendali dirinya sendiri, buktinya Dwinda banyak ketakutan jika ancaman kecil dilayangkan Ellad.


Hanya saja tinggal menyuruh sang istri untuk berkata jujur dan mengungkapkan semua kejahatan yang ia lakukan terlebih lagi dalam menggoda Edric.


Ellad ingin membuat sang istri membekam di penjara jika memang rencananya. Begitu jahat terhadap Ellad dan juga Edric.


Karena semua kejahatan Dwinda belum terbongkar sepenuhnya, apalagi Edric yang belum sembuh-sembuh dari lumpuhnya, karena ditangani oleh sang istri yang sangatlah dipercaya oleh Ellad.

__ADS_1


Sekarang Ellad menyuruh seorang teman untuk mengecek obat-obatan.


__ADS_2