
Aira melihat perhiasan kecil itu, membulatkan kedua mata, mulut mengagah. Masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Cincin permata, memperlihatkan pesona elegan, tampilan mungilnya begitu Indah.
Padahal kemarin Aira mengiginkan Cincin kecil itu, saat pergi berjalan jalan ke mall bersama suaminya.
"Kamu suka cincin inikan?" tanya Edric pada sang pujaan hati.
"Ya, kok kamu tahu. Apa selama di mall kamu memperhatikanku!?" jawab Aira, seraya bertanya pada lelaki yang menjadi suaminya.
Edric menganggukkan kepala, ia tahu keinginan istrinya, yang mau tapi malu mengungkapkannya.
"Jika kamu mengiginkan sesuatu ungkapkan lah, pasti aku turuti, kitakan suami istri."
"Tapi aku .... "
Edric menempelkan jari tanganya pada bibir mungil Aira dan berkata," sudah aku tak mau dengar alasan kamu lagi, oke."
Memiliki suami idaman seperti Edric adalah keinginan semua wanita, tapi kita tidak bisa mengukur keinginan itu. Terkadang hanya sebagian wanita yang mendapatkan lelaki idaman yang diinginkan.
Aira sangatlah beruntung memiliki Edric, begitu pun Edric kedua pasangan itu saling melengkapi, menutupi kekurangan.
Jari tangan itu kini berada pada posisinya, Aira hanya tersenyum bahagia, setelah luka menerpa saat kehilangan sang ibunda tercinta. Ada sosok lelaki yang sangat tulus mencintainya, rela berkorban dengannya.
Pak Hasan, ikut bahagia, melihat pemandangan Indah itu, bagaimana tidak sosok Edric yang dingin kini berubah derastis. Semejak datangnya wanita sederhana seperti Aira.
Mobil telah sampai, sosok seorang wanita berambut panjang dengan tubuh bulatnya berdiri di depan rumah Ellad.
"Siapa itu?"
Edric bertanya tanya dalam hati, melihat sosok itu menghadap ke rumah.
Pak Hasan melaksoni mobil, sosok berbadan bulat itu membalikkan badan.
Edric seperti mengenal wanita itu, tapi bentuk tubuhnya berbeda sekali.
Ellad keluar rumah, segera menyambut kedatangan anak satu-satunya, senyuman dilayangkan oleh sang ayah. Kini semua turun dari dalam mobil, memeluk sang ayah meluapkan rasa rindu. "Daddy. Apa kabar?"
Wanita itu terlihat masih menyusui anaknya, Aira begitu penasaran, hingga iya bertanya kepada sang ayah. " Siapa dia, Dad?"
__ADS_1
Pertanyaan Aira begitu ragu dijawab oleh Ellad, karena ada rasa takut jika anak anaknya akan marah.
"Sebenarnya dia."
Pak Hasan tidak mau ikut campur urusan keluarga majikannya. Ia lebih baik pergi menjauh dari obrolan serius ketiganya.
Sang ayah lalu memanggil wanita itu, menyebut namanya." Dwinda?"
Deg .... Pantas saja Edric merasa kenal akan raut wajah wanita bertubuh gendut itu, ternyata ia adalah Dwinda.
Membuang wajah, saat sosok Dwinda datang dengan menggendong bayi mungil yang baru berumur tiga bulan.
"Edric, Aira." Sapaan Dwinda seakan tak dibalas oleh Edric sama sekali, ia begitu acuh tak mempedulikan senyuman ramah sang ibu tiri.
Dwinda menundukkan wajah, namun Aira tetap menghargai wanita itu, menjawab sapaannya." Hai mommy. "
Tubuh bohay dan mulus itu seketika berubah menjadi gendut, Dwinda tidak terlihat seperti dulu. Ia seperti ibu ibu pada umumnya.
"Aira, Mommy buatkan kamu masakan. Yuk kita makan."
Sejak kapan perkataan manis itu di lontarkan Dwinda, merasa aneh. Tapi dalam kenyataan memang adanya.
Aira berusaha bersikap ramah, ia kini melangkah bersamaan dengan Dwinda menuju ke dalam rumah.
Saat kedua punggung wanita itu tak nampak lagi, Edric mulai bertanya pada sang ayah." Apa yang sudah Daddy lakukan, hah. Daddy buat dia keluar dari dalam penjara."
Menunduk wajah, lelaki berambut putih itu berucap," ya. Daddy melakukan itu terpaksa."
"Terpaksa kenapa?" Edric berusaha tenang, ia tak mungkin memarahi sang ayah. Takut jika hubungan keduanya tidak baik baik saja.
"Dwinda hamil, Daddy juga tak tahu kalau ia mengandung anak Daddy, dan saat itulah dengan terpaksa mengeluarkan Dwinda mencabut semua tuntutannya! " jawab Ellad, membuat rasa kesal yang mendera pada hati Edric. Padahal sudah banyak kelakuan jahat Dwinda kepada keluarga Ellad.
Edric mengusap kasar wajahnya. Sedangkan Ellad berusaha menjelaskan semua pada anak semata wayangnya itu." Kamu jangan dulu cemas, Dwinda sudah berjanji pada Daddy akan berubah."
Wajah lalaki tua itu, memperlihatkan bertapa berharapnya Edric mau menerima Dwinda di dalam keluarga Ellad.
"Ya sudah, aku beri kesempatan Daddy, tapi ingat jika wanita itu berbuat jahat lagi, aku pastikan hidupnya akan sensara," ancaman Edric tak segan segan, dilayangkan begitu saja. Ia sudah jengah dengan kelakuan busuk sang ibu tiri.
__ADS_1
"Baik, Daddy sudah pastikan itu," balas Ellad berusaha memegang janjinya.
Ellad dan Edric mulai melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah, dimana masakan sudah tertata rapi.
Dwinda berusaha merubah diri, memposisikan menjadi seorang ibu tiri di keluarga Ellad
"Edric, ayo nak. Kita makan bersama."
Tatapan mata Edric masih terlihat sinis, saat menatap Dwinda, kebencian masih terlukis pada raut wajah Edric. Tak semudah itu memaafkan kejahatan Dwinda yang sudah membuat kedua kakinya lumpuh selama empat tahun.
Di meja makan, semua tanpak merasa tegag, karena Dwinda melihat wajah Edric penuh dengan rasa benci.
"Bagaimana masakanya?"
Dwinda mulai bertanya pada semua orang yang berada di meja makan, karena ia sengaja menyiapkan semuanya dari pagi bersama pelayan di rumah.
Edric mempelihatkan wajah datar, sedangkan Aira. Tersenyum lebar dan berkata," Semua ...."
Belum perkataan Aira terlontar semuanya, saat itulah Edric berkata." Tidak enak."
Deg ....
Perkataan yang sangatlah menyakitkan, membuat hati Dwinda terasa teriris sakit dan perih. Kedua mata berkaca kaca. Ellad mencoba menenangkan sang istri." Edric belum terbiasa denganmu jadi maklumilah. "
Tangan terasa lemas, akibat seharian memasak dan rasa lelah menghantui seluruh badan Dwinda. Tapi hasil dari semuanya itu zonk, Edric malah menghina masakan Dwinda.
"Semua masakan kamu tidak enak, yang satu kemanisan dan yang satu asin, ngapain coba masak kan sudah ada pembantu." Cetus Edric. Perasaan Dwinda kacau balau, hati dan pikirannya di selimuti rasa sakit.
"Maaf, lain kali aku akan mencobanya lagi, besok .... "
Belum perkataan Dwinda terlontar semuanya, Edric memotong dan berkata." Jangan, aku nggak suka masakan kamu, biarkan urusan dapur para pembantu yang tangani."
Edric berdiri dan berkata," Sayang."
"Ya." Aira menatap ke arah Edric.
"Kita makan di restoran saja yuk, di sini makananya enggak enak, " ajak Edric pada sang istri, terlihat Aira kebingungan sendiri, antara harus mengikuti kata suami atau duduk saja bersama Dwinda dan juga Ellad.
__ADS_1
"Ayo sayang," ucap Edric. Tatapan tajam itu mengisaratkan jika Aira harus patuh, mau tidak mau. Aira setuju dan bangkit dari tempat duduknya sedangkan Ellad menundukkan wajah, ia mengira pertemuan ini akan menjadi kebahagian. Tapi nyatanya sebuah rasa sakit.
"Kami pergi dulu, jangan lupa besok biar pembantu saja yang masak, jangan wanita ini, aku tak berselera dengan masakannya apalagi wajahnya itu," Hardik Edric dihadapan sang ayah, saat mengatai Dwinda.