
"Ya sudah kalau begitu, om berharap jika istri kamu mau, " ucap Rendy menyimpan penuh harapan kedua Insan yang kini selalu dekat dengan anak pertamanya.
Tidak ada yang mudah dalam dunia ini kecuali kalau kita berusaha, semua akan terasa mudah.
"Edric akan usahakan, Om!" balas Edric, masih dalam sambungan telepon.
Pada saat itulah panggilan telepon dimatikan sebelah pihak, Aira bertanya," siapa?"
Sorot mata Edric mentap ke bawah, iya kini menceritakan percakapan dirinya dengan Rendy.
"Om Rendy meneleponku, katanya dia meminta bantuan untuk bisa menyadarkan Luky, dokter Lilia." ucap Edric terlihat begitu penuh dengan keraguan.
Aira memegang bahu suaminya, dan menjawab." kalau memang itu terbaik untuk ayahnya Kenapa tidak, dan lagi Lilia itu butuh kebahagiaan. Dia juga harus menikah, dan menemukan jati dirinya sebagai laki-laki."
"Aku juga berpikir seperti itu," ucap Edric, mendukung apa yang dikatakan Rendy.
Karena memang sahabatnya, terlihat kurang bahagia saat penampilannya berubah menjadi seorang wanita, ada rasa penyesalan diperlihatkan Lucky yang menjadi wanita itu.
Terkadang Edric ingin mendengar keluhnya sahabatnya yang terlihat tertekan, tapi apa daya, ya takut jika membuat sahabat yaitu salah paham.
Karena merubah pendirian orang lain itu tidaklah mudah, terkadang pola pikir seseorang banyak yang berbeda. Sama seperti menyelesaikan masalah, tidak semua dikaitkan dengan pikiran yang sama.
Aira duduk menghadap ke arah suaminya, memegang kedua tangan. Sedikit menengahkan wajah suami," kamu jangan pernah ragu jika itu semua untuk kebaikan, aku akan mengizinkan kamu sebagai seorang istri. Jika kamu ingin menolong sahabatmu itu."
Edric mengusap pelan rambut panjang Aira, perlahan kedua ujung bibirnya tersenyum lebar sangat beruntung sekali mendapatkan sosok wanita seperti Aira.
Wanita desa yang tak pernah egois dan memikirkan dirinya sendiri, Aira mendukung Edric dan memberi izin untuk bisa merubah sahabatnya.
" Aira, kamu memang wanita baik pantas saja pertama kali aku bertemu denganmu aku langsung jatuh hati kepadamu, dan ingin menikahimu. Pilihan dari hatiku benar-benar tak salah, beruntung sekali hidupku saat ini."
gombalan itu kini dilayangkan oleh Edric untuk istrinya. Bagaimana bisa Aira tahan akan kata-kata pujian seorang lelaki untuk dirinya, karena selama ini yang memuji dirinya hanyalah seorang ibu kini sudah tiada.
Kedua pipi memerah tak sanggup menatap suaminya yang terus tersenyum, sembari menggoda dengan menggelitik tubuh istrinya itu.
"Geli tahu."
Aira berusaha menyingkirkan jari tangan Edric, agar menghindar, wanita berbulu mata lentik itu takut jika suaminya bernapsu lagi.
"Kamu harus ingat aku ini lagi hamil."
__ADS_1
"Ya."
Edric berusaha menahan hawa napsunya, walau benar-benar terasa berat. Terlihat oleh kedua mata Aira, Edric menjadi sosok salah tingkah, karena penolakan istrinya sendiri.
Karena Sudah beberapa kali Edric tak bisa menahan dirinya, membuat Aira sangat kelelahan.
"Sudah malam kita tidur, besok jadwal terapy kamu lagi sayang. Bukanya kamu mau membantu sahabatmu itu, kamu harus giat, oke."
"Giat apa?"
"Menasehatinya lah!"
"Oh."
Aira kini bangun dari sofanya, dia mulai melangkahkan kaki, berjalan pergi. Menuju ke kamar tidur untuk segera beristirahat, karena akan ada hari esok yang melelahkan.
Mengurus pekerjaan rumah dan yang lainnya, Aira sengaja tak menyewa, ia ingin melakukan aktivitasnya sendiri. Menjadi seorang ibu rumah tangga yang utuh.
Edric mendukung keinginan istrinya, iya tak pernah memaksa Aira untuk bekerja ataupun membantu dirinya di perusahaan, bagi Edric cukup melihat Aira melayaninya di ranjang sudah sangatlah cukup.
******
Lilia seperti habis menangis semalaman, karena raut wajahnya tak nampak besar. Walau memakai make up setebal apapun, kesedihan itu tetap terlihat.
Aira mendekat memberi senyuman hangat," selamat pagi, dokter."
Lilia yang memang direnungi kesedihan, hanya tersenyum tipis dan mencari keberadaan Edric.
"Dimana suamimu?" tanya Lilia, sembari membawa obat untuk diminumkan kepada pasiennya.
Aira menunjuk ke arah kamar, di mana Edric keluar dan memberi senyuman hangat kepada dokternya.
Mereka mencoba menghibur sang dokter agar tidak larut dalam kesedihan," ya sudah kita mulai terapinya."
Padahal kemarin Lilia terlihat begitu bersemangat, selalu ada kata candaan dan juga tawa menyertai sahabat Edric itu.
Aira kini menjauhi Kedua lelaki itu, perlahan dia berjalan untuk segera menyiapkan sarapan pagi. Karena melihat dokter yang menangani suaminya pagi sekali datang.
Dengan penuh rasa syukur dan juga kebahagiaan, Aira kini membuatkan sebuah makanan spesial, yang mungkin akan disukai Edric dan juga sang dokter.
__ADS_1
*****
Edric yang akan memulai terapi, menata pekat wajah sahabatnya itu." Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Pertanyaan lelaki pemilik bola mata biru, membuat Lilia, mengerutkan dahi. Di saat Edric, bertanya tidak sesuai dengan pengobatan yang dilakukan Lilia.
" Kamu bertanya pada dokter, hey. Kamu pasien di sini," ungkap Lilia, yang tak suka dengan pertanyaan sahabatnya.
Lilia seperti tak ingin masalahnya terganggu oleh orang lain, apa lagi sampai diketahui sahabatnya itu.
Terlihat raut wajah amarah, di perlihatkan Lilia, " Bisa tidak kamu jangan membahas masalahku."
Edric tak ingin putus asa, ia muncuil dagu sahabatnya itu, agar Lilia tersenyum dan Mau mengatakan masalah yang terjadi dalam benak dan juga pikirannya.
Lilia mata tajam ke arah Edric." jangan macam macam kamu. Aku ini masih perawan, sok pegang pegang."
Tawa dilayangkan Edric di hadapan Lilia, orang mana yang tidak akan ikut tertawa, melihat Edric mengangkat kedua alisnya, memperlihatkan wajah lucunya.
"Apasih?"
Akhinya Lilia tersenyum, walau sebenarnya sang pemilih bola mata biru itu merasa jijik jika mengajak wanita setengah laki-laki bercanda.
"Haah. Lekong."
Edric ternyata meniru gaya bicara sahabatnya itu, Lilia yang dibaluti dalam kesedihannya. Akhirnya bisa tertawa riang.
Edric senang dan mendapatkan peluang untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi sahabatnya itu.
Karena memang Lucky yang kini menjadi seorang wanita, selalu tertutup. Tidak pernah memperlihatkan kesedihan ataupun masalah yang dihadapinya.
Lucky, selalu menjadi tempat curhat orang-orang, sedangkan dirinya tak pernah meluapkan isi hatinya sendiri.
Ia selalu menjadi sahabat yang terbaik dan pendengar yang bijak, terkadang Lucky tak pernah membuat para sahabatnya kecewa.
Ia selalu merangkai kata-kata dan motivasi yang baik. Dan tidak ada yang menyangka jika kebahagiaan terpancar dari luar, tidak bisa membohongi kesedihan dari dalam hati Lucky.
Edric melihat perubahan Lucky, sebagai wanita langsung bisa menebak. Karena ia sosok lelaki yang dekat dengan Lucky, selalu tahu semua hal.
Sedangkan para sahabatnya tak bisa menebak, dan mereka hanya menatap Lucky wanita untuk yang terlihat sempurna pada pikiran mereka sendiri.
__ADS_1