Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 129 kekonyolan Lucky


__ADS_3

Semua masuk ke dalam rumah, Aira begitu sibuknya menatap makanan yang baru saja ia masak. Makanan di atas meja begitu menarik dan mengunggah selera, tidak ada yang bisa menolak aroma wangi masakan Aira.


Lilia, sosok lelaki yang bernama Lucky itu duduk di atas sopa, Carlos dan Welly begitu semangatnya merayu dan mendekati sang dokter.


Sedangkan Edric seperti ingin muntah melihat gombalan kedua sahabatnya itu.


Carlos memegang tangan sang dokter begitu terlihat mulus, memuji dan berkata." Tangan Bu Dokter ini, indah sekali. Aku suka melihatnya, pasti dokter ini tipe rajin ya, orangnya."


Lucky memperlihatkan senyum menggemaskannya seperti wanita, ia berusaha melembutkan suara dan berkata." Wah, terima kasih pujiannya, aku tipe wanita jorok kok."


"Masa sih," ucap Carlos tak percaya.


"Iya benaran, buktinya celana dalamku ini tak aku ganti ganti," balas Lucky, berusaha selembut mungkin merubah pita suara.


Kedua mata Carlos saling menatap satu sama lain dengan Welly, mereka mungkin menganggap semua hanyalah lelucon.


Welly, mencoba membelai rambut panjang sang dokter dan berkata lagi," rambut ini wangi sekali, Dokter Lilia pandai ya menjaga rambut sendiri."


Edric melihat Welly menciumi rambut Lucky, seakan tak kuat, perasaan ingin memuntahkannya saat itu juga.


Lucky, memegang rambut panjangnya." Aku tidak merawat rambutku, ini hanya pakai minyak rambut mayat saja. "


Deg ....


"Mayat, ah jangan bercanda. Mana ada minyak mayat," ucap Welly dengan tawa agar semua tak terasa menegangkan.


Lucky, menutup mulutnya dan membalas." Salah ya, hehe."


Tawa Lucky begitu menggemaskan, tentu saja membuat kedua lelaki yang menganggumi sang dokter kelepel kelepek.


Sesekali Lucky membuka roknya, memang selama menjadi wanita banyak rutinitas yang ia lakukan, sering kesalon dan tentunya merawat tubuh. Apalagi betis yang tadinya banyak bulu, sekarang rontok tak tersisa, terlihat mulus seperti jalan tol yang baru jadi.


Carlos dan Welly, bertama buaya dan bergelar pelaboy itu membulatkan kedua matanya. Mereka sesekali meleguk salvia, merasa hawa panas dan rasa tak tenang sebagai seorang lelaki.


Carlos tak kuat, hingga tangan ia tempelkan pada betis sang dokter. " Aduh mulusnya. "


Welly memukul punggung tangan Carlos, agar tidak sembarangan memegang betis sang dokter.

__ADS_1


Padahal Carlos sudah mulai meraba dari bawah sampai ke pah* dan ingin berhenti di sawah terbelah sang dokter.


"Hem."


Perdebatan mulai di picu kembali, Carlos dan Welly, berusaha bersikap sopan kembali. Sedangkan Edric yang berpura pura memainkan ponselnya hanya bisa menahan tawa.


"Mereka tak tahu saja, kalau di dalam sana bukan sawah melainkan batang. Hahhha." Gumam hati Edric.


Mengusap pelan wajah yang terlihat memerah, beberapa kali bergidik ngeri, Lucky menempelkan jari tangan pada bibir, memberi kode agar Edric bisa menahan tawa.


"Aduh geli."


Tangan Welly yang nakal, ternyata sudah mendarat pada buah selikon yang sengaja Lucky pasang. Agar penampilan sebagai wanita terlihat sempurna," ada apa, Dokter?" tanya Carlos panik.


Welly, malah semakin menjadi jadi, tanganya merasakan rasa kenyal yang tak biasa. Hingga.


"Aw. Aw, awaw. "


Carlos menjewer telinga Welly dengan begitu keras, membuat sang sahabat merasakan kesakitan.


Edric berpura pura batuk, agar tidak ada kericuhan di rumahnya. Karena melihat Welly dan Carlos sebentar lagi akan bertengkar.


Welly merasa tenang dan ia sudah mengincar buah yang mengantung itu, untuk menjadi sebuah mainan nanti ketika berpacaran dengan sang dokter.


Mengusap kedua tangan, sedangkan Carlos mengincar sebuah sawah kering yang terbelah. "Mm, kalian kenapa, kok liatin Lilia kaya begitu, Lilia ini jelek ya. "


"Lilia nggak jelek kok, Lilia itu menggoda dan semok, " ucap Carlos terus memandangi tumpukan sawah yang tertutup.


"Iya, Lilia itu seperti bidadari yang turun dari comberan. Eh salah dari gunung merapi. Eh salah lagi, " ucap Welly terlihat begitu gerogi. Karena gagal fokus melihat buah mengantung yang terasa begitu kenyal.


Carlos tak terima dengan perkataan Welly, ia memukul bibir Welly, "sebarangan kalau ngomong, Dokter ini seperti bidadari turun dari Wc. Eh salah, maksudnya dari langit. "


"Mm, sama sama salah juga, " cetus Welly, mendelik kesal di hadapan Carlos.


Lucky berusaha memperlihatkan sisi kewanitaannya, ia mengusap perlahan pipi kedua lelaki yang berada di samping kiri dan kanannya.


"Sudah, sudah nanti juga kebagian kok, tenang saja. "

__ADS_1


Edric mengerutkan dahi, tak mengerti dengan apa yang dikatakan Lucky, memang wanita setengah jadi jadian itu, mau memberikan apa kepada Welly dan Carlos.


"Aneh, apa maksud si Lucky itu?"


Gumam hati Edric bertanya dalam hati.


Sedangkan Welly dan Carlos, senang. Ia mengira jika sang dokter mengerti apa keinginan mereka, seakan sebuah hadia di pagi hari yang akan menyegarkan setamina.


"Aku pergi dulu, liat istriku. Apa sudah beres memasak, kasihan soalnya sendiran di dapur mana lagi hamil lagi. " Mendengar Edric berkata seperti itu, Lucky juga beranjak berdiri, ia mulai berniat membantu Aira memasak di dapur.


Kedua sahabat Edric malah melogo melihat cara berjalan Lilia yang memakai rok pendek dan berlenggak lenggok menampilkan kesemokan pada tubuh sang dokter.


Dokter itu kini melirik ke arah Carlos dan juga Welly, membuat keduanya terpana dan menjatuhkan diri ke atas sofa.


Memegang dada dengan tangan kanan. " Pokonya aku harus memiliki si Dokter Lilia itu."


Kedua lelaki itu saling bergumam ingin memiliki sang dokter, mereka sudah tak tahan dengan kesemokan dan wajah cantik dokter Lilia.


Hati Kedua lelaki itu meleleh, merasakan hawa cinta dan birah* mengelora dalam jiwa.


Mereka mulai beranjak berdiri dari sofa tempat duduk mereka, berlari untuk mengejar sang dokter yang pergi ke dapur.


Setelah sampai di ruangan dapur, Carlos dan Welly kembali melihat sosok seorang dokter tengah membantu Aira memasak.


Di mana dokter itu malah sengaja membuat tangannya terluka, Welly dengan terburu-buru berlari, mengambil tangan yang terluka, membersihkan dengan mulutnya. "Aw sakit."


Aira yang melihat pemandangan mengerikan itu, mengusap pelan perut, mengucap kata, " amit amit deh. "


Sedangkan Edric yang melihat tingkah konyol mereka, hanya bisa tertawa dengan menutup mulutnya.


Carlos mencoba mendekat, dan memberi perhatian lebih kepada Lilia, " kamu sebaiknya istirahat saja di sofa, biar kami berdua ini yang memasak."


Welly membulatkan kedua matanya, menatap tajam ke arah Carlos, tidak terima dengan apa yang ia katakan.


Welly berusaha menolak ajakan Carlos, " ih . Enak sa ... "


Belum perkataan Welly terlontar semuanya, Carlos langsung menunjukkan satu barang tajam, ke arah Welly, di mana benda tajam itu ternyata untuk memotong sayuran.

__ADS_1


Bernapas lega, Welly kira akan di bunuh.


__ADS_2