
"Siapa kamu? Kenapa kamu sampai bisa mengenal anak saya Dania?" tanya wanita yang kini sudah berada di hadapan Ellad.
Lelaki tua berambut putih itu, merasa ragu mengatakan bahwa dirinya adalah suami Dania kepada wanita yang menjadi ibu kandung Dwinda.
Wanita dengan rambutnya yang begitu berantakan, menatap tajam ke arah Ellad. Memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap sang CEO.
Tatapan wanita tua itu mengarah pada jas Ellad, ia meraih jas itu, menggenggam begitu erat seperti mengingat mendiang suaminya yang sudah meninggal dunia.
"Dulu suami saya sering saya pakaikan jas seperti ini, dia begitu tampan dan juga gagah saat saya pakaikan jas kantor yang setiap hari saya pilihka, untuknya. Tapi sekarang."
Kedua mata wanita itu berkaca-kaca, memperlihatkan kesedihan yang amat ia rasakan, setelah kepergian sang suami. Hidup seakan tak berarti baginya, membuat iya depresi dan juga tak bisa mengontrol diri.
Hingga kini wanita itu dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa, karena sering berteriak dan juga mengamuk ketika mengingat anaknya Dania.
Ia mengigat kejadian dimana Dania bertengkar dengan ayahnya, mengakibatkan serangan jantung mendadak kambuh. Hingga akhirnya meninggal dunia.
Karena rasa penasaran Ellad kini bertanya." Apa ibu tahu Dania sudah menikah?"
Pertanyaan Ellad, membuat wanita yang dianggap gila itu menjawab perkataannya." Selama saya di rumah sakit jiwa, saya tidak pernah melihat anak itu. Dia selalu mengingatkan akan kematian suami saya. Saya benci dengan dia."
Ellad merasa heran, Kenapa bisa ibunya tidak mengetahui keberadaan Dania. Apa Dania tidak pernah menjenguk ibunya sendiri, tapi di dalam penjara ia terlihat begitu peduli pada ibunya.
"Apa ibu ingin bertemu dengan anak ibu sendiri?" tanya Ellad pada ibunda Dania.
"Apa kamu tahu keberadaannya? Sebagai seorang ibu. Saya ingin sekali bertemu dengan anak itu, tapi setiap kali melihat raut wajahnya, selalu mengingatkan kejadian akan kematian ayahnya sendiri!" jawab wanita tua itu sembari menundukkan pandangan, terlihat sekali raut wajah yang menantikan sang anak datang dengan Kerinduan dalam hatinya.
__ADS_1
"Hem, kalau saya berkata jujur kepada anda. Apa anda akan menerima semua perkataan saya dan mempercayainya?" tanya Ellad, dengan penuh hati-hati ia berusaha membuat wanita tua itu tetap tenang.
Ellad tak mau jika kesalahpahaman, menjadikan wanita tua itu murka dan mengusirnya pergi.
" Berkata jujur? Maksud kamu apa ya?" tanya wanita tua itu, ia tak mengerti dengan penjelasan yang dikatakan Ellad.
Ellad dengan penuh keyakinan, kini mengatakan semuanya," saya adalah suami dari anak ibu, Dania."
Kedua mata membulat, masih tak percaya dengan apa yang dikatakan lelaki berambut putih itu. Ia menunjuk jari tangannya ke arah wajah Ellad, " kamu suami dari anak saya?"
Wanita tua itu membalikkan badan, seakan enggan menatap lelaki tua yang berada di hadapannya. "Itu tidak mungkin, Dania itu masih muda, mana mungkin ia menikahi lelaki tua seperti kamu."
"Apa yang tidak mungkin di dunia ini, kalau berjodoh ya pasti menikah. Tidak memandang usia," ucap Ellad. Membuat keyakinan pada diri wanita yang berada di hadapannya.
Menarik napas terasa sesak, Ellad menyadari bahwa dirinya memang sudah tua, ia tidak berbohong bahwa Dania wanita muda, menikah dengannya. Wanita yang sudah mengganti namanya menjadi Dwinda.
Ellad merogoh saku celananya, memperlihatkan foto dirinya dengan sang istri dalam balutan pernikahan," jika memang anda tidak percaya bahwa saya adalah suami dari anak anda, silakan anda lihat ini."
Ellad menampilkan foto itu di hadapan wanita tua, di mana kedua matanya masih merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat," Bagaimana bisa anakku menikah dengan lelaki tua seperti kamu?"
Kekecewaan ia perlihatkan dari ekspresi wajahnya.
"Saya bukannya sudah bilang tadi, jika berjodoh itu tak memandang usia, Dania menikahi saya tidak ada keterpaksaan," balas Ellad, semakin meyakini wanita tua itu.
"Sekarang di mana Dania. Aku ingin berbicara dengan anakku memastikan bahwa memang benar kamu itu adalah suaminya?" tanya Ibunda kepada Ellad terlihat kedua matanya tengah mencari cari keberadaan Dania.
__ADS_1
Dengan terpaksa lelaki berambut putih itu harus mengatakan semua kejahatan yang dilakukan wanita bernama Dania itu.
Sang ibunda harus mengetahui semua, Kalau tidak dia akan selalu menganggap anaknya itu adalah orang baik.
"Maafkan saya sebelumnya, saya ingin mengatakan lagi kejujuran tentang anak anda sekarang, anak anda ada di dalam penjara karena kasus yang tak bisa saya maafkan, " jawab Ellad. Membuat rasa sesak terasa pada hati wanita tua itu.
Awalnya Ellad ragu, tapi semua harus ia lakukan agar tidak ada lagi kesalahpahaman. Walau memang dulu ia sempat kejam pada ayah Dwinda, telah menolak kerja sama dan membuat ayah Dwinda jatuh bangkrut.
Tapi tentang kematiannya, Ellad tak ada hubungan sama sekali. Ia tak bersalah, ia hanya menjalankan tugasnya dalam berbisnis. Tak mengenal orang itu mau bangkrut atau tidak, dia harus bisa menyelamatkan dulu dirinya.
Apalagi setelah menolak, perusahaan ayah Dwinda terkenal banyak yang mengkorupsi.
Bagaimana bisa Ellad menyelamatkan orang yang nantinya akan merugikan dirinya sendiri.
"Apa yang sudah dilakukan anakku, kenapa dia bisa masuk ke dalam penjara?" tanya kembali wanita itu terlihat hampir berteriak histeris.
Walau sakit jiwanya sudah sembuh, tapi masa traumanya masih ada, maka dari itu ibunda Dwinda belum diizinkan untuk keluar dari rumah sakit jiwa, karena sebuah alasan. Takut jika menyakiti orang lain.
" kesalahannya sangat patah, ia sudah membuat anak saya lumpuh dan juga istri saya mati. Bagaimana bisa saya memaafkan anak anda, jika keluarga saya hancur akan kejahatannya," jawab Ellad membuat wanita tua itu sok berat. Iya tak menyangka jika anaknya adalah seorang pembunuh dan juga penjahat, sampai tega membuat keluarga lelaki tua yang dihadapan wanita itu menderita.
"Kenapa dia bisa melakukan kejahatan itu, saya mengira jika anak saya itu akan berubah setelah kematian ayahnya," ucap wanita tua itu dalam kesedihan yang mendera dalam hatinya, masih ada rasa tak percaya dan menduga jika Dania tak bisa mengontrol diri akan kematian ayahnya.
kedua matanya berkaca-kaca terlihat sekalian ia berusaha menahan air mata, yang mengenang agar tidak terjatuh ke dasar pipi.
"Saya, sudah mengatakan semuanya. Pada anda, saya berharap anda tidak marah terhadap saya, karena sudah membuat anak anda masuk ke dalam penjara."
__ADS_1