
Aira masuk ke dalam mobil dengan wajah cemberutnya, ia tak suka jika diketahui oleh para ibu-ibu bahwa dirinya kucel dan bertubuh kurus, apalagi mengatakan bahwa Edric tidak pantas dengannya.
Padahal Aira berusaha menjadi sosok ibu yang baik dan juga istri seutuhnya, mengurus semua keperluan di rumah begitupun dengan suami dan anaknya.
Memang terasa berat dan dilakukan semua serba sendiri, tapi Aira yang merasakan semua itu begitu bahagia, dan merasa pernikahannya itu tidak sia-sia.
Edric mencoba merayu sang pujaan hati agar tidak cemberut terus-menerus, Aira memeluk anak semata wayangnya dengan erat, mencoba menahan rasa kesal yang mendera.
"Sayang, katanya kamu tadi mau pergi ke toko yang lain, loh sekarang kok malah masuk ke dalam mobil."
Edric sudah tahu apa yang dirasakan istrinya.Di mana para ibu-ibu yang berada di toko pakaian itu menghina istrinya. Edric mulai merogoh saku celananya, Mencari tahu siapa suami dari ibu-ibu yang berani menghina istrinya.
"Sayang sudah ah, marahnya." Edric mencoba merayu, menyuruh sang istri agar tidak cemberut." kalau kamu cemberut itu jelek tahu."
Bukannya menghibur sang istri, Edric dengan beraninya mengatakan perkataan yang tidak disukai Aira," Apa kamu bilang aku jelek."
Aira mulai menampilkan wajah kesalnya di hadapan Edric, sang CEO muda itu mulai berusaha menjelaskan apa yang dikatakanya. " Sebenarnya aku tidak bermaksud berkata seperti itu, aku hanya berkata seumpamanya saja."
"Sama saja, kamu seperti menghinaku jelek," timpal Aira memperlihatkan wajah cemberutnya kepada sang suami.
Edric coba merayu sang istri," ya maaf aku juga nggak tahu kalau perkataan itu sama saja menghina."
Aira tetap saja cemberut, hingga pada akhirnya. Edric menyuruh pak Hasan untuk membawa mereka ke toko es krim dan toko bunga.
Walau sedewasa apapun Aira, Iya tetap menyukai hal-hal yang kecil.
Dalam hati Aira bersorak hore, walau bibirnya cemberut," Ayo dong sayang senyum, kok kamu gitu sih dari tadi."
Aira mulai menampilkan senyuman keterpaksaannya di hadapan sang suami, senyuman itu membuat Edric tertawa terbahak-bahak, sampai dimana CEO muda itu mencium pipi sang istri.
Pak Hasan melihat pemandangan itu tentulah merasa iri, "Cie kaya pengantin baru saja." Sindir Pak Hasan kepada kedua majikannya.
"Ya elah Pak Hasan sirik aja, nanti pulang juga peluk bini, " balas Edric, malah membuat Aira tiba tiba tertawa, ternyata dibalik kesalnya Aira, ia menahan tawa.
"Sayang, kamu tertawa?" Sang pemilik bola mata biru, memeluk erat pujaan hatinya. " Aku bahagia sekali melihat kamu tertawa seperti ini."
"Kamu sih, bisa aja bikin istri moodnya balik lagi ke asal!" jawaban Aira membuat senyuman indah Edric terpancar.
__ADS_1
"Alah, cie cie. Bikin Pak Hasan ingin cepat-cepat pulang nih melihat kalian seperti itu terus," timpal Pak Hasan dengan tawa sembari menyetir mobil.
Edric mencubit hidung sang istri dan berkata." Kamu memang istri tercantikku."
Tawa Pak Hasan kini kembali lagi muram, setelah sesuatu membuat hati lelaki tua itu redup.
Dreet ....
Suara ponsel berbunyi. Tanda panggilan telepon dari sang ayah?" Halo. Dad. "
"Kenapa kalian lama sekali pulang, Daddy sudah tak sabar menunggu."
"Iya Dad, sabar ya. Kami akan segera pulang sebentar lagi."
"Baiklah, Daddy tunggu kedatangan kalian berdua ya."
"Ya Ded."
Panggilan telepon kini dimatikan sebelah pihak, Edric menaruh kembali ponsel pada saku celananya.
"Ya, Daddy menyuruh kita untuk cepat-cepat datang ke rumah!" balas Edric pada sang istri.
Pak Hasan yang mendengar perkataan Edric, membuat lelaki tua itu berkata." Sebenarnya sesuatu terjadi di rumah?"
Deg ....
Edric baru pertama kali mendengar, Pak Hasan mengatakan sesuatu hal yang belum ia tahu.
"Terjadi sesuatu di rumah? Maksud Pak Hasan," Edric tak mengerti dengan topik pembicaraan Pak Hasan yang tiba-tiba saja membahas tentang rumah.
"Saya sebenarnya tidak bisa mengungkapkan langsung kepada Tuan, Karena saya takut jika Tuan Ellad akan murka kepada saya. "
Edric sudah melihat kecemasan dari raut wajah Pak Hasan, ia mencoba menenangkan lelaki tua yang sudah menemaninya dari kecil, sopir pribadi yang selalu setia.
"Loh kenapa bisa begitu, ayolah katakan. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah?"
"Iya Pak Hasan, coba jelaskan kepada kami."
__ADS_1
Pak Hasan, Berusaha tetap tenang mengendarai mobil, perlahan mulutnya mulai terbuka lebar." Tuan Galih membawa lagi orang yang kalian sangat tidak suka," ucap Pak Hasan bertele-tele.
"Ayolah katakan Pak Hasan siapa orangnya. kami berdua sangat penasaran sekali?"
"Tidak bisa tuan, sebaiknya kita segera pulang ke rumah, agar Tuan Edric dan Nyonya Aira melihat sendiri orangnya. "
Pak Hasan ketakutan sekali, sampai tak berani mengungkapkan siapa yang ada di dalam rumah.
Edric tak bisa menekan sopirnya," Ya sudah, kalau memang Pak Hasan belum siap mengatakan siapa orangnya, sebaiknya kita pergi langsung ke rumah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi kepada Deddy," ucap lembut Aira membuat Pak Hasan sedikit bernafas lega.
"Ya sudah kalau begitu," terlihat sekali Edric tanpa tak suka dengan apa yang dikatakan istrinya, karena yang ia butuhkan sekarang mengetahui siapa orangnya, sebelum bertemu dan menghajar orang itu.
"Tunggu."
Di tengah rasa penasaran yang terjadi, Edric sengaja menghentikan Pak Hasan, ia turun dari dalam mobil, Pak Hasan mengira, jika akan ada banyak pertanyaan.
"Loh, sayang kamu mau ke mana sih?" tanya Aira, melihat suaminya langsung membukakan pintu mobil.
Edric melihat ke arah wajah istrinya yang memanggil," ada deh rahasia."
Aira melipatkan kedua tangan, karena mengatakan sebuah rahasia." rahasia apa sih, sampai harus turun dari dalam mobil."
Edric tak memperdulikan istrinya yang mengoceh terus-menerus, Pak Hasan dan Aira terpaksa menunggu di dalam mobil.
Hingga dua puluh menit kemudian, Edric ternyata datang membawa coklat beserta bunga untuk Aira.
"Sayang kamu lihat ini apa?" tanya Edric, Aira hanya menganggukkan kepala, tak percaya jika Edric sengaja turun dari dalam mobil hanya untuk membeli coklat dan bunga kesukaan istrinya itu.
Aira dengan raut wajah gembira dan tersenyum lebar, ini meraih hadiah yang diberikan suaminya.
" Aku sengaja membelikan ini untuk kamu, karena tadi saat kamu mengoceh kamu ingin pergi ke toko coklat dan juga toko bunga, tapi karena Daddy menyuruh untuk pulang. Terpaksa makanan ini di buang.
"Terima kasih sayang," ciuman mesra dilayangkan oleh Aira pada kedua pipi suaminya, terlihat Aira begitu beruntung memiliki seorang lelaki yang begitu menyayanginya.
Apapun keinginan selalu terpenuhi oleh Edric, " oh ya satu lagi."
Edric mulai merogoh saku celananya, memperlihatkan perhiasan kecil untuk jari jemari tangan Aira.
__ADS_1