
Siska berlari dengan rasa malunya, banyak kedua pasang mata melihat ke arahanya, ia terlihat begitu Kotor. Baju mewah yang dikenakannya tak terlihat cantik lagi, karena tertumpah jus buah yang dipesan oleh Aira.
"Aduh, ini warna jus kuning. Ish, mana di belakang lagi, kesannya kaya ee."
Siska berusaha membersihkan warna kuning yang melekat pada gaun putihnya, dengan berusaha keras agar rasa malunya hilang.
"Ahkk, bagaimana aku pulang. Kalau jadinya seperti ini," ucap Siska, mencari sebuah sabun yang bisa menghilangkan noda kuning di gaunnya.
Berusaha keras, tapi noda kuning itu tetap saja tidak hilang, membuat Siska merasa kebingungan sendiri.
Aira masih belum puas, ia dengan keisengannya. Menyuruh Edric menjaga Erlagga sebentar. Karena ada sesuatu yang harus di tuntaskan, demi membuat hatinya lega Ketika pulang nanti.
"Sayang, kamu jaga dulu Erlangga ya aku mau ke toilet dulu sebentar," ucap Aira, berpura-pura mengusap perutnya terasa sakit mulas.
Edric kini mengambil Erlangga dari tangan Aira, menggendongnya melihat anak itu begitu sangat menggemaskan. Sedangkan Aira terburu-buru berlari untuk segera pergi menemui Siska, di setiap langkah kaki menuju ke kamar mandi. Aira tersenyum jahil, ia ingin mengerjai wanita itu lagi.
"Awas ya, siapa suruh sok kecentilan."
Aira menggerutu kesal, ia terlihat tak sabar ingin segera menemui Siska.
Masuk ke dalam toilet.
Pas sekali, Siska keluar dari dalam toiletnya. Dengan warna baju yang terlihat kumuh, karena tersiram berbagai jenis makanan di restoran.
"Oh Hai."
Aira menyapa sang dosen, Kebetulan sekali di toilet itu tidak ada orang satupun. Hanya mereka berdua saja, satu kesempatan untuk Aira. Mengerjai sang dosen yang begitu kecantilan.
"Kamu." Siksa menatap ke arah Aira, dari ujung kaki hingga ujung kepala, ia menatap dengan begitu detail.
Aira tersenyum, melipatkan kedua tangannya di hadapan sang dosen," Ya siapa lagi?"
Siska terlihat begitu ilfil melihat wanita yang menjadi istri Edric, " Bagaimana bisa Edric mencintai seorang wanita yang sederhana seperti ini, dari dandanan juga ia terlihat begitu seperti orang kampung." Gerutu hati sang dosen dalam kesadaran minuman.
__ADS_1
"Ada apa ya?" tanya Siska kepada Aira, bibir mungil itu iya kerutkan di hadapan mah istri Edric.
Berkacak pinggang, Aira masih mencium bau alkohol pada mulut sang dosen," Coba deh kamu segera pulang ke rumah, terus sadarkan diri kamu agar tidak mengganggu suami orang."
"Mm, memangnya aku ini kenapa?"
Siska terlihat tak terima dengan perkataan Aira, ia menatap tajam wanita yang di nikahi Edric.
"Kamu, tidak kenapa kenapa, hanya saja aku tak suka lihat kamu selalu menggoda suamiku!" balas Aira memberi sebuah peringatan kepada Siska agar menjauhi Edric.
Siska yang memang masih dipengaruhi alkohol dan juga obat-obatan. Pastinya, bersikeras dengan apa yang ia inginkan, tak ingin dilarang oleh siapapun.
"Heh, tidak ada orang yang lancang menyuruhku seperti itu ya, asal kamu tahu. Edric itu kelilipan batu kerikil karena sudah memilih wanita jelek seperti kamu." Siska dengan beraninya menghina Aira.
"Berani kamu menghina aku. Harusnya kamu sadar diri sebagai seorang wanita, kamu harus jaga harga diri kamu itu, jangan seenaknya menginginkan laki-laki yang sudah beristri," Aira tak takut dengan hinaannya itu, ia membalas.
Siska merasa seakan direndahkan, yakini berusaha membuat Aira sadar diri," eh, yang harusnya sadar diri untuk kamu, sudah jelek sok pengen jadi istri cewek lagi."
Siska semakin tak terima dengan ejekan yang terlontar dari Aira, obat yang diberikan sahabat-sahabatnya itu semakin mempengaruhi pikirannya," Apa maksud kamu menyamakan aku sebagai seorang pelakor?"
Aira tertawa lepas di hadapan Siska," aku tidak menyamakan kamu dengan seorang pelakor, aku hanya ingin mengingatkan kamu jangan jadi pelakor. Kamu paham, makanya punya kuping itu dibersihin biar nggak budek!"
Siska memegang telinganya setelah Aira mengatainya. " Kamu bilang aku budek?"
"Ya, budek. Kamu cantik cantik budek!"
Aira semakin puas membalas wanita yang ada di hadapannya. Iya sengaja melakukan semua itu, agar sang dosen gerak dan tidak mengganggu suaminya lagi.
"Berani kamu," ucap Siska.
Kedua tangan Siska mulai mengacak rambut Aira, tapi berhasil ditepis oleh Aira. Siska malah tersungkur jatuh di atas lantai.
"Aduh, pasti menyakitkan ya," ledek Aira pada Siska.
__ADS_1
"Kurang ajar kamu," hardik Siska. Mengepalkan kedua tangan, berusaha untuk berdiri menyerang lagi Aira.
Namun dengan kepintaran Aira, ia mengambil air dan juga sabun, mengguyurkan di hadapan Siska.
Bukan membuat Siksa berdiri, wanita yang menjadi dosen itu malah terjatuh dan terjatuh lagi.
"Ahahha, aduh pasti sakit ya."
Aira kini melemparkan bubuk kuning, pada punggung Siska, sengaja agar ia ditertawakan oleh orang lain.
"Rasakan ini, makannya jadi wanita itu jangan ganjen, kan sekarang tanggung sendiri akibatnya."
Siska benar-benar dipermalukan oleh Aira, ia berdiri pun seakan tak mampu. Sampai dimana dia mencoba melepaskan sepatu high heel yang ia pakai.
Benar benar menyedihkan sekali nasib Siska, bertemu dengan Edric bukanlah menjadi kebahagiaannya, malah kehancuran yang akan mempermalukan hidupnya saat itu juga.
"Oh ya, aku pamit dulu ya. Mau menemui suamiku dan juga anakku yang masih berada di meja makan, oh ya silakan kamu bersenang-senang dengan sabun ini, pasti sangatlah seru, jatuh dan jatuh lagi. " Tawa dilayangkan Aira dihadapan Siska, ia kini pergi keluar dari toilet wanita.
Namun saat Aira melangkahkan kaki, Siska malah menarik kaki Aira hingga terjatuh.
Brugg ... Suara menyakitkan terasa pada diri Aira, mencoba menahan rasa sakit itu, Aira berusaha bangkit.
Siska tak segan-segan memukulkan sepatu high heels-nya kepada Aira, tapi pukulan dari sepatu itu. Mampu ditahan oleh tangan Aira, " berani kamu melayangkan pukulan kepadaku, kamu tidak tahu ya aku ini jago dalam beladiri."
Siska berusaha memberontak dengan sekuat tenaga, menggerakan lagi tangan kiri yang masih menggenggam high heels, malayangkan sepatu itu untuk segera memukul wajah Aira.
" Rasakan ini."
Bukannya mengenai wajah Aira, sepatu itu kini tertahan pada tangan kanan Aira," kamu ternyata mau coba-coba denganku. Oh ya, jangan salahkan aku ya jika tanganmu ini patah."
Krek .... Ahk. Siska menjerit kesakitan, karena Aira yang sedikit mematahkan tangan Siska.
"Sakit kan?" Siska kini tak berdaya, Iya nyetir duduk lesu di teras toilet wanita. Mencoba mencari tasnya, Siska lupa jika tas itu ternyata ada di meja makan.
__ADS_1