Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 43 Satu pukulan.


__ADS_3

Kedua insan yang baru bertemu lagi, setelah delapan jam lamanya berpisah. Kini memadu kasih saling berpelukan, meluapkan semua rasa rindu. Edric begitu sangat menyayangi Aira, ia tak mau jauh dari sang istri.


Sedangkan dengan Aira, ia masih ragu dengan perasaanya saat ini. Karena niat balas dendam atas kematian ibunya belum terbalaskan, dan dia belum tahu apakah Edric lelaki yang tulus mencintainya.


Wajah Edric perlahan mendekat ke arah bibir Aira, bibir tipis berwarna merah muda begitu menggoda, sampai Edric tahan lagi ingin menekram sang pemilik bibir tipis dihadapanya.


Tok ... Tok ....


Sentuhan mulai terjadi.


ketukan pintu pada kamar mereka membuat keduanya terkejut.


Edric kesal, setiap momen bersama sang istri selalu terganggu dengan seseorang yang berani mengetuk pintu kamar Edric .


"Ck, siapa lagi?"


Mengacak kasar rambutnya, Edric mulai menyingkirkan tatapannya dari kedua mata sang istri.


Sang CEO muda itu berusaha tidak meluapkan kekesalannya di hadapan Aira, ia tak mau jika wanita yang menjadi istrinya tahu saat ia tengah marah.


Edric memutarkan kursi roda kehadapan pintu, sedangkan Aira pergi ke kamar mandi, untuk segera merapikan baju yang terlihat berantakan.


Saat Edric membuka pintu, ia melihat sang ayah yang ternyata sudah berdiri, dengan raut wajah tak menyenangkan saat dipandang oleh Edric.


"Ada apa, Dad."


Terlihat sekali raut wajah lelaki berambut putih itu seperti sedang memikirkan hal-hal yang membuat dirinya pusing, di satu sisi lain Edric memikirkan Dwinda dan di satu sisi lainnya ia memikirkan pekerjaan.


"Apa boleh Dady, mengobrol sebentar dengan kamu."


Ada raut tak menyenangkan saat sang ayah mengajaknya untuk mengobrol, padahal ia ingin sekali beristirahat dan bermanja-manja dengan istrinya.


Namun melihat raut wajah sang ayah yang terlihat tak bersemangat, membuat ia merasa kasihan, dengan terpaksa menjawab." ya sudah kalau begitu."


Edric mulai menutup perlahan pintu kamarnya, ia mengikuti langkah sang ayah dengan memajukan kursi rodanya.


Setelah sampai di ruang kerja, obrolan mulai layangkan Ellad, lelaki tua itu duduk dengan menatap ke arah Edric.


"Apa yang ingin Dady obrolkan?"

__ADS_1


"Sebenarnya ini tentang ibu tiri kamu!"


Mendengar jawaban yang dilayangkan sang ayah, membuat Edric malas setelah mendengar kata ibu tiri.


"Kalau Dady, mau membahas tentang wanita itu, sebaiknya Edric pergi saja."


"Ini hal yang serius, Edric."


Terlihat raut wajah Edric yang tak peduli, membuat ia hanya bisa membuang wajah.


"Sudahlah Dad, Edric malas jika membahas wanita itu."


"Edric, kenapa kamu membenci ibu tirimu sendiri, diakan tidak punya salah apa apa terhadapmu."


Ellad tidak tahu saja selama ini, wanita licik itu berusaha membuat Edric jatuh hati kepadanya. Hanya saja sang CEO muda tak berani membuat hati ayahnya sakit.


"Tidak ada yang bisa mengantikkan ibu Maya, di hatiku, Dad. Karena dia ibu yang sesungguhnya."


"Dady, mengerti. Tapi alangkah mengertinya kamu Edric. Jika Ibu kamu tak bisa hidup kembali, jadi apa salahnya kamu menerima Dwinda sebagai ibu kandung kamu sendiri, ia banyak berkorban untuk kamu."


Tawa perlahan keluar dari mulut Edric di hadapan sang ayah, "membantu apa, Dad. Yang ada aku ini makin parah, aku sudah menduga jika Dwinda itu adalah dokter gandungan yang berani mendekati papa, hanya untuk mempunyai nama dan gelar istri CEO."


"Jaga ucapan kamu Edric, kamu tak bisa memfitnah orang tanpa bukti yang nyata."


" Sudahlah Dad, memang kenyataannya seperti itu."


Ellad berusaha menahan rasa kesalnya, ia mengepalkan kedua tangan. Menatap ke arah Edric dengan tatapan kesal dan ingin meninju bibir tebal yang asal bicara itu.


"Sadar Dad, buka mata hati Dady. Dia bukan wanita baik baik."


Tangan yang berusaha Ellad tahan, akhinya mengenai juga Edric.


Ini petama kalinya, Ellad memukul anak semata wayangnya itu, Dada lelaki berambut putih, naik turun, seperti merasakan rasa penyesalan karena menuruti hawa napsu.


"Hanya itu saja, keberanian yang Dady tunjukan kepadaku. Setelah perjuangku untuk membantu Dady, dibalas dengan satu pukulan."


Ellad, menatap tanganya. Terlihat kepalan tangan dan rasa penyesalan tersimpan pada hatinya.


"Aku benar benar bodoh, apa yang aku lakukan."

__ADS_1


Edric, berusaha menahan rasa sakit pada pipinya. Ia pergi dari hadapan Ellad. Tak ada ucapan yang terlontar lagi dari mulutnya, terlihat sekali kembencian hampir merusak pikirannya.


"Edric, tunggu. Yang tadi Dady lakukan .... "


Sang CEO muda menunjukkan tanganya dari arah belakang, "Sudah, cukup. Semua ya sudah jelas, jadi jangan bahas lagi apapun. Aku sekarang ingin tenang."


" Tapi, Edric. Dady minta maaf."


Setelah kata maaf itu terlontar dari mulut Ellad, Erdic ternyata sudah pergi dan tak menoleh sedikit pun ke arah ayahnya.


Sang CEO muda, kini menjalankan kursi rodanya untuk segera sampai di dalam kamar, Dwinda yang ternyata keluar dari kamarnya, sembari memegang pingang dan berjalan bongkok. Melihat bibir Edric berdarah.


Dengan perlahan berjalan dan mendekat ke arah Edric, Dwinda berucap." Edric, kamu kenapa."


Tangan mulus sang pemilik bola mata coklat mulai memegang darah yang mengalir sampai bawah dagu Edric.


Namun dengan sigap Edric, menghepaskan tangan ibu tirinya sembari berkata." Jangan berani sentuh pipi saya. Dasar wanita tidak tahu diri."


Dwinda, mengigit bibirnya. Merasakan rasa kesal ketika kata kata tak tahu diri itu keluar dari mulut Edric.


"Jangan sok baik di depan saya. Karena saya paling tak suka berhadapan dengan wanita munafik seperti kamu."


Sang CEO muda mulai meninggalkan Dwinda, ia malas jika berdebat dengan wanita yang ia anggap murahan.


"Edric, sialan. Memang kamu belum jatuh kepulakanku sekarang, tapi lihat saja nanti. Apa yang akan aku lakukan pada kamu." Gerutu hati Dwinda.


Ellad datang merangkul bahu Dwinda dan bertanya.' Kenapa kamu ada di sini, bukannya kamu ini masih merasakan rasa sakit di pinggang."


Dwinda diam, tak menjawab perkataan sang suami. karena dirinya kesal, jika Ellad masih saja membela Aira.


Membuang wajah dari hadapan Ellad, Dwinda kini berjalan menuju pintu kamar. Dengan sengajanya, ia menutup pintu dengan begitu keras.


"Dwinda. Sayang."


Panggilan Ellad tak di dengar oleh Dwinda sedikit pun, wanita itu ternyata tak mempedulikan sang suami.


Sedangkan Dwinda yang sudah berada di dalam kamar, tertawa pelan dengan berkata." Rasain, siapa suruh terus membela wanita gadis itu, aku sudah bilang. Aku bisa saja membuat Ellad menyesal dan tak mau jika aku diamkan."


Tok .... Tok .... Tok ....

__ADS_1


Terdengar suara ketukan pintu beberapa kali, membuat Dwinda hanya diam tak membuka pintu kamarnya.


__ADS_2