Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 127


__ADS_3

"Kamu punya masalah, Lucky?" tanya Edric kepada sang dokter, panggilan yang dilayangkan oleh Edric membuat sang pemilik nama itu langsung menatap ke arah sahabatnya.


Terlihat jika sang dokter masih nyaman menggunakan namanya sendiri, bukan nama panggilan seorang wanita yang bukan ditakdirkan untuk dirinya.


"Lucky."


Ada rasa penyesalan menyelimuti hati Sang dokter, ketika nama itu dipanggil kembali untuk dirinya. " apa kamu nyaman dengan nama itu?"


Pertanyaan sang sahabat tentu saja membuat sang dokter tanpa sadar menganggukkan kepala, Edric seperti tahu apa permasalahan yang kini dihadapi Lucky.


" Apa kamu ingin merubah dirimu seperti dahu? " pertanyaan menyulitkan untuk dijawab oleh sang dokter, yang memang dalam hati kecilnya ingin sekali merubah penampilannya seperti dahulu.


Mungkin selama ini, Lucky terlalu gelap mata untuk menjadi seorang wanita, yang ternyata hanyalah sebuah dorongan karena permasalahan.


Merubah diri menjadi seorang wanita bukanlah jalan keluar untuk menyelesaikan masalah, yang ada akan menyulitkan diri sendiri.


Itulah yang kini dirasakan Lucky, Ia juga ingin merasakan bahagia menikah dan memiliki seorang anak, bukan malah mengubah takdir diberikan tuhan, menjadi seorang wanita.


Edrik mengira jika perkataannya tidak membuat tetesan air mata keluar dari sudut mata sang sahabat, tapi ternyata Lucky mengeluarkan semua air mata itu tanpa rasa malu sedikit pun.


"Aku menyesal, Edric. Apa bisa aku menjadi Lucky seperti dulu." Edric tak menduga, hanya dengan pertanyaan seperti itu. Membuat sahabatnya mengeluarkan penyesalan yang amat dalam, padahal ia hanya mengira ngira saja, karena merubah keinginan orang lain sangatlah sulit.


Terkadang dengan diri sendiri pun.


" Sebenarnya, aku sudah menyesali perubahanku sejak dulu, setelah mimpi itu datang," ungkap Lucky, mengusap kasar air matanya yang terus berjatuhan.


"Mimpi, memangnya kamu bermimpi apa?" tanya Edric, penasaran dengan jawaban sahabatnya.


Lucky yang tadinya berdiri, kini duduk di atas lantai. Ia menceritakan tentang mimpinya kepada Edric, "Ibuku berpesan untuk jadi diriku sendiri, ia tak suka jika aku menjadi seorang wanita. Karena menyalahi kodrat tuhan."


Edric bernapas lega, tak harus susah payah merubah sahabatnya itu menjadi lelaki sejati. Lucky ternyata sudah menyadari kesalahannya sendiri, penyesalan sudah dari dulu ya rasakan, tapi Iya bingung harus memulai dari mana untuk merubah dirinya kembali.


karena tak ada curhatan hati untuk bisa merasakan kesedihan.


"Ya sudah, kalau memang kamu ingin merubah diri kamu, kita akan mengubah penampilan kamu besok. Kamu siap?"


"Baiklah."


Setelah mencurahkan masalah yang dihadapi Lucky, kini Edric mulai fokus pada kakinya.


Menjalankan terapy dan penyebuhaan dari Lucky, sudah mulai membuat Edric sedikit demi sedikit bisa berjalan, melangkahkan kaki secara perlahan.

__ADS_1


Walau terasa berat, namun keyakinan yang sangat kuat, membuat Edric bisa menahan tubuh dengan berdiri.


"Ada perkembangan, akhirnya ada harapan untuk kamu bisa berjalan lagi, semangat."


Dreet .... Suara ponsel berdering, satu tanda pesan datang dari ponsel Lucky, " Loh siapa ini?"


Bertanya pada dirinya sendiri, ada perasaan bingung. Karena akhir akhir ini, Lucky tak pernah memberikan nomor ponsel pada siapapun.


"Ini, nomor ponsel siapa ya?" tanya Lucky pada dirinya sendiri.


(Hai, Lilia?)


"Dia tahu nama samaranku lagi?"


Mengerutu pada layar ponsel, Edric tiba tiba ada di belakang Lucky yang duduk di atas sofa, melihat layar ponselnya.


Karena Edric sudah menduga jika Carlos dan Welly pastinya akan menghubungi sang dokter. Yang mereka tak tahu jika dokter cantik itu adalah Lucky sahabat mereka sendiri.


Lucky penasaran dengan nomor baru itu, kini melihat poto fropil whas app," Idih, ini si Carlos."


Dengan bibir sedikit merekah, ia mendelik kesal, tak suka dengan Carlos lelaki usil dan jahil kepada siapapun, apalagi mereka seperti lelaki tidak tahu diri, setiap melihat wanita cantik pasti akan tertarik dan ingin menggodanya.


Edric tetap saja mengintip di belakang punggung sahabatnya itu, melihat layar ponsel yang terus menyala karena beberapa pesan kiriman dari kedua sahabatnya yang usil.


Satu lagi pesan datang, Lucky mulai melihatnya kembali," apa. Welly, kedua cucurut ini ngapain pake acara menggombaliku."


(Hai, cantik. Boleh kenalan.)


Pesan berdatangan, tapi tak ada satupun yang belum di balas oleh Lucky. Rasa malas menyelimuti hati lelaki yang kini berdandanan seperti wanita, iya sedikit membenarkan rambut panjangnya. Sembari menatap pesan yang terus berdatangan.


(Cantik, kok nggak dibalas.) menampilkan emoji sedang menangis.


(Aku Carlos, balas dong.) Lucky, hanya melihat saja sebentar, tanpa membalas isi pesan itu.


"Kamu kenapa?" tanya Edric. Lucky yang fokus dengan layar ponselnya, terkejut dan mendapati sahabatnya sudah berada di belakang.


"Ya elah kamu bikin kaget saja!" jawab Lucky, memegang dadanya, ia kini menaruh lagi ponselnya di dalam tas.


Sampai Lucky memikirkan hal tentang nomor ponsel baru itu, kedua mata menatap ke arah Edric yang kini duduk sembari senyum-senyum menundukkan kepala.


Lucky memegang kerah baju, melintirkan layaknya seorang lelaki yang tengah marah.

__ADS_1


Tawa dilayangkan Edric, sampai Lucky berkata " aku curiga jika kamu yang memberi nomor ponselku kepada mereka berdua, ngaku ayo. Benar kan?"


Edric mengerutkan dahi, memajukan kedua bibirnya," iya."


Kelaki lakian Lucky mulai nampak terlihat saat ia sedang marah, sedikit mendorongkan kepala Edric, " ya elah bikin ribet saja."


"Ya elah ada bagusnya juga ngerjain mereka, kamu tahu sendiri kan mereka berdua itu dari dulu tidak pernah berubah, usil dan jahil. Bagaimana kalau kita kerjain mereka, ya itung-itung hiburan membalaskan kejahilan mereka dulu kepada kita berdua. "


Mendengar perkataan Edric sedikit membuat Lucky tertarik, ia membayangkan apa jadinya jika mengerjai Carlos dan juga Welly.


"Gimana?"


Edric bertanya lagi tentang rencana yang akan ia susun, berharap jika rencana itu disetujui oleh Lucky.


" Apa kamu setuju dengan ideku, sekali lagi kita buat mereka itu menangis. Kamu tahu kan di zaman kita masih kecil, mereka itu tidak ada habis-habisnya mengerjai kita."


Apa yang terlontar dari mulut Edric memang benar, sepertinya Lucky harus menjadi Lilia sementara waktu sebelum ia merubah penampilannya, setelah puas mengerjai kedua sahabatmu itu, baru Lucky merubah dirinya menjadi seorang pria sejati.


Karena memang ia tengah menunggu sosok seorang wanita yang mau menerima dirinya apa adanya, walau dalam hati kecilnya terbayang sosok seorang teman yang ia sukai sejak dulu.


Namun tetap saja sosok teman itu tak bisa dimiliki oleh Lucky, karena ternyata ia sudah menikah dan memiliki dua orang anak.


Lucky tinggal memikirkan cara, untuk bisa mendekati diri dengan ayahnya. Membuang sebuah rasa egois, setelah menerima nasehat dari Edric.


Edric melihat sahabatnya itu malah melamun, membuat ia langsung memukul bahu dan mencubit hidung Lucky.


Dimana Lucky yang menutupi bibirnya serasa kehilangan napas. " Kurang ajar, lu Edric."


Edric tertawa lepas, dengan kemarahan sahabatnya itu," ditanya malah diam saja melamun lagi? Apa yang kamu pikirkan, perempuan. Atau ayah kamu?"


Pertanyaan Edric malah membuat Lucky menatap ke arah sahabatnya itu," Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu, Apa kamu tahu segala hal tentang Ayahku sendiri?"


Memukul-mukul bahu beberapa kali, dengan berkata lagi, " orang mana yang tidak akan kenal dengan ayahmu sendiri, bukannya kita itu sebagai sahabat. Dan lagi orang tuamu dan orang tua juga sama-sama sahabat sejak kecil, tidak ada yang harus ditutup tutupi."


"Apa yang kamu katakan memang benar. Tapi tetap saja hubunganku dengan ayahku sendiri sekarang tidak baik, karena melihat perubahanku menjadi seorang wanita. Ayah kecewa sekali dan terus menyalahkanku!"


"Tidak akan ada ayah yang mengecewakan anaknya sendiri, kemungkinan besar ayahmu dulu itu sedang berjuang tanpa seorang istri. Kamu lihat sendiri kan ayahmu tidak menikah lagi dengan sosok seorang wanita manapun, apalagi sekarang ayahmu ini menyandang duda dan bergelar sebagai lelaki sukses dan pastinya banyak wanita yang mendekatinya, tapi aku lihat ayahmu begitu setia setelah kematian ibumu yang tragis itu."


"Dari mana kamu tahu semua itu, kalau ayahku itu Setia. "


"Kamu lihat saja saat berada di dalam rumah, apa ayahmu begitu sibuk dengan menatap layar ponsel ataupun laptop seperti kita-kita ini."

__ADS_1


"Tidak, setelah pulang bekerja Ayah lebih banyak menghabiskan waktu untuk kedua adik-adiknya, tapi tidak denganku."


Edric memukul kembali bahu sahabatnya itu," Ayahmu itu banyak meluangkan waktu dengan kedua adik-adikmu itu, karena ia enggan mengajakmu karena sekarang kamu sudah dewasa, ia tahu. Suatu saat nanti akan kehilanganmu setelah kamu menikah, atau dia berusaha membuat kamu menjadi dewasa seperti ini. Karena yang menggantikan kasih sayang kedua adikmu adalah dirimu sendiri."


__ADS_2