Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 104


__ADS_3

Aira dan Edric sudah sampai di pusat pembelanjaan, mereka turun dari dalam mobil dengan terburu-buru. Aira masuk ke dalam pusat pembelanjaan. ia melihat supermarket yang begitu besar, seperti baru pertama kali datang ke tempat itu.


Dengan rasa senangnya, ia mengambil sebuah keranjang untuk mengangkut makanan yang ia inginkan, sedangkan Edric terus mengikuti langkahnya. Edric berusaha tetap tenang dan sabar menahan keinginan pada tubuhnya.


Walau tak bisa di pungkiri, setiap kali melihat body dan wajah menggemaskan Aira, membuat ia tak tahan. Ini rasanya memalukan sekali, sampai sampai, Edric menjadi suami mesum untuk istrinya sendiri.


Entah karena cinta, apa memang ia terlalu menyayangi Aira, sampai setiap kali bersama sang istri, hasratnya selalu tumbuh dan bergetar.


Aira sampai melupakan Edric, suaminya yang hanya menggunakan kursi roda, terlihat sekali wajah lelaki pemilik bola mata biru itu, sedikit murung, melihat tingkah istrinya yang berbeda.


"Aira." Berusaha memanggil sang istri. Tapi Aira bolak-balik ke sana kemari, mencari sebuah makanan. Di mana Edric sampai kebingungan mencari keberadaan istrinya itu.


"Ke mana lagi, Aira?" tanya Edric dalam hatinya. Banyak orang tengah happy berbelanja, sedangkan dia terlihat gelisah mencari keberadaan istrinya yang tak kunjung kembali, Edric kuatir dengan Aira, takut jika Aira tersasar dalam pusat pembelanjaan yang cukup lumayan besar.


Edric mulai berniat mencari keberadaan sang istri, ia menjalankan kursi rodanya sendiri. Walau


tangannya sudah merasa pegal dan kelelahan, Edric takut dengan istrinya yang hilang, karena ia tahu bahwa sang istri bukan dari wanita kota, melainkan wanita kampung yang baru pertama kali ia ajak ke pusat pembelanjaan.


Edric sebenarnya heran dengan Aira yang begitu lama berbelanja, mencari di mana istrinya. Dan ternyata Aira tengah memilih makanan.


Dengan terburu-buru lelaki pemilik bola mata biru itu, menjalankan kursi rodanya dengan begitu cepat, menghampiri sang istri yang sudah menghabiskan waktu selama 2 jam lebih.


Menarik tangan Aira, membuat wanita Desa itu terkejut," Edric kamu di sini?"


Pertanyaan Aira, membuat bibir istrinya bergetar, seperti ketakutan melihat sang suami yang sudah ada di hadapan matanya.


"Aira kita sudah 2 jam loh di sini? Apa kamu tidak capek?" tanya Edric, terlihat keringat dingin bercucuran dari kening suaminya, padahal di pusat pembelanjaan ini menggunakan AC.


"Iya aku juga capek, habisnya aku nggak mau dibawa ke hotel," ucap Aira, terlihat wajah wanita itu memerah, ia memajukan kedua bibirnya. Menepuk pelan.


"Kenapa kamu, bibir. Asal bicara sih," gerutu Aira dalam hati.

__ADS_1


Edric masih memegang tangan istrinya, terlihat Aira masih berdiri kaku di depan Edric." tadi kamu bilang apa?"


Pertanyaan Edric, membuat wanita pemilik bola mata hitam itu menggelengkan kepala," aku tidak berkata apa-apa Kok, sumpah."


Saat itu lagi, Aira menampilkan wajah manjanya. Tentu saja membuat Edric tak tahan, bagaimana bisa seorang lelaki harus menahan godaan dari istrinya, hanya karena bertatapan wajah. Hasrat Edric langsung memuncak.


"Ya ampun, Aira. Bisa bisanya kamu salah bicara," ucap Aira dalam hati.


Aira merasa salah tingkah, ia menundukkan wajah, hatinya terlihat ketakutan sekali. Karena Aira yang belum siap mendapatkan sentuhan dari Edric, membuat ia menghidar dan tak berani mengatakan keinginannya.


"Kamu sudah belanjanya kan, sudah kita cepat pulang ke hotel. kita masih punya waktu 1 jam lagi untuk menaiki pesawat, tentu saja Daddy menyuruh kita beristirahat dulu. Dia tahu apa yang anaknya inginkan."


Sembari menganggkat kedua alis, Edric menarik tangan sang istri. Hingga dimana kedua mata Edric mulai mencari keranjang yang sengaja dibawa istrinya, " mana keranjang yang kamu bawa tadi?" Pertanyaan Edric, membuat air yang menunjukkan keranjang yang ia bawa dari tadi.


Melihat keranjang yang dipegang istrinya, tentu saja membuat kedua mata Edric membulat, karena yang dipilih Aira hanya sedikit.


Saat itulah Edric mulai mempertanyakan kepada istrinya itu," Aira sudah 2 jam kamu belanja di sini, tapi belanjaan kamu hanya sedikit. Apa kamu takut memakai uangku?"


Edric selalu memperlihatkan kekhawatirannya terhadap sang istri, Aira memperlihatkan Kedua telapak tangannya," tidak. Bukan begitu."


"Hem."


"Kenapa?"


Aira memainkan kedua jarinya, menundukkan pandangan dan kini berkata jujur," Sebenarnya aku tidak bisa memakai ATM itu."


"Loh, kenapa. Apa karena uangnya kurang?"


"Bukan begitu?"


"Terus!"

__ADS_1


"Aku tidak mengerti cara memakainya bagaimana?"


Edric lupa, mengajarkan sang istri untuk menggunakan kartu ATM. Karena Aira terlahir di desa terpencil yang tidak banyak teknologi sedikit pun.


"Terus ponsel?"


"Sama, aku juga belum mengerti sepenuhnya!"


Edric memukul dahinya, ia tersenyum kecil melihat sang istri tidak mengerti cara menggunakan ATM dan juga ponsel.


Sang pemilik bola mata biru itu sangatlah beruntung memiliki sang istri yang tidak terlalu bergaul dengan wanita-wanita kaya raya, ataupun wanita-wanita yang sudah mengerti akan uang dan juga segala hal dalam kehidupan mewah. Iya senang dengan gadis polos seperti Aira yang selalu bersikap sederhana dan selalu berpenampilan apa adanya, padahal dia sudah menikah dengan seorang CEO.


Terkadang banyak setiap wanita memanfaatkan uang dan juga kekayaan dari harta suaminya. Yang menjadi gelar sebagai CEO. Tapi berbeda dengan Aira yang begitu malu-malu dan juga tak mau mengatur uang sedikitpun, karena mungkin hidupnya yang selalu tinggal di desa membuat keterbiasaannya terbawa ke kota.


Edric mengusap peran kepala rambutnya yang kini menunduk di hadapannya itu," sudah nanti kalau ada waktu aku akan mengajarkan kamu."


Aira tersenyum senang, namun ada yang tidak ia inginkan. Dirinya tak mau pergi ke hotel.


"Ya sudah ayo kita ke kasir."


Aira tersenyum kecil, ia langsung berjalan untuk segera menyerahkan belanjaannya ke kasir.


Dimana Edric menyuruh istrinya itu untuk mengeluarkan ATM yang ia beri, kasih menyuruh Ayah untuk menekan kata sandi.


Namun nyatanya, Aira tidak mengerti apa kata sandi, padahal Edic sudah memberitahunya kemarin.


"Kata sandi itu apa?" Aira membisikan ke telinga suaminya," kata sandi itu, pengaman pada kartu ATM."


Setelah mendengarkan kata pengaman, Aira baru mengerti.


"Oh, pengaman, coba kalau tadi si mbaknya bilang pengaman, mungkin aku langsung mengerti dan menekan kata pengaman dalam mesin ini," ucap Aira membuat penjaga kasir itu tersenyum-senyum sendiri. Walaupun ada rasa malu pada diri Edric tapi iya tetap berada di sisi kiri sang istri. Karena bagaimanapun tingkah polos istrinya tetaplah Aira adalah anugerah terindah untuk dirinya.

__ADS_1


Edric mengikuti langkah istrinya dia menjalankan kursi rodanya sendiri.


Setelah selesai berbelanja mereka mulai pergi ke hotel, dimana Aira menampilkan wajah cemberutnya.


__ADS_2