
Lina menarik tangan Dwinda, hingga wanita itu tersungkur jatuh ke atas lantai.
"Heh, pelayan ini itu meja tuan kamu tak sopan ya makan di meja Tuan Ellad."
Dwinda yang merasakan rasa sakit, mulai menatap ke arah wanita yang memarahinya.
"Lina."
Lina membulatkan kedua matanya, melihat wanita yang memakai baju pelayan ternyata Sang Nyonya. "Nyonya Dwinda."
Dwinda mulai berdiri, menatap ke arah Lina yang terlihat ketakutan," nyonya, maafkan saya. Saya kira seorang pelayan. Nyatanya nyonya, kenapa juga nyonya pakai baju pelayan."
Telunjuk tangan kini menunjuk kepala Dwinda, beberapa kali medorong kepala pelayannya." Makanya jangan liat bajunya, liat wajahnya."
Dwinda yang masih merasakan rasa lapar, kini duduk kembali pada meja makan. Untuk meneruskan makanan yang belum selesai.
Ellad melihat Lina memperlakukan Dwinda seperti pelayan, membuat ia tertawa terbahak bahak.
"Dwinda, apa kamu kuat dengan apa yang aku lakukan."
Setelah beres makan, Dwinda kini berjalan. Dimana Maria dan Ratna menyuruh Dwinda untuk mencuci piring.
"Dwinda."
Mendengar namanya disebut, ia membalikkan badan dan melihat ke arah orang yang memanggilnya.
"Ratna, Maria. Tadi kalian bilang apa?"
"Dwinda!"
Kedua pelayan tak memanggil namanya sebagai Nyonya, membuat ia tentu saja kesal dan murka.
"Lancang kalian." Hardik Dwinda, dengan raut wajah penuh amarah.
"Kami tak lancang Dwinda, memang tuan yang bilang kamu bukan istrinya lagi, sudah jadi pelayan, " ucap Ratna dan juga Maria.
Menunjuk wajah kedua pelayan dengan rasa kesal. " Heh, jangan asal bicara kalian, mana mungkin Ellad berbicara seperti itu kepada kalian berdua. Itu tak mungkin."
Ratna dan juga Maria, melipatkan kedua tangan." Kalau nggak percaya, coba tanyakan saja?"
Dwinda, mengepakalkan kedua tangan merasa tak terima dengan apa yang dikatakan Ratna dan Maria, ia kini berjalan menghampiri sang suami yang berada di dalam rumah.
Mengetuk pintu.
__ADS_1
Tok .... Tok ....
Beberapa kali mengetuk pintu kamar sang suami, tetap saja Ellad tak mempedulikan teriakannya itu.
"Papih."
"Papih."
"Papih ini kenapa?"
Dwinda mengacak rambut kasarnya, kesal dengan perlakuan Ellad kepada dirinya.
"Papih. Buka."
Teriak Dwinda, dengan menangis terisak isak, perasaanya terlihat rapuh. Dwinda sepertinya akan mengalami hari hari menyedihkan saat ini.
Ratna dan Maria saling membisikan satu sama lain. Mereka terlihat tersenyum senang dengan apa yang mereka lihat.
"Luar biasa, kamu memang hebat Maria. Bisa membalikkan keadaan, Dwinda sekarang menjadi pelayan."
Tawa mereka layangkan, sembari menatap penderitaan Dwinda.
*********
"Kenapa saat kamu terluka aku malah ketakutan, seharusnya aku senang karena dendam ibuku sudah terbalaskan. Tinggal ayahmu yang menjadi sasarannya."
Edric mendengar apa yang dikatakan istrinya, ia mengerti tentang perasaan. Aira yang begitu terluka setelah merasakan arti kehilangan sang ibu.
"Kalau kamu terkapar seperti ini. Apa aku akan tega membunuhmu saat ini juga."
Aira, menyenderkan dagunya, dengan kedua tangan merasa tidak mood.
"Kapan kamu bangun, Edric." ucap Aira, dari tadi berbicara sendiri, yang ia tahu sang suami tak sadarkan diri.
Edric yang mendengar perkataan Aira kini membuka kedua matanya, menatap ke sebelah kiri wajah cantik istrinya.
"Aku sudah bangun sekarang Aira, apa yang kamu inginkan. Membunuhku?" tanya Edric, memperlihatkan wajah pucatnya. Ia melepaskan selang infusan dan yang lainnya.
"Edric."
Betapa terkejutnya Aira, yang melihat sosok suaminya terbangun dan berkata seperti itu." kamu bangun, bukannya kata dokter kamu terluka parah jadi belum bisa bangun sampai saat ini."
"Kenapa kamu mendengarkan kata dokter, dengarkanlah apa kataku. Karena kata dokter belum tentu benar, " ucap Edric tersenyum. Menatap ke arah wajah istrinya yang masih terlihat syok melihat Edric pulih seperti sedia kala.
__ADS_1
"Edric kamu jangan bercanda, keadaan kamu," balas Aira yang terlihat mengkhawatirkan suaminya itu.
"Aku tidak bercanda, jadi ayo cepat bunuh aku," ucap Edric pada Aira.
Lelaki dengan tubuhnya yang kekar itu, kini mengambil pisau yang ternyata sudah di sediakan dokter. Saat Edric memintanya.
"Ini ada pisau, bukanya ini kesempatan kamu membunuhku tanpa alasan yang tak pasti."
Pisau disodorkan Edric, tapi Aira belum berani mengambilnya. " Ayo bunuh aku sekarang. Bukanya ini yang kamu inginkan membunuhku dan dendammu terbalas sudah. "
Aira tetap saja diam tak mengambil pisau itu, ia mendengarkan apa yang dikatakan Edric.
"Satu lagi, aku ingin mengatakan hal yang sebenarnya aku tidak tahu. Kalau ibumu terbunuh oleh ayah tirimu sendiri, karena ayah dan permintaan bodohku. Kalau saja aku tak minta seorang gadis desa kepada ayah, kemungkinan besar Ayah tidak akan berusaha mencari gadis desa dan membelinya pada keluarga gadis itu. Mungkinkah ibu kamu tidak akan terbunuh, ia akan tetap hidup sampai sekarang."
Mendengar penjelasan yang dikatakan Edric, membuat Aira terdiam kedua matanya berkaca-kaca.
"Jika kamu mau membunuhku silakan Bunuh aku sekarang juga. Demi menebus kesalahan ayah yang sudah membuat Ibumu meninggal dunia."
Edric seakan ikhlas jika dirinya mati, karena percuma hidup, jika wanita yang ia cintai ternyata datang hanya untuk balas dendam.
"Aira, ayo sekarang kamu bunuh aku. Percuma jika aku hidup di dunia, jika ternyata dalam hidup ini penuh drama."
Aira tak bisa menahan air mata, ia akhirnya menangis juga, berdiri dan memeluk Edric.
"Maafkan aku, Edric. Aku tidak akan membunuhmu, aku berjanji."
Aira sudah mengurungkan niatnya, ia memendam dendam setelah melihat ketulusan terpancar dari raut wajah sang CEO muda.
Edric menangis sembari tersenyum senang. Rencananya berhasil dengan mulus. Tak payah menjadi seorang lelaki yang menyebalkan terlebih dahulu dan bisa menaklukan hati wanita yang ia cintai.
Aira melepaskan pelukkannya, melihat ke arah sang suami dengan wajah yang basah penuh air mata.
"Kamu kenapa menangis?" Tanya Edric mengusap air mata yang terus mengalir membasahi pipi.
"Oh ya, Aira. Ayah tirimu ada di kota. Apa kamu mau melihat dia besok, " ucap Edric membuat Aira terdiam.
"Dari mana kamu tahu ayah tiriku," balas Aira. Memalingkan wajah.
Edric mendekat dan mendekat sang istri dengan berkata." Semua itu mudah bagiku, mengenal ayah tirimu. Karena dia ibu kamu meninggal," ucap Edric .
"Sebenarnya setelah ibu di tembak, aku juga tidak tahu bagaimana nasib ibu sekarang, apa dia dikuburkan atau tidak, karena ayah tiriku itu sangat licik, " balas Aira menceritakan semuanya pada sang suami.
Edric sangat senang akhirnya Aira jatuh dalam pelukanya, walau ia tak nyakin seratus persen jika Aira itu benar benar sayang apa tidak padanya.
__ADS_1
"Aku akan membantumu, Aira. Kamu tenang saja."