Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 81 kepemakaman.


__ADS_3

"Edric, kamu harus kuat, biarkan ibumu tenang di alam sana." ucap Dwinda, berusaha menenangkan dan juga memberi semangat kepada Edric. Karena dengan cara mendekati anaknya, ayahnya pun pasti akan terjerat juga.


Tangisan terus terdengar dari mulut Edric, ia belum siap kehilangan sang ibunda, hatinya masih belum bisa menerima kenyataan dan juga takdir yang sudah terjadi. Ada rasa tak menyangka jika sang ibunda pergi dengan begitu cepat, tanpa menitip pesan ataupun memberi kesempat Edric meminta maaf.


"Bu, kenapa ibu malah pergi begitu cepat, " teriak Edric, suasana di rumah sakit. Menjadi duka yang amat begitu dalam.


Terlihat semua menyaksikan luka hati pada Edric, tangis kepalsuan pada para dokter menjadi saksi bisu kejahatan Dwinda.


Dwinda kini tertawa dalam kemenangan, karena ia sudah membuat orang yang menghancurkan keluarganya, mendapatkan balasan setimpal.


Berusaha membujuk kembali Edric agar tenang, bukanlah sesuatu hal yang mudah. Edric cenderung begitu pemarah, di saat DWinda berusaha menenangkan anak CEO Ellad.


"Lepaskan tanganmu dari bahuku, cepat." Perintah Edric terdengar membentak, para dokter dan perawat di sana terkejut. Mendengar kemarahan Edric, saat tangan Dwinda memegang bahunya.


Dwinda menutup mulut yang mengagah tak menyangka akan dirinya dibentak.


"Jangan sok baik dihadapanku." Tegas Edric


Dwinda melangkah mundur, mencoba menjauh. Agar dirinya tak merasa dibpermalukan.


"Kamu ngapain coba, sok membujuk anak CEO Ellad, kaya tidak tahu saja watak garangnya dia," ucap sang sahabat. Menatap penuh kasihan terhadap Dwinda.


"Aku kira dia tidak akan semarah itu, makanya aku berani mendekati dia," balas Dwinda. Mengepalkan kedua tangan, sudah tak tahan menahan amarah karena diperlakukan tidak menyenangkan oleh Edric.


"Sudah, kamu tidak terlalu di permalukkan kok," ucap sang sahabat, yang bekerjasama dengan Dwinda.


"Maksud kamu?" tanya Dwinda, tak mengerti.


"Heh. Semua orang di sini kan sudah tahu, kalau Edric itu mempunyai watak pemarah seperti ayahnya, jadi dokter yang juga perawat di sini pastinya akan aman. Tidak akan membicarakan atau mempermalukan kamu!" jawab dokter yang bekerjasama dengan Dwinda.


Dimana ia bernama Lisa.


Karena rasa kesalnya Dwinda mulai menyuruh para perawat dan juga suster di rumah sakit, untuk membawa jenazah Maya agar cepat dimakamkan.


Namun, Edric malah memeluk jenazah ibunya, ia seakan enggan berpisah dengan sang Ibunda yang sudah meninggal dunia.


"Maaf pak, kami akan segera membawa jenazah Ibu Maya untuk segera dimakamkan."

__ADS_1


Edric berusaha menguatkan diri, di saat sang Papa datang menenangkan anak semata wayangnya," kamu harus tenang Edric, biarkan ibumu dibawa oleh ambulans menuju ke pemakaman."


Pelukan kini dilepaskan oleh Edric, dia melangkah mundur. Di mana para perawat membawa jenazah ibunya untuk segera dimasukkan ke ambulan.


Perasaannya sudah tak menentukan, separuh jiwanya seakan hilang, meninggalkan lubuk hati yang paling dalam.


"Selamat tinggal, bu."


Edric mulai menaiki mobil sama papa untuk segera ke pemakaman. Sedangkan Dwinda hanya menaiki motor mengikuti ambulans yang membawa jenazah Maya untuk segera dimakamkan.


Semua beriringan, kesedihan di rasakan Ellad. Di dalam mobil ia berucap." Dady tak menyangka jika Mommymu begitu cepat pergi meninggalkan kita berdua."


"Edric juga, berpikiran sama seperti Dady. Mommy terlalu cepat pergi, sampai membuat hati kita terluka. Apa Dady menanyakan penyebab kematian ibu?" jawab Edric.


"Dady, hanya bisa menunggu hasil keluar. Para dokter bilang Mommymu tidak ada keluhan apa apa!" jawaban Ellad membuat Edric sedikit curiga.


"Edric heran, kenapa bisa Mommy tidak ada keluhan apa-apa langsung meninggal dunia?" tanya Edric.


"Dady juga sebenarnya tak mengerti kenapa Mommy kamu tiba-tiba saja meninggal dunia


Apa Dedy selingkuh bersama perempuan lain sampai di mana Mommy mengetahui semua itu.


Menyebabkan Mommy syok dan meninggal dunia.


" Jelas kata semua dokter di rumah sakit itu."


Sang ayah begitu polosnya, mempercayai apa yang dikatakan para dokter di rumah sakit Maya.


Entah karena merasa kehilangan atau merasa bersalah.


Di pemakaman sudah sampai, mereka berdua mulai turun dari mobil mewah yang mereka tumpangi.


Sedangkan Edric malah memikirkan tentang kematian sang ibunda. Ia berjalan dengan penuh kesedihan.


Edric melihat para pelayannya ikut serta melihat pemakaman Maya.


Kedua mata sudah mulai berkaca-kaca, Edric tak bisa menahan lagi air mata, melihat pemakaman sang ibunda berlangsung.

__ADS_1


Dwinda, ikut serta melihat pemakaman sahabatnya, ia menatap orang orang di area pemakaman. Membuat ia mengigat tentang kematian ayahnya sendiri, sampai akhirnya air mata keluar, dengan terburu-buru Dwinda mengusap kasar air mata yang sudah terjatuh mengenai pipi.


"Pemandangan yang mengharukan."


Edric tiba-tiba saja melihat ke arah Dwinda, dimana wanita itu sedikit jauh melihat pemakaman Maya, Edric mencuriagi Dwinda dari awal ia bertemu.


Dengan beraninya, Edric bertanya pada sang ayah. "Dady, aku mencurigai salah satu dokter di rumah sakit."


Mendengar apa yang dikatakan anak semata wayangnya, Ellad langsung membantah dari tudingan Edric." Mana mungkin dokter yang bekerja di tempat Maya, adalah pelakunya. Kamu tahu sendirikan Maya tak pernah mempunyai musuh. "


"Tapi Dady, bisa saja. "


Ellad tak mau mendengarkan apa yang dikatakan anaknya, ia sudah menerima takdir dan pasrah dengan kehilangan istri tercintanya.


Setelah acara pemakaman selesai, Dwinda mulai menyusun rencananya kembali, ia berpura-pura tak mempunyai tumpangan untuk pulang, karena ojeg yang membawanya ke pemakaman sudah pulang begitu saja.


Ellad melihat Dwinda menunggu taksi, membuat ia memberhentikan mobil. Memberi tumpangan pada Dwinda.


"Dwinda, kamu datang dengan siapa?" Tanya Ellad, Edric yang mendengar ayahnya sok baik di hadapan dokter. Membuat ia kesal.


"Oh, Pak Ellad, Kebetulan sekali, saya lagi menunggu taksi yang lewat pak! " jawab Dwinda penuh dengan keramahan.


"Dari pada menunggu taksi lama, Kamu naik saja ke dalam mobilku, biar sopirku sekalian mengantarkan kamu ke rumah sakit," ajak Ellad pada Dwinda. Wanita pemilik bola mata coklat itu merasa senang, Iya sengaja melakukan semua itu.


Untuk memancing hati Ellad, agar bisa jatuh kepelukannya, walau mungkin sulit. Tapi Dwinda akan berusaha. Karena tujuanya, menghancurkan semua keluarga Ellad.


"Tidak keberatan kah pak, saya malu, " ucap Dwinda, menampilkan senyuman di hadapan Ellad.


Ellad dengan Senang Hatinya membukakan pintu mobil, agar Dwinda masuk ke dalam mobil.


Dwinda duduk di samping kiri Ellad, terlihat Ellad merasa sedikit tenang jika berdekatan dengan Dwinda.


Jelas dulu dan tadi pagi, Ellad selalu cuek dan kadang membentaknya.


Edric terlihat begitu penasaran dengan sahabat sang Mommy, " Dokter Dwinda saya mau bertanya dengan Anda?"


Edric dengan ramahnya mengajak mengobrol Dwinda.

__ADS_1


__ADS_2