
"Kamu mau ke mana?" tanya salah satu dokter begitu dekat dengan Dwinda.
"Aku mau menemui ibuku di rumah sakit jiwa!" balas Dwinda terburu buru pergi, meninggalkan sahabatnya.
Dwinda menaiki mobil, untuk segera menemui sang ibunda, ia sangat kuatir sekali.
"Kenapa dengan ibu, ya."
Setelah sampai di rumah sakit, terburu buru Dwinda berlari, menuju ke ruangan sang ibunda. Semenjak bekerja di rumah sakit. Banyak perubahan dalam keadaan Dwinda dari segi keuangan dan segala hal banyak terbantu.
Walau terkadang ia mengeluh karena tak bisa melanjutkan kuliahnya, di luar negeri.
Impiannya nggak apa cita-cita belum terlaksana sepenuhnya, ia fokus membalaskan dendam kedua orang tuanya.
Karena dengan cara seperti itu, kemarahannya bisa terlupakan, ketika membayangkan kematian ayah dan juga sosok seorang ibu yang menjadi gila.
Suster berada di ruangan sang ibunda, terlihat wanita tua itu terbaring lemah, perlahan Dwinda mendekat pada sang ibu.
"Bu."
Memanggil wanita tua itu, mencium keningnya. Dwinda merasa tak berguna menjadi sosok seorang anak.
Tatapan sang ibu terlihat sayu, pikiranya tak menentu, ia melihat sosok Dwinda. Sampai tak mengenalnya.
Memegang kedua tangan yang terlihat mengkerut, menciumnya dan berkata, " aku anakmu, bu."
Wanita tua itu, mengerutkan kedua alisnya, setelah mendengar ucapan atau lontar dari mulut Dwinda.
Ia malah ketawa terbahak-bahak, seketika menangis. Memukul dirinya sendiri, " sejak kapan aku punya anak sepertimu."
Hati Dwinda merasa sakit, begitu tertekan sang ibu, sampai tak mengenal anaknya sendiri. Semenjak kematian suaminya, wanita tua itu menjadi depresi dan tak mengenal dirinya sendiri.
Tangan Dwinda mengusap pelan kepala sang ibunda, memeluk tubuh perlahan, memberi kehangatan untuk ibunya sendiri," ibu, jangan kuatir. Dania akan membalaskan semua rasa sakit ini kepada Ellad dengan setimpalnya."
Dwinda wanita yang mempunyai nama asli Dania. Kini melepaskan pelukan ibunya, ia melihat jam pada tangannya. Sudah menunjukkan pukul satu siang.
Waktunya ia untuk kembali pulang.
Dwinda mulai menanyakan, kenapa ibunya bisa kejang kejang.
__ADS_1
Dwinda keluar menemui dokter di rumah sakit jiwa yang menangani ibunya." Kenapa ibu saya bisa kejang dok?"
"Sepertinya karena mengigat kejadian yang membuat hatinya kehilangan seseorang yang begitu berharga pada hidupnya!"
Sudah Dwinda duga, sang ibu pasti mengingat akan kematian suaminya.
Mendengar penyebab yang dikatakan dokter, Dwinda mulai berpamitan untuk segera pulang.
Wanita pemilik bola mata coklat, sudah berniat untuk melihat menjenguk sang ayah.
Ia melajukan kembali mobilnya, perasaannya sudah tak menentu, hatinya merasa tak bahagia. Melihat sang Ibunda yang kini menjadi gila, seharusnya Dwinda sekarang bersenang-senang dengan ibunya, setelah membuat seorang wanita bernama Maya mati sia-sia.
Dwinda datang ke pemakaman sang ayah, menangis menyesali semuanya. Hatinya merasa sangat Kehilangan, menaburi bunga yang ia beli.
"Ayah, Dania sudah membalaskan dendam ayah kepada mereka, tapi Dania belum puas, karena sekarang Dania berniat masuk ke keluarga yang sudah membuat keluarga kita menderita."
Setelah mengatakan hal yang ia ingin katakan, Dwinda nama asli dari Dania, mulai meninggalkan makam sang ayah, dia bergegas pulang karena rasa lapar dalam perutnya terasa.
Dengan menaiki mobil satu-satunya peninggalan sang ayah, Dwinda melanjutkan mobil dengan kecepatan tinggi, meninggalkan jalanan yang terbentang luas.
Ia mulai membuka pintu rumah, keadaan di rumahnya begitu sepi, tak ada satu orang pun yang menunggu kepulangannya, hatinya semakin sakit.
Kedua mata mengeluarkan rintikan air, membasahi kedua pipi. Berjalan dengan tubuh yang terasa lemas, Dwinda ingin kebahagiaannya kembali lagi, saat pulang disambut oleh kedua orang tuanya.
Ia membayangkan aktivitas ketika kedua orang tuanya masih ada di dalam rumah, tersenyum dan menangis. Dwinda mulai duduk di sofa ruangan tengah, sembari memeluk bantal.
Dwinda menangis sejadi-jadinya, ia berteriak dan marah, membanting bantal yang baru saja dirinya peluk, ke atas lantai.
"Kenapa semua terjadi padaku."
Mengacak rambut, merasakan rasa frustasi, saat tak ada kata semangat dalam dirinya.
Dreet ....
Suara ponsel berhenti, Dwinda segera bangkit dari tempat duduknya. Merai tas melihat siapa yang menelpon.
Dalam ponsel Dwinda, tertera nama sang sahabat.
"Lisa, ada apa dia menelepon."
__ADS_1
Tangan yang bergetar sehabis menangis, meluapkan kekesalan. Dwinda berusaha menenangkan diri untuk mengangkat panggilan telepon dari sahabatnya.
"Halo, Lis. Ada apa?" tanya Dwinda.
"Kamu dimana sekarang, apa keadaan ibumu baik baik saja, aku sangat mengkhawatirkan kamu! " jawab Lisa, terdengar begitu kuatir pada sahabat satu satunya.
Dwinda beruntung mempunyai sahabat seperti Lisa, yang bisa diandalkan untuk menyimpan semua rahasia dan juga kelakuan busuk DWinda atas kematian Maya.
"Aku ada di rumah, kamu tenang saja, ibuku sekarang baik baik saja, dia hanya mengigat kematian ayahku," jelas Dwinda, membuat Lisa sedikit bernapas lega.
"Syukurlah kalau begitu, aku di sini tak tenang. Karena kamu tidak balik lagi ke rumah sakit," ucap Lisa, memperlihatkan sisi baiknya pada Dwinda.
"Kamu jangan terlalu menghuatirkan aku, sebaiknya kamu atur para dokter di rumah sakit, agar tidak membeberkan penyebab kematian Maya. Karena Edric, terlihat mencurigai kita. Jadi kita semua harus waspada," balas Dwinda. Mengigatkan sang sahabat.
"Iya, aku tahu. Jelas Edric seperti itu, karena dia begitu menyayangi ibunya, sampai mendengar kematiannya pun seperti tak rela dan belum percaya," ucap Lisa, membicarakan Edric.
Tiba-tiba saja obrolan mereka terhenti, saat perawat berlari menghampiri Lisa. Di mana mereka memberitahu bahwa ada polisi yang datang, mengecek keadaan rumah sakit dan apa penyebab kematian Maya.
"Sudah dulu ya, ada polisi."
"Oke."
Sudah Dwinda duga, Edric pastinya akan secepat itu menelpon polisi untuk menyelidiki semuanya, berbeda dengan Ellad yang terlihat sudah merelakan kepergian sang istri.
Walau mungkin belum sepenuhnya," Pasti ini ulah si Edric."
Dwinda kesal, dia melemparkan ponselnya setelah mematikan panggilan telepon dari Lisa, berteriak, meluapkan semua kekesalan yang terpendam dalam hati.
Dwinda kini bangkit dari tempat duduk, untuk segera membersihkan diri. Ia berusaha melupakan kematian Maya, wanita yang begitu baik kepadanya.
Dwinda tak terkecoh dengan kebaikan Maya, ya tetap menaruh dendam dan kebencian pada keluarga Maya, apalagi pada Ellad.
Wanita pemilik bola mata coklat, sudah dibutakan dengan segala hal dalam kebaikan. Yang ada pada dirinya saat ini menghancurkan dan membuat semua keluarga Maya menderita.
Ia seakan tak mengerti arti memaafkan, sampai tak peduli dengan resiko yang akan terjadi nanti.
"Aku tak peduli jika nyawa taruhannya yang terpenting dendamku terbalaskan semuanya. Tunggu akhir akhir kematianmu Ellad."
Ucap Dwinda dengan tawa yang mengema di dalam ruangan rumahnya, tak ada satu orang pun. Semua pembantu sengaja ia pecat.
__ADS_1