Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 37 Terpeleset lagi


__ADS_3

Aira yang tengah menikmati makanannya, mendengar suara CEO Ellad yang baru saja pulang, iya dengan terburu-burunya menghabiskan makanan yang masih tersisa pada piring.


Menyambut kedatangan mertua laki lakinya, "Dwinda."


Teriakan dilayangkan oleh Ellad, saat memanggil istrinya, Iya tak sabar ingin menanyakan CCTV di rumahnya yang tak menyala.


"Kemana si Dwinda ini." Gerutu Ellad kesal.


Aira kini datang menampilkan diri di depan Ayah mertuanya dengan sebuah senyuman," Aira. Papa kira kamu adalah Dwinda."


Wanita desa itu berusaha menampilkan wajah polosnya, ya tak mau menampilkan sifat aslinya di hadapan Ellad. Karena jika sang pemilik rumah tahu, bisa bisa Aira terusir dan ia tak bisa membalaskan dendamnya.


"Mana Dwinda?" tanya Ellad kepada Aira.


"Maaf pah, saya tidak tahu. Dari tadi saya berada di ruang tamu membaca majalah!" jawab Aira berbohong. Jelas ia sudah membuat Dwinda kesakitan dan menderita.


Seketika Ratna keluar dari kamar Dwinda, ia terburu-buru pergi mencari obat untuk majikan wanitanya. Kebetulan sekali Ellad melihat Ratna dimana ia mulai memanggil pelayanya itu." Ratna, kamu mau ke mana."


Ratna terkejut dengan panggilan Ellad, yang memanggil namanya," Tuan. Sudah pulang?"


"Dimana Dwinda!"


Ratna menatap ke arah Aira, ia tak mengerti kenapa bisa majikan wanitanya berada di kamar Aira dalam keadaan duduk dalam genangan air.


"Ratna, saya tanya sama kamu."


Lamunan pelayan bernama Ratna itu membuyar, ketika Ellad memukul bahunya.


"Iya tuan, kenapa?"


"Dari tadi saya tanya, kamu diam saja. Kenapa dengan Dwinda?" tanya kembali Ellad pada pelayannya.


Ratna menundukkan pandangan, mulai menjawab pertanyaan lelaki tua yang menjadi majikannya." Nyonya Dwinda terpeleset di kamar mandinya sendiri, tuan!"


"Oh, hanya. Itu saja!" jawab Ellad cuek.


Ratna tak berani mengatakan jika Dwinda awalnya terpeleset di kamar Aira, entah sebab apa? Yang ia lihat, posisi majikan wanitanya itu duduk dengan ember yang menggantung pada wajahnya.

__ADS_1


"Ya tuan, saya permisi dulu mencari obat untuk Nyonya Dwinda."


"Ya sudah, cepat kamu beli obat untuk istriku. Kasihan dia jika lukanya sampai parah.$


"Baik Tuan."


Ratna bergegas berjalan dengan lebih cepat dari sebelumnya, ia keluar rumah membeli sebuah obat ke apotek. Sedangkan Ellad dan juga Aira mulai berjalan menuju kamar Dwinda. Ia ingin melihat keadaan istrinya. Dan memastikan perkataan Ratna itu benar apa tidak.


Karena akhir-akhir ini, Dwinda sering ketahuan berbohong olehnya.


Ellad yang sudah sampai di kamar sang istri, kini melihat Dwinda terbaring dengan mulut yang mengeluarkan suara, ia meringis kesakitan. "sayang."


Mendengar suara Ellad, Dwinda berpura pura menangis di hadapan sang suami, mencari sebuah simpati. Agar suaminya semakin peduli.


Sedangkan Aira mengejeknya dari belakang. "Kenapa kamu bisa seperti ini, apa yang sudah terjadi dengan kamu, sayang?"


Ellad berusaha menutupi kecurigaanya dengan mengatakan hal hal yang terlihat peduli pada sang istri, agar Dwinda menganggap sanga suami tetap seperti dulu.


Wanita pemilik bola mata coklat itu mengeluarkan air mata kembali, ia memeluk sang suami dan berkata," kamu tahu sayang? Semua ini gara-gara si Aira sialan itu."


"Apa urusannya dengan Aira? kenapa kamu malah menyalahkan atas kejadian yang menimpa kamu di dalam kamar mandi?"


"Sayang dia itu yang membuat aku seperti ini. Makanya aku langsung menyalahkannya, asal kamu tahu dia itu wanita yang tak punya sopan santun, dan tak tahu aturan di rumah ini. Bisa-bisanya dia membuat aku seperti ini terjatuh dan terpeles beberapa kali di kamarnya."


"Di dalam kamar tidurnya? Memang apa yang kamu lakukan sampai masuk ke dalam kamar Aira dan Edric?"


Dwinda hampir termakan dengan ucapannya sendiri, karena menyalahkan Aira. Tanpa bukti mata yang melihatnya. Apalagi dengan pertanyaan masuk akal yang terlontar dari mulut suaminya sendiri."


Para pelayan saling menatap satu sama lain ke arah Dwinda. Membuat Dwinda memutar balikkan fakta dan kebenaran yang susungguhnya.


"Aku masuk ke kamar Aira, hanya ingin berbicang dengan dia."


"Berbicang?"


"Ya."


Terlihat sekali wajah Dwinda yang serba salah dengan ucapannya sendiri, membuat kecurigaan semakin bertambah pada diri Ellad. Sedangkan Aira dengan santannya hanya bisa diam mengikuti apa yang dikatakan Dwinda kepada suaminya.

__ADS_1


"Ahk, sial. Aku hampir terperangkap dengan ucapanku sendiri, bisa bisanya aku menjadi orang yang bodoh. Tak mengenali situasi macam seperti ini, saat Ellad datang." Gumam hati Dwinda.


Dwinda yang tak mau tersalahkan, berusaha mengalihkan pembicaraan, yang akhirnya merayu sang suami untuk duduk di sisi kirinya. " Sayang, aku kesakitan sekali, kamu duduk di sini ya. Tolong pijitin aku sekarang."


Akan tetapi Ellad yang masih penasaran dengan ucapan sang istri, kini bertanya pada menantunya dengan mengabaikan keinginan Dwinda, "aku mau tanya sama kamu Aira, apa yang sudah kamu lakukan terhadap Ibu Dwinda, sampai seperti dia kesakitan seperti ini?"


Aira sudah menebak jika mertua lelakinya akan bertanya tentang kecelakaan yang menimpa Dwinda di dalam kamarnya.


" Maaf sebelumnya Pah, yang tak sopan itu istri Papah sendiri."


Mengerutkan dahi, Ellad semakin bingung. Sedangkan Dwinda terlihat murka dengan jawaban yang terlontar dari mulut Aira. " Jaga ucapanmu itu, siapa yang bilang aku ini tidak sopan?"


Aira hanya menundukkan pandangan, berusaha bersikap polos, agar ia di percaya oleh Ellad.


"Papih, jangan percaya dengan Wanita Desa ini. Dia itu pembohong besar. " Menunjuk Aira dengan kemarahan yang menggebu pada hati Dwinda.


Hingga dimana Ellad menghentikan kemarahan Dwinda untuk bisa mendengarkan penjelasan yang terlontar dari mulut menantunya itu.


"Momi, tolong tahan amarahmu, jangan sampai aku menyalahkanmu atas kejadian yang menimpa dirimu sendiri." Tegas Ellad.


Lelaki berambut putih dengan badannya yang tegap, bertanya kembali pada menantunya. "


coba kamu jelaskan lagi, Aira. kenapa bisa kamu mengatakan jika Istriku itu tidak sopan? Memang apa yang sudah ia lakukan di dalam kamarmu. Sampai sampai terjatuh dan kesakitan seperti sekarang."


"Bagaimana tidak sopannya Ibu Dwinda, tiba-tiba saja mengintip ke kamar Aira dan juga Edric, padahal jika memang Ibu Dwinda ingin mengajak Aira berbincang, ada baiknya ia mengetuk pintu terlebih dahulu, bukan malah mengintip sembarangan dan malah memarahi Aira saat itu."


Penjelasan Aira begitu mudah dimengerti oleh mertua laki-lakinya.


Ellad menatap ke arah istrinya dan bertanya kembali," Apa benar yang dikatakan Aira, Momi?"


Dwinda malah terdiam, ya takut jika berkata jujur Ellad akan marah dan tak mempercayai dirinya untuk mengatur uang dan rumah Suaminya.


"Jangan pecaya dengan wanita desa itu, papih. Dia itu berbohong." Pekik Dwinda menyakini suaminya.


"Ya, sudah jika memang. Aira itu bebohong, mana buktinya." Pinta Ellad.


Dwinda kembali terdiam, apa yang harus ia katakan?

__ADS_1


__ADS_2