
Setelah selesai menandatangani dokumen yang diberikan Laudia, Edric pergi tanpa berkata sepatah katapun. Saat sang ayah meminta harapan.
Wajah Ellad menunduk, terlihat hubungan yang kurang baik pada kedua lelaki dihadapan Laudia.
Membuat Laudia berusaha tak ikut campur, ia hanya fokus pada leptop dihadapanya.
"Laudia." Saat Edric berada didekat pintu, ia menyuruh sekertarisnya untuk bertemu dengan Pak Hasan, lelaki tua yang menjadi sopirnya.
"Laudia, temui Pak Hasan di jam istirahat dia ingin bertemu denganmu."
"Baik tuan."
Edric bergegas turun ke bawah untuk segera mengisi perutnya yang terus berbunyi, meninta jatah makanan, diwaktu jam makan siang, ia benar benar berusaha menghindar dari sang ayah. Setiap lelaki tua itu selalu melontarkan pertanyaan soal masalah keluarga.
********
Laudia yang sudah beres dengan pekerjaannya, kini berjalan menuju ke tempat yang diperintah oleh Edric atasannya.
Laudia disuruh untuk menemui Pak Hasan sopir yang kemarin mengantarkannya pulang, ia melihat pada jam tangan yang ia kenakan. Terlihat jarum jam menunjukkan pukul 12.00 siang.
Setelah sampai di luar kantor, Laudia, mencari keberadaan Pak Hasan yang ingin menemui dirinya.
"Ada apa ya, sopir Pak Edric ingin bertemu?'
Pada akhirnya wanita bertubuh tinggi semampai itu melihat sosok pria tua yang menunggunya di dekat mobil. Ia berjalan menghampiri sopir Edric, dengan bertanya?" Maaf sebelumnya pak sopir, kata Pak Edric. Saya disuruh menemui Bapak sekarang."
Kedua mata lelaki tua itu berkaca kaca, ia memperlihatkan kesedihan dari raut wajahnya melihat luka lebab yang tak tertutup dengan sempurna dari wajah Laudia.
"Apa boleh saya melihat orang tuamu."
Deg ....
Perkataan Pak Hasan membuat Luadia merasa aneh, untuk apa lelaki tua yang menjadi sopir atasanya ingin melihat kedua orang tua Laudia. '' mau apa, Bapak menemui kedua orang tua saya?"
Pertanyaan wanita berkulit putih dengan postur tubuhnya yang tinggi semampai itu, menjawab perkataan Pak Hasan dengan tegas.
__ADS_1
Lelaki tua yang menjadi sopir Edric memahami kondisi Laudia yang sekarang, karena memang secara fisiologi dia terlihat tertekan dan tidak mau mengungkapkan kejujuran dengan masalah yang menimpa dirinya, padahal Pak Hasan berniat baik ingin menyelamatkan Laudia dari siksaan kedua orang tuanya.
Pak Hasan berusaha mencari cara agar dirinya bisa tahu kedua orang tua Laudia terlebih dahulu, untung saja Edric memberi data tentang ayah dan juga ibu aslinya Laudia.
Dalam data itu, ada hal yang mengganjal. Pada diri Hasan, karena nama dari wanita yang menjadi ibu Laudia. Sama percis dengan kekasih hati Hasan yang dulu ia tinggalkan.
"Laudia, bagaimana?"
Kedua mata wanita itu, menatap ke arah Hasan, dengan tatapan rasa takut. " Kamu tak usah takut, bapak tidak akan berbuat aneh aneh kepada kamu. Kamu tahu sendirikan bapak hanya seorang supir atasan kamu."
Sebenarnya Laudia malas jika mempertemukan Pak Hasan dengan kedua orang tuanya. Ia takut jika ada perdebatan pada kedua belah pihak.
Apalagi sang ibu yang mempunyai gangguan kejiwaan, dikuatirkan malah membuat kerusuhan dengan hadirnya Pak Hasan.
"Saya ragu, membawa bapak ke rumah saya."
"Kenapa?"
"Sebenarnya."
Pak Hasan memegang kedua bahu Laudia dengan berkata, " ayo cerita Laudia, apa yang sebenarnya terjadi. Bapak lihat, hidup kamu tertekan, banyak luka lebab yang bapak lihat pada wajah dan juga tangan kamu."
Deg .....
Laudia tak menyangka jika ada yang memperhatikannya dan peduli. Padahal selama ini ia berusaha menyendiri dan tak terbuka, tapi dibalik pendiamnya Laudia, ada sifat peduli dan rasa kasihan.
"Apa yang kamu pikirkan saat ini, Laudia. Ayo katakan."
Laudia tak bisa di tekan untuk berkata jujur, ia lemah jika mengatakan kejujuran, "Maaf pak, saya tidak bisa mengatakan apa yang saya alami pada orang lain."
"Laudia, apa kamu akan menyimpan penderitaanmu sendiri. Bapak ini ingin menolong kamu."
Teriak Pak Hasan tak membuahkan hasil, Edric yang ternyata mengamati Pak Hasan dan Laudia duduk dengan rasa keingin tahuan.
Sampai ia menghalangi jalan Laudia yang ingin pergi dari hadapan Pak Hasan, karena bagi Laudia, pak Hasan terlalu ikut campur dan ia bukan siapa siapa Laudia.
__ADS_1
Jadi rasanya tak pantas jika orang luar ingin tahu tentang masalah hidup Laudia.
"Kenapa kamu tidak mendengarkan pekataan lelaki tua yang menjadi sopir saya?"
"Pak Edric."
Laudia, tentu saja kaget dengan datanganya Edric yang tiba tiba menghalangi langkahnya untuk pergi berjalan menuju kantor.
"Pak Edric sebagai atasan saya, sebaiknya diam saja tak usah ikut campur masalah yang saya hadapi saat ini."
Menarik napas mengeluarkan secara perlahan, Edric melihat sekertarisnya itu keras kepala tak bisa di nasehati.
"Waw, berani melawan kamu, Laudia." Ucap Edric, memperlihatkan wajah sangarnya. Dari awal Laudia tak suka dengan atasanya yang galak dan sering mengatur penempilan sekertaris.
"Saya melawan jika ada orang yang mengungkit tentang masalah pribadi saya. Tapi jika masalah pekerjaan tentunya saya akan diam, tak akan berkutit dan melawan anda."
Edric mengusap pelan dagunya, memang sekertaris barunya ini begitu hebat dalam bekerja. Setiap permasalah pekerjaan di selalu pintar menyelesaikannya.
"Ya saya tahu itu, hanya saja sebagai atasan saya peduli dengan kamu Laudia, mana ada seorang atasan tega membiarkan sekertarisnya bonyok babak belur, ketika kerja di kantor saya."
Padahal Edric tak mau ikut campur masalah Laudia, tapi karena merasa kasihan. Setiap hari melihat wajah dan juga tangan Laudia selalu memperlihatkan luka lebab. Tentulah rasa iba itu datang pada hati dan pikiran Edric.
Walau tertutup make-up tetap saja. Bekas pukulan itu terlihat jelas. Tapi Laudia tetap fropesiaonal dalam bekerja. Ia selalu rajin dan juga cepat, tak terlihat wajah lesu ataupun keluhan yang diperlihatkan Laudia di depan orang lain.
Pak Hasan menghampiri Laudia, dengan berkata." Laudia, jika memang ada kekerasan dalam masalah pribadi kamu, ada baiknya kamu lapor kepolisi, karena kalau kamu menyembunyikan semuanya, kita di sini akan jadi imbasnya. Apalagi polisi akan menyelidiki semuanya."
"Saya sudah pernah bilang, Pak Hasan jangan terlalu ikut campur. Saya pastikan kalian tidak akan terlibat begitupun dengan perusahaan ini."
Berbagai cara telah dilakukan Pak Hasan dan Edric, tetap saja Laudia bersikeras tidak ingin mengatakan kejujuran yang sebenarnya terjadi padanya.
"Ya sudah, kalau begitu. Pak Hasan, jangan terlalu ikut campur lagi masalah Laudia, dia keras kepala." Ucap Edric. Menyuruh Pak Hasan menyalakan mesin mobil, karena Edric ingin segera pulang ke rumah menemui sang istri.
"Laudia."
Teriakan terdengar, ketika Edric berniat pergi dan tak bertanya lagi pada sekertarisnya.
__ADS_1