Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 103 Perjalanan menuju bandara.


__ADS_3

Ellad duduk menyandarkan punggungnya pada kursi kayu yang terlihat begitu kokoh. Ia menatap tajam ke arah Dwinda dengan tersenyum sinis, selalu bersikap santai ketika istrinya memperlihatkan amarahnya.


"Bukannya kamu kemarin menyuruhku untuk menemui ibu," ucap Ellad, masih mengingat apa yang dikatakan Dwinda, ketika masuk ke dalam penjara.


Dwinda memang mengingat hal itu, tapi ia hanya bermaksud menyuruh Ellad untuk melihat keadaan ibunya saja, jangan sampai mengajak wanita tua itu mengobrol," kenapa kamu seperti tegang gitu, sebagai seorang menantu. Pastinya aku akan memperkenalkan diriku kepada ibu kandung kamu, apa kamu keberatan Dwinda?"


Pertanyaan Ellad tak bisa di pungkiri.


"Bukanya, dari awal aku sudah menyuruh kamu agar tidak mengobrol dengan ibuku, Dia itu mempunyai gangguan penyakit jiwa!" jawab Dwinda, nada bicara terdengar kasar, tidak terdengar lembah lembut seperti biasa.


Sifat manja yang selalu diperlihatkan Dwinda untuk Ellad hilang seketika.


"Kamu kenapa Dwinda?" tanya Ellad dengan berpura pura bodoh.


"Apa aku salah mengajak mengobrol ibu kamu yang ternyata tidak gila! Kamu sengaja membawa dia ke rumah sakit jiwa agar tidak merepotkan kamu bukan begitu. Agar rencana kamu untuk menghancurkan keluargaku berhasil dengan sempurna."


"Jaga bicaramu Ellad, ibuku memang gila. Mungkin karena sudah lama aku tak pernah mengajaknya mengobrol, jadi aku tidak tahu kesembuhanya."


Terlihat kedua mata Dwinda berkaca kaca, ia seperti menyimpan kesedihan, dan malu mengungkapkan semuanya.


Sedangkan Ellad yang dari tadi santai, hanya mengusap perlahan dagunya." Hem."


Ia menyaksikan kemarahan, Dwinda untuk pertama kalinya pada dirinya.


Ellad mulai bertanya lagi kepada Dwinda." kenapa kamu tega membunuh satu teman tahananmu?" tanya Ellad.


Deg ....


Dwinda hanya menundukkan pandangan, ia berusaha diam dengan kemarahanya. Mengigat kejadian semalam.


Mengira jika ia tak akan di curigai polisi, tapi kenyataanya Dwinda kalah, dan polisi sudah mencurigai semuanya.


Ellad mulai bertanya kembali," kenapa diam saja, apa aku salah bertanya padamu soal ini, apa kamu tidak takut penjara seumur hidupmu?"


"AKU TAK PEDUlI."


"Keras kepala sekali kamu."


Ellad tak kehabisan akal, ia membuat emosi Dwinda semakin menjadi-jadi," Oh ya. Bagaimana kalau ibumu tahu bahwa anaknya masuk ke dalam penjara, karena sudah membuat satu keluarga menderita."


Membulatkan kedua mata, pemilik bola mata coklat itu, mengepalkan kedua tangan. Tak terima jika Ellad mengatakan hal itu kepada ibunya.

__ADS_1


Dwinda takut jika nanti, keadaan sang ibu akan drop. " kalau kamu mengatakan semua itu, Aku pastikan hidupmu tidak akan bahagia begitupun dengan anakmu."


Acaman yang tak berguna untuk sang CEO, " Bagaimana kamu bisa mengancamku seperti itu, sedangkan kamu sekarang ada di dalam penjara."


Dwinda tertawa terbahak-bahak," kalau aku sekarang ada di dalam penjara. Aku pastikan hidupmu tidak akan bahagia begitupun dengan anak."


"Terserah, aku tak takut dengan ancaman kamu."


Ellad kesal dan marah saat meladeni istrinya itu, yakini beranjak berdiri, pergi dari hadapan wanita pemilik bola mata coklat itu.


"Aku pergi dulu, semoga kamu bisa menjaga dirimu baik-baik."


" b******* kamu Ellad. "


*******


Edric dan Aira begitu menikmati perjalanan mereka menuju bandara, terlihat Edric seakan tak ingin jauh dari sang istri.


Dari dalam mobil, Edric terus memeluk istrinya.


"Edric, apa kamu tidak malu? Di depan ada sopir."


Edric terlihat tak peduli, ia tetap memeluk istrinya penuh dengan cinta. Hatinya merasa bahagia,


"Sudah biarkan saja, Pak Hasan lihat, toh dia kan sudah tua. Dia udah ngerasain rasanya kaya gini. Basi menurut dia."


Lelaki tua yang mengendarai mobil hanya tersenyum, setelah mendengar sang tuan muda mengatakan hal lucu.


Sedangkan Aira tetap saja merasa malu, ia tak terbiasa memperlihatkan kemesraannya di depan orang lain, ia lebih senang bermesraan di dalam kamar tanpa ada satu orang pun yang melihat.


Edric yang memang terkesan jail, menggerakkan tangannya meraba ke seluruh tubuh Aira. Wanita desa yang tak tahan dengan tingkah laku Edric dan kejailannya. Membuat ia mencubit dan memukul tangan Edric.


"Aw, Aira sakit."


"Suruh siapa tangannya usil."


Edric tertawa dan membisikan perkataan pada istrinya, " nanti malam, ya."


Sopir kini berpura pura batuk, di depan kedua majikannya yang saling berbisik satu sama lain. Edric dan Aira, terdiam. Kedua pipi mereka memerah, Edric yang tak sabar, kadang kali membuat Aira kesal.


"Sebentar lagi kita sampai, penerbangan persawat lumayan cepat lama, apa kalian mau saya antarkan dulu ke hotel, " ucap sang sopir. Membuat Edric setuju, dengan perkataan Pak Hasan.

__ADS_1


"Boleh, Pak Hasan, " balas Edric begitu semangatnya. Ia tak tahu akan wajah cantik jelitanya Aira, membuat seluruh imannya terkoyah. Ia ingin melakukan hal yang selalu di nantikkannya.


Aira tak setuju, ia lebih baik jalan jalan saja untuk berbelanja barang yang ia butuhkan.


"Aira nggak setuju, Aira takut nanti kita kelamaan di hotel."


Edric mengerutkan dahi, dimana Aira membulatkan kedua matanya," loh, kenapa sayang. Kamu memangnya tidak mau tidur dulu di hotel, lumayan kan bisa istirahat."


Aira mengerutkan bibir, ia bukannya istrirahat. Yang ada malah kecapean karena diajak terus Edric berolahraga.


"Biar nanti tidurnya di dalam pesawat saja," balasan Aira membuat Edric harus menahan hasrat yang mengebu.


Ia sesekali menelan ludah, tak bisa menahan kebohayan tubuh istrinya itu.


Pak Hasan sebagai sopir kepercayaan Ellad dan Edric mulai bertanya lagi kepada kedua majikannya.


"Jadi kita akan kemana dulu."


Edric dan Aira menjawab.


"Ke hotel."


"Ke pusat pembelanjaan."


Pak Hasan langsung memberhentikan mobilnya, karena ia bingung dengan jawaban yang tak sama dari kedua Insan di belakang kursi mobilnya.


Edric dan Aira saling menatap satu sama lain.


"Sayang, kok kamu pilih pusat pembelajaan sih, bukan hotel."


Aira terlihat gugup, ia harus menolak suaminya dengan cara apa. " Itu, aku mau beli kebutuhan dulu sebentar."


Mencari sebuah alasan agar tidak pergi ke hotel," ya sudah kalau kamu mau ke pusat perbelanjaan, kita pergi dulu ke sana, setelah itu kita langsung beristirahat dulu di hotel?"


Ada saja ide Edric untuk meluapkan segala hasrat yang menggembung pada dirinya. Aira berusaha menanggapi semua itu, ia berencana akan berlama-lama di pusat pembelanjaan. Agar tidak pergi ke hotel.


"Gimana Pak Hasan, apa bisa seperti itu?" tanya Edric pada sang sopir. Lelaki tua itu mulai menjawab." Bisa saja, nanti saya akan kasih tahu penerbangan tuan dan Nyonya."


Edric tersenyum senang, ia tak sabar ingin menyantap body bohay sang istri.


Entah kenapa semenjak Aira menikah dengan Edric timbanganya naik derastis, tubuhnya yang dulu kecil dan tak berbody, kini malah memperlihatkan betuk tubuh yang terlihat bohay.

__ADS_1


__ADS_2