Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 139


__ADS_3

Carlos mendekati mobil sahabatnya itu, mencoba melihat pada jendela luar mobil. Tapi tak ada satu orang di dalam mobil.


Carlos berpikir jika mobil yang ia lihat mungkin hanya kebetulan saja sama, pada akhirnya Carlos mulai berjalan kembali menuju mobilnya untuk segera pulang ke rumah.


Welly mencoba mengatur napas, untung saja ia tak ketahuan. Jika sampai ketahuan kemungkinan besar akan ada perdebatan yang tak kunjung usai, tentunya membuat keduanya saling bermusuhan hanya karena seorang wanita.


Lucky sudah sampai di rumah Edric, kini mengetuk pintu cukup lumayan keras." Edric, ini aku Lucky. "


Terdengar suara Lucky, pada akhinya Edric membuka pintu rumahnya.


Saat pintu rumah terbuka, betapa terkejutnya Edric melihat penampilan Lucky yang tak biasa. Lucky yang sekarang adalah Lucky yang sebenarnya.


"Keren."


Gaya berjabat tangan sudah berubah, Lucky berusaha menjadi dirinya sendiri, berubah menjadi sosok laki-laki yang sebenarnya.


Edric menatap sahabatnya dari ujung kaki hingga ke kepala, benar-benar perubahan yang drastis.


" Aku tak menyangka jika kamu secepat itu berubah, benar-benar perubahan yang luar biasa."


Lucky kini diizinkan untuk masuk dan juga menginap di rumah Edric dan Aira, " Memangnya Kenapa dengan apartemen kamu sendiri? Sampai kamu mau menginap di rumah kecilku ini?"


Pertanyaan Edric sebenarnya membuat Lucky menggaruk telinga, ia langsung menceritakan, Kenapa dirinya ingin menginap di rumah, Edric. Pastinya akan membuat sang sahabat tertawa terbahak-bahak.


Edric mencoba merangkul sahabatnya itu, berharap jika Lucky mendengar perkataannya," aku tanya kok kamu malah diam begitu, kenapa ada sesuatu yang mengganggu kamu saat ini?"


Bagi Lucky banyak sekali yang mengganggunya saat ini, sampai ia kabur meminta izin kepada Edric untuk menginap di rumahnya.


"Asal kamu tahu saat aku pulang menuju apartemenku sendiri, kalau ternyata Carlos menunggu di depan pintu kamar apartemen. Dan lagi iya rela duduk di atas lantai hanya menunggu kedatanganku saat itu."


"Loh, bukannya tadi siang baru bertemu dengan kamu. Kenapa lagi mereka datang ke rumah kamu, Bukannya kamu sudah menjanjikan mereka untuk bertemu besok?"


Lucky terlihat begitu resah, " Justru itu mereka berdua keras kepala, ingin segera mungkin mengetahui jawaban siapa yang aku pilih."

__ADS_1


Menggelengkan kepala Edric malah tertawa terbahak-bahak setelah mendengar penjelasan yang terlontar dari mulut sahabatnya itu, Edric memukul-mukul bahu Lucky dan berkata, "memangnya wanita jadi-jadian seperti kamu diperebutkan oleh lelaki tampan seperti Welly dan juga Carlos."


Mendengar perkataan Edric tentulah membuat Lucky merasa jijik, tak ada keinginan untuk menjalin hubungan dengan dua laki-laki apalagi besok ada pemilihan dari salah satu mereka berdua.


Entah apa nanti jadinya, saat pertemuan itu terjadi besok, apa keduanya akan terkejut, melihat bentuk asli Lucky yang sebenarnya.


"Sudahlah, jangan bahas itu, sekarang tunjukkan di mana kamar untuk aku tidur. Rasanya tubuh ini benar-benar lelah, setelah berbelanja dan mengubah diri menjadi sosok lelaki sejati."


"Ya sudah. Ayo sini aku tunjukkan kamar kamu sebelah mana," Edric menyuruh sahabatnya untuk mengikuti langkah kaki.


Dimana Aira mencari keberadaan suaminya.


"Edric, siapa dia?" Tanya Aira sembari menggendong anaknya.


Aira sama sekali tak mengenal sosok lelaki yang berada di samping suaminya itu, tentulah membuat Lucky tersenyum.


"Sayang, masa kamu nggak kenal sama dia?" tanya Edric, kepada sang istri. Dimana Aira berusaha mengigat lelaki di sampingnya.


Aira menggelengkan kepala, kini Lucky memperkenalkan diri kepada Aira." Perkenalkan namaku Lucky. "


"Waw, kamu keren sekali, Lucky. Apa benar ini kamu?"


Aira masih tak percaya dengan apa yang ia lihat, perubahan Lucky, benar benar berbeda.


"Aku nggak menyangka jika ini kamu Lucky. Kamu benar benar jauh berbeda, lebih keren yang ini."


Edric mendengar istrinya memuji Lucky, membuat lelaki pemilik bola mata itu sedikit cemberut.


"Mm, jadi siapa yang lebih keren di sini?" tanya Edric menempelkan jari tangan pada dagu.


"Ya elah, kalian enggak ada apa apanya. Yang keren di mataku saat ini, ya ini lah." Aira menunjuk bayi mungil yang ia gendong.


Jelas kedua lelaki itu kalah, setelah di bandingkan dengan bayi mungil yang baru saja dilahirkan Aira.

__ADS_1


Kedua lelaki itu kini cemberut, Edric mulai mengantarkan Lucky ke kamarnya.


"Ayo Lucky, aku tunjukkan kamar kamu sekarang juga."


Aira tertawa riang, ia hanya membuat Kedua lelaki itu merasa tak pede dengan wajah mereka.


Setelah mengantarkan Lucky ke kamarnya, Edric mulai menghampiri sang istri.


" Syukurlah kalau Lucky benar-benar berubah, aku bersyukur sekali jika ia masih mempunyai kesadaran."


"Ya, aku juga tak menyangka, jika Lucky sekarang berubah seorang lelaki seutuhnya dan menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. dan aku juga sangat berterima kasih sekali kepada dia karena sudah menyembuhkan kedua kakiku. Sekarang aku bisa menikmati hari-hariku bersama kamu dan anak kita tanpa menggunakan kursi roda dan bergantung kepada orang lain."


Edric memeluk sang istri dengan rasa syukurnya, mereka berdua tampak bahagia. Seperti tak ada penganggu sedikit pun, " aku bahagia sekali bisa bersamamu hingga saat ini."


Kemesraan mereka sedikit terganggu, dengan suara ponsel yang berdering, menandakan satu pesan datang.


Edric meraih ponsel di atas meja melihat Siapa yang menjadi pesan kepadanya.


(Edric, aku tanya kepada kamu hari ini. Apa ada Lilia di rumah kamu, jika ada tolong sampaikan rasa rinduku saat ini kepadanya.)


(Edric, jika memang dia menginap di rumahmu, aku pastikan kamu jangan sampai menyentuh wanitaku. Jika semua itu terjadi aku tidak akan memaafkanmu sama sekali.)


(Oh ya, jangan lupa perlakukan calon istriku dengan baik, karena besok pastinya aku yang akan terpilih oleh Lilia menjadi calon suaminya.)


(Edric aku terpaksa mengirim pesan ini, karena aku benar-benar merindukan Lilia.)


Pesan dari Carlos malah membuat Edric tertawa terbahak-bahak, pesan dari sahabatnya itu yakini perlihatkan kepada Aira.


"Sebegitu bucinya Carlos pada Lilia yang ternyata dia adalah seorang laki-laki. Kasihan sekali Carlos, apa kamu tidak merasa kasihan terhadap kedua teman-temanmu itu."


Edric mulai menjelaskan semuanya kepada sang istri," Sudahlah kamu jangan kasihan terhadap mereka, toh mereka itu harus mendapatkan sebuah pelajaran karena kejahilan mereka sendiri, agar merasakan bagaimana rasanya dibohongi dan dijahili oleh sahabatnya sendiri."


Aira hanya bisa mendengarkan apa yang dikatakan suaminya itu. ya tak bisa melawan dan hanya menonton kejahilan mereka berdua kepada Carlos dan juga Welly.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, aku lelah mau tidur."


__ADS_2