
Edric mencoba mengulurkan kedua tangannya, untuk membantu sang istri yang berusaha berdiri.
Dimana Aira begitu terlihat kesal karena ronde dari Edric membuat tubuhnya tak berdaya.
Aira ingin beristirahat lagi, tapi apa daya Aira terlihat sangat kesal, karena kelakuan suaminya yang keterlaluan. Membuat semua badan basah, dan harus membersihkannya segera mungkin.
"Nggak usah, aku nggak butuh bantuan kamu." Gerutu Aira, beberapa kali ia berdiri, tetap saja ia terjatuh dan terjatuh lagi ke atas lantai. Walau hanya pelan, tetap saja membuat kuatir Edric.
lelaki pemilik bola mata biru itu tak tega melihat sang istri yang terus-terusan terjatuh, walau cuman pelan tapi ya khawatir dengan kehamilan Aira yang masih berumur 2 bulan.
"Ya ampun Aira, kamu ini keras kepala sekali sih. Ayo sini aku bantu, aku terpaksa mengguyur tubuh kamu dengan air, karena kamu susah sekali dibangunin, kita kan mau ke luar negeri untuk pengobatan kakiku, tapi kamu malah tidur saja," cetus Edric. Bukan malah membuat suasana tenang dan perdebatan berakhir, mereka malah saling menyalahkan.
"Heh, tuan CEO yang tampan. Sebelum anda berbicara seperti itu, coba anda renungkan kesalahan anda sendiri. Saya pastinya tidak akan tidur, saat ini juga saya sudah bersiap-siap untuk segera pergi ke bandara. Tapi karena ulah anda yang sudah mengajak saya bergulat di kasur sampai tiga ronde, membuat tubuh saya terasa lemas dan juga kelelahan, apa anda tidak bisa mengerti disaat situasi seperti ini," ucap Aira yang terlihat begitu marah besar terhadap suaminya sendiri.Ia pastinya akan melayani suaminya, tapi sewajarnya saja tidak berlebihan.
Namun dalam kenyataannya, Edric tak memandang lelah istrinya. Ia tetap menikmati keindahan gelora asmara dalam balutan selimut tebal.
Edric merasa bersalah setelah mendengar ocehan keluar dari mulut istrinya, kedua pipinya memerah menahan malu. Ia terlalu bersemangat, hingga membuat istrinya kelelahan dan mengamuk.
Aira berusaha memijit punggungnya sendirian.
Namun di luar kamar mandi Edric mengoceh, tentu saja membuat Aira mengepalkan kedua tangannya, perasaannya ingin sekali memukul wajah sang suami, membuat Aira berusaha menjadi orang yang sabar menuruti perintah Barbar suaminya
Perlahan Aira yang tadinya melawan kini tiba-tiba saja membungkam mulutnya, hanya karena masalah sepele mereka menjadi berantem.
Aira mengira jika dengan hanya diam, Edric akan meminta maaf. Tapi pada kenyataannya saat Aira keluar dari dalam kamar mandi, suaminya malah diam sama ngoceh kembali.
Sedangkan Aira berusaha menunggu kata maaf terlontar dari suaminya itu, Aira bergegas untuk segera memakai baju.
Edric merasa tak nyaman dengan keringat yang bercucuran dari badannya juga kepalanya, membuat Ia terburu-buru menggerakan kursi rodanya menuju kamar mandi.
__ADS_1
Betapa lupanya mereka, sampai tak teliti mengecek panggilan telepon sudah mati ataukah belum.
Namun dalam kenyataannya sambungan telepon yang terhubung pada Pak Hasan, belum dimatikan oleh Edric.
Jelas membuat sang supir mengetahui perdebatan kedua insan yang berada di kamar hotel.
Pak Hasan sangatlah panik, karena majikannya yang ternyata belum keluar hotel. Membuat Pak Hasan tak tenang, apalagi jadwal keberangkatan hanya sebentar lagi.
" karena begitu kuatir dengan keadaan kedua majikannya, Pak Hasan bergegas masuk ke kamar kedua pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan yang masih terbilang muda.
Jarak ruangan kedua majikannya sangatlah jauh, membuat Pak Hasan dengan terburu-buru berlari.
Setelah sampai barulah Pak Hasan mengetuk pintu kamar kedua majikan.
Aira baru saja selesai memakai baju pilihannya, sedangkan Edric baru keluar dari kamar mandinya. Ia dengan terburu-buru mengelap seluruh badannya, mencoba meminta bantuan kepada sang istri.
Dari kekesalan yang diperlihatkan Aira, membuat Edric tetap saja merayu sang istri tercinta.
"Kenapa kamu marah sayang?"
Edric berusaha merayu sang istri agar tersenyum kembali, lelaki pemilik bola mata biru itu tak pandang menyerah, berusaha membuat mod sang istri senang.
Aira merasa terganggu dengan gombalan dan juga rayuan dilayangkan suaminya," sayang, Ayo dong bicara jangan cemberut begitu. kamu tega ya buat aku menderita karena kemarahan kamu Aira."
Kini Aira sudah selesai merias wajahnya, Iya baru saja belajar dari para pembantu di rumah Edric.
Edric tak hentinya mencuil dagu sang istrinya kembali, melontarkan kata-kata yang mungkin bisa membuat istrinya ceria kembali, walau rasanya tak mungkin, tapi Edric berusaha dengan keras.
"Aira, ayolah senyum sedikit sayang. Apa kamu akan terus-terusan marah seperti ini kepadaku," ucap Edric. Membalikkan badan menatap ke arah suaminya yang sudah memakai baju begitu rapi.
__ADS_1
Aira semakin dekat mendekatkan wajahnya pada wajah sang suami," siapa suruh jahil."
Tok .... Tok .... Tok.
ketukan pintu terdengar begitu keras, Ternyata Pak Hasan sudah sampai juga ke pintu kamar kedua majikannya, lelaki tua itu, berusaha menggedor-gedor pintu kamar majikannya.
"Tuan, Nyonya."
Aira padahal ingin sekali mendengarkan suaminya meminta maaf, tapi apa daya banyak gangguan yang begitu menghadang.
Aira, berjalan ke arah pintu. untuk segera menemui sang supir, tak lupa Aira mendorong kursi roda suaminya untuk segera sampai keluar hotel.
Pak Hasan sedikit bernapas lega, setelah melihat penampilan press dari istrinya. Kedua mata lelaki tua itu membulat, apa yang ia lihat di depan matanya.
Aira seperti bidadari yang turun dari langit, penampilannya begitu cantik dan juga anggun. membuat siapapun orang yang melihatnya akan tertarik dan senang berkenalan dengan Aira.
"Wah, ternyata kalian sudah siap juga. Pak Hasan segera membawakan barang-barang yang akan dimasukkan ke bagasi mobil."
Aira berjalan mengikuti Pak Hasan yang membawa barang-barang Anna.
"Hati hati ya, pak. "
Edric berusaha membuat istrinya agar mengoceh dan tidak diam terus, ia tidak mau melihat sang istri marah hanya karena pertarungan yang ia buat sampai tiga ronde.
Namun apa daya sudah dibujuk dan diperlihatkan hal-hal lucu, Aira tetap menghargai sang suami hanya dengan diam dan tak berucap satu kata-kata pun lagi. Aira tetap melayani dengan sepenuh hati Sang suami."
"Aira sayang kamu ini kenapa?" tanya kedua wanita yang sudah banyak menghabiskan makanan.
Beberapa kali memberi kode untuk istrinya, tetap saja Aira memperlihatkan sisi kesalnya, karena mengigat kejadian yang membuat ia kelelahan itu adalah suaminya sendiri. Padahal Aira sempat menolak. Tapi tetap saja seorang lelaki yang tak bisa menahan hasratnya harus segala tersalurkan
__ADS_1
Di dalam mobil, Aira mencoba melupakan kekesalan dan juga amarah yang meluap pada hatinya. Karena perasaan itu tidak akan baik pada dirinya sendiri.
Edric memegang kembali tangan istrinya, merayu dengan mencium kedua pipi Aira beberapa kali.