
Karena rasa kasihan pada akhirnya, Aira mengalah, ia memaafkan para warga yang sudah memfitnah dan hampir membakar rumah peninggalan sang ibu satu satunya.
"Edric, sebaiknya. Kamu lepaskan mereka semua, aku bukan orang jahat yang asal membuat mereka menderita, aku masih punya hati nurani. Jadi lepaskan mereka semua, " ucap Aira, saat itulah Edric mengambulkan keinginan istrinya dengan membebaskan para warga di desa Aira.
Tarjo dan Andi seakan tak menerima akan keputusan yang dikatakan Aira.
"Loh, Nona. Rasanya tak adil deh, kalau mereka bebas," ucap Tarjo, terlihat geram pada para warga di desa.
"Iya, Nona, mereka enak banget langsung bisa bebas begitu saja," balas Andi, ikut serta ucapan Tarjo.
Aira menatap ke arah suruhan Edric menjawab," sudah tak apa, biarkan saja mereka bebas. Kalau aku melakukan semuanya, apa bedanya aku dengan mereka semua."
Edric tersenyum dengan jawaban manis istrinya, ia senang jika Aira memaafkan para warga yang sudah memfitnahnya.
"Terima kasih Aira, kamu memang orang yang baik. Kami sudah salah menilai kamu, andai saja kami tidak terfitnah dalam ucapan Sodikin, mungkin kami tidak akan menyalahkan kamu," ucap para warga, menyesali semuanya.
"Sudah, sebaiknya kalian pulang. Aku sudah mamaafkan kalian semua," balas Aira. Tersenyum ramah pada para warga.
Semua orang nampak mengagumi Aira, mereka semakin bersalah, hingga akhirnya. Menebus kesalahan dengan membantu merapikan semua ruangan di rumah ibunda Aira.
"Kami ingin menebus kesalahan kami, jadi izinkan kami untuk membesihkan rumah mendiang ibu kamu Aira." Mendengar hal itu, tentu saja membuat Aira senang, ia mempersilahkan para warga untuk masuk dan membersihkan rumah Siti.
Hati Aira terasa terobati dengan para warga yang begitu baik, Aira lupa menanyakan dimana kuburan ibunya pada warga.
"Aku ingin tanya, kuburan ibuku ada dimana ya."
Para warga kini menjawab," kuburan ibu kamu ada di tempat pemakanan sidang kasih, karena kebetulan sekali ayah tiri kamu menyuruh pada Kami menguburkannya di sana."
"Sindang kasih. Ya sudah nanti saya akan ke sana. "
Setengah jam berlalu para warga selesai membersihkan rumah Siti dengan begitu bersih dan rapi.
"Senang rasanya melihat rumah ibu rapi dan bersih." Ucap Aira, memperlihatkan raut wajah berseri.
Para warga kini berpamitan untuk segera pulang ke rumah masing masing, mereka merasa senang dan tenang. Setelah Aira memaafkan para warga.
__ADS_1
Edric mendekat ke arah sang istri dan bertanya." bagaimana perasaanmu, tenang kah."
"Aku sudah merasa tenang, sekarang. Edric. Terima kasih."
Wanita mana yang tak bahagia, jika sosok seorang lelaki selalu membuatnya bahagia.
Edric memegang kepala Aira, mencium keningnya dan berkata." apa pun akan aku lakukan demi kamu Aira."
Senyum tergambar pada ujung bibir Aira, membuat Edric merasa gemas, ingin sekali menekram sang istri saat itu juga.
Namun apa daya masih ada kedua suruhanya.
"Gimana kalau kita menginap dulu di rumah ibu? Besok ke pemakaman dan langsung pulang, kamu keberatan tidak sayang?" tanya Aira dengan mengedipkan kedua mata memohon pada sang suami, agar keinginannya dikabulkan.
Jadwal Edric sebenarnya begitu banyak dan padat apalagi masalah kuliah, sudah pastinya sang dosen akan memarahi Edric habis habisan, ia tak mampu melawan dan hanya bisa diam tanpa berucap satu patah katapun.
"Gimana, apa bisa?" tanya kembali Aira pada Edric .
Sang pemilik bola mata biru pada akhirnya luluh, melihat raut wajah wanita yang menjadi istrinya begitu menggemaskan.
Ia memegang dagu Aira dan menjawab." baiklah apapun akan aku kabulkan demi kamu."
"Mm, kenapa Aira?"
Aira datang lagi menghampiri sang suami, dengan menutup mulut merasakan rasa mual yang tak biasa, beberapa kali ya bolak-balik ke kamar mandi, mengeluarkan isi dalam perutnya.
Kini Edric merasa khawatir dengan keadaan istrinya, ia kini membantu Aira untuk mengeluarkan rasa tak nyaman dalam perutnya.
Terlihat Aira seperti lemas, ya tak sanggup berdiri. Sampai Edric berusaha membantunya, sang pemilik bola mata biru itu, berteriak memanggil para suruhannya untuk membantu Aira.
"Tarjo, Andi."
Kedua suruhan Edric kini datang, setelah CEO muda itu berteriak memanggil nama mereka berdua.
"Ada apa tuan?" tanya Tarjo dan Andi.
__ADS_1
"Tolong buatkan air hangat, sepertinya Aira mengalami masuk angin!" printah Edric. Dengan sigap mereka berdua kini terburu-buru mencari ruangan dapur untuk segera membuatkan air hangat.
Aira seakan tak sanggup lagi berjalan, pada akhirnya dia jatuh pingsan. Edric langsung merasa panik, berteriak memanggil kedua suruhannya untuk segera datang.
Andi dan Tarjo yang baru saja membuatkan air hangat untuk sang nyonya. kini tergopo gopoh berlarian, sembari membawa air hangat ke dalam kamar Aira.
"Ini tuan air hangatnya."
Andi menyodorkan air hangat, tapi Edric tak langsung menerima air hangat itu. Ia malah menyuruh keduanya untuk mencari seorang dokter.
keduanya saling menatap satu sama lain, mana mungkin mereka bisa menemukan seorang dokter di kampung ini, karena jalanan yang begitu jauh dari pemukiman. pastinya membuat mereka kewalahan untuk mencari seorang dokter ataupun klinik di desa Aira.
"Tapi tuan."
Edric yang tak mau mendengar keluhan dari kedua keseluruhannya, kini memerintah dengan sedikit bernada tinggi," sudah sudah sudah, banyak bicara. Cepat kalian harus cari dokter segera mungkin. Kalau kalian tidak mau aku pastikan meninggalkan kalian di desa ini."
Mendengar hal itu, tentulah membuat keduanya ketakutan. Pada akhirnya mereka berusaha mencari keberadaan dokter di desa Aira, berharap jika dokter segera ditemukan oleh mereka berdua.
"Aira kamu bertahan ya," beberapa menit kemudian Aira terbangun dari pingsannya, Edric mengambilkan air hangat untuk diminumkan kepada istrinya.
"Ayo minum sayang," ucap Edric. Terlihat sang CEO muda merasa kuatir pada keadaan istrinya.
Keadaan Aira terlihat membaik setelah meminum air hangat yang dibuatkan Tarjo dan juga Andi.
Aira berusaha merebahkan tubuhnya, ia bertanya kepada Edric, keberadaan Tarjo dan juga Andi.
Sampai Edric menjawab.
" Tadi aku suruh mereka berdua mencari dokter. "
"Dokter?"
"Iya, dokter. Tadi kamu tiba-tiba saja pingsan, membuat aku begitu kuatir dan tanpa berpikir panjang menyuruh kedua suruhan untuk mencari seorang dokter."
Aira tertawa terbahak-bahak setelah mendengar Edric menceritakan semuanya," di desa seperti ini Mana ada dokter, kamu ini ada-ada aja. Aku kan sekarang tidak kenapa-napa, hanya merasa mual saja."
__ADS_1
"Iya, tapi tetap saja sebagai seorang suami aku sangat khawatir sekali dengan keadaan kami."
"Iya aku tahu itu, Ya sudah sekarang kamu telepon mereka berdua, kasihan kalau mereka sampai mencari ke hutan seorang dokter."