
Dwinda menjerit, ketika rambutnya dan juga wajahnya basah akibat ulah Aira yang sengaja menguyurkan.
Sedangkan gadis berbulu mata lentik itu tertawa terbahak-bahak, " Hhaahhah. "
Melihat apa yang sudah ia perbuat pada ibu tiri Edric.
Hilang kesabaran Dwinda mendengar Aira tertawa puas, saat itu juga iya berjalan mendekat ke arah Aira untuk menampar pipinya.
Namun, bukanya berhasil. Dwinda malah terpeleset jatuh, membuat pinggangnya kesakitan.
"Aduhh, aw."
Terduduk dengan berkata," sialan kamu Aira."
"Sakit pasti rasanya."
Sang pemilik bola mata coklat itu ingin sekali menangis, merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa ia rasakan, akibat terpeleset dari atas lantai.
Menyodorkan tangan ke arah Aira dengan berkata, " tolong saya Aira."
"Apa tolong? Sorry ya."
Aira malah pergi dari hadapan Dwinda, membuat wanita muda berumur dua puluh delapan tahun itu kesal.
"Aira."
Sampai beberapa menit kemudian, Aira datang kembali membawa ember berisi air. Dengan sengajanya ia menumpahkan air dalam ember itu pada tubuh Dwinda.
"Aira kurang ajar kamu."
"Hahhahah, rasain emang enak. Makanya jadi orang itu jangan kurang ajar."
"Sialan kamu, berani dengan saya."
Aira menjulurkan lidah, layaknya anak kecil yang mengejek temannya. " Emang enak."
Rasa tak puas mengerjai Dwinda, kini Aira melemparkan ember pada wajah pemilik bola mata coklat itu." Nih makan, biar tambah segar."
"Ahk."
"Good bye. "
Aira pergi begitu saja meninggalkan Dwinda di dalam kamarnya.
"Aira." Teriakan Dwinda diabaikan begitu saja.
__ADS_1
Wanita desa itu berjalan, ke arah meja makan. Tak memperdulikan teriakan Dwinda sedikit pun.
"Kali kali, dia harus di beri pelajaran. Memangnya enak. Belum tahu dia gadis desa seperti aku."
Duduk, melihat makanan sudah tersaji, Aira langsung menyantapnya tanpa ragu sedikit pun. Hingga dimana para pelayan datang, membuatkan sesuatu makanan yang begitu mengiurkan.
"Maaf Nyonya ini makanan kusus untuk Nyonya Aira."
Aira mengerutkan dahi, tumben-tumbenan para pelayan memisahkan makanan, apa ada sesuatu yang sengaja para pelayan itu masukan ke dalam makanan Aira?
Tangan yang sudah meraih sendok, mulai menuangkan kuah segar yang di pisah. Seketika.
" Ahkkkkk."
Teriakan Dwinda, kini kembali terdengar. Aira tertawa pelan. Sedangkan para pelayan menghampiri teriakan sang majikan.
"Wah, sepertinya para pelayan sudah pergi. Bagus juga, ini kesempatanku untuk menukarkan kuah agar ini dengan nenek lampir itu."
Tersenyum kecil seraya bergumam dalam hati," aku kerjain lagi kamu Dwinda, baru tahu rasa. Siapa suruh bersekongkol dengan para pelayan."
Para pelayan yang kini sudah sampai di kamar Aira, melihat majikannya berusaha berdiri membuka ember pada wajahnya. Ingin rasanya mereka tertawa di hadapan Dwinda yang tengah menderita, berusaha berdiri karena licinnya air pada atas lantai, membuat ia terjatuh lagi dan lagi.
"Ahk, sial."
"Kalian, Kenapa berdiri di sana tolong bantu aku berdiri." Bentak Dwinda.
"Ahk, iya Nyonya."
Para pelayan berusaha membersihkan atas lantai di kamar Aira dan yang lainnya berusaha untuk membantu Dwinda berdiri.
Aku tidak mau kejadian ini diketahui oleh suamiku. Jadi kalian diam jangan mengatakan apa-apa.
"Baik nyonya."
Perlahan Dwinda mulai berjalan untuk segera membersihkan dirinya, keluar dari kamar Aira. Maria yang melihat kejadian itu tentunya merasa puas, kenyataan Aira bukanlah wanita sembarangan, ia bisa membuat Dwinda kalah dengan dirinya.
"Sial semua ini gara-gara Aira. Pinggangku rasanya sakit sekali, seperti mau patah tulang saja." Menggerutu kesal, Dwinda mulai masuk ke dalam kamarnya untuk segera membersihkan badan. Sialnya, kejadian itu terulang kembali. Dwinda terpeleset pada kamar mandinya sendiri. Ia lupa sehabis mandi menyuruh pelayan untuk membersihkan kamar mandinya.
Brakkk ....
Yang kedua kalinya sangatlah menyakitkan, membuat Dwinda tak bisa berbicara ataupun berteriak, tubuhnya sangat lemas para pelayan yang melihat kejadian itu malah menertawakan sang majikan.
"Kalian tertawa." Baru perkataan dan bentakan keluar lagi dari mulut sang majikan.
Mereka yang menyadari kemarahan Dwinda, menutup mulut untuk menghentikan rasa tawa, Lina dan juga Ratna membantu Dewinda untuk segera berdiri.
__ADS_1
"Ayo nyonya, saya bantu anda berdiri."
Dwinda yang terlihat kesal, menghempaskan tangan kedua pelayanya.
"Awas, aku bisa berdiri sendiri."
Karena rasa egonya yang tinggi, Dwinda tak kuat untuk berdiri, ia malah terjatuh lagi.
Lina dan Ratna saling menatap satu sama lain, mereka puas dengan kejadian yang menimpa majikannya.
" Kenapa kalian diam saja cepat bantu aku berdiri," bentak Dwinda kepada Ratna dan juga Lina.
"Baik, Nyonya. "
Dwinda kini berdiri, dengan dibantu Ratna dan juga Lina. Wanita berumur dua puluh delapan tahun itu menyuruh para pelayannya untuk membantunya membersihkan badan.
"Cepat bantu aku untuk membasuh tubuhku ini."
"Baik nyonya." Mereka hanya menurut dengan apa yang diperintahkan sang Nyonya, tak mempedulikan tubuh yang terekspos secara nyata di depan wajah mereka.
Dwinda memiliki tubuh yang terlihat begitu terawat, tidak ada bercak luka ataupun bekas seperti penyakit kulit.
Membuat Ratna dan Lina iri, mereka juga ingin seperti Dwinda yang memilik badan seperti model dengan kulit mulus dan lembut.
Setelah selesai membersihkan seluruh badan Dwinda. Ratna dan juga Lina, membantu sang majikan untuk berdiri dan berjalan keluar dari kamar mandi.
Terlihat dari raut wajah Dwinda, Iya begitu kesakitan sekali. Sampai kedua pelayan hampir kewalahan membantu Dwinda untuk berjalan, karena tubuh Dwinda yang berat dan terlihat berisi.
Dwinda kini di dudukan pada ranjang tempat tidur, agar kedua pelayan itu dengan gampangnya, memakaikan baju pada tubuh Sang majikan.
Ratna mengambil beberapa baju yang mungkin akan dipilih Dwinda untuk ia pakai, terlihat sekali Dwinda merasa tak suka dengan pilihan Ratna.
Membuat Iya kembali menyuruh Lina untuk membawa lagi baju," Aku tidak suka baju itu, cepat cari yang lain."
Sudah beberapa kali Lina dan juga Ratna bolak-balik membawa baju untuk dipakaikan kepada Dwinda.
Namun, tetap saja Dwinda tidak suka dengan baju yang dibawa Ratna dan Lina, membuat ia menyuruh kedua pelayan itu Lagi Dan Lagi seakan ingin melihat Ratna dan Lina kelelahan.
Hingga beberapa kali bolak-balik sampai ke 30 kalinya, saat itulah Dwinda merasa kasihan terhadap kedua pelayannya, ia memilih baju berwarna biru muda untuk ia pakai.
Ratna sangatlah kesal. Padahal dari tadi baju yang dipilih Dwinda, sudah ia bawa bolak-balik. Tapi tetap saja sang majikan menolaknya terus-menerus.
"Cepat pakaikan baju itu kepadaku," perintah. Dwinda kepada kedua pelayannya dengan nada kesal.
Ratna menghampiri sang majikan untuk segera memakaikan baju, terlihat sekali Ratna ingin sekali memukul bibir cerewet Dwinda yang sangatlah keterlaluan, ketika memerintah para pelayan dengan seenaknya. Terlihat sekali raut wajah sok berkuasa atas segala yang berada di rumah ini.
__ADS_1