Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 80 Masa lalu Dwinda 5


__ADS_3

Edric tak mengerti, di hari meninggalnya sang ibu. Ia malah dinyatakan lumpuh, bagaimana semua bisa terjadi kepadanya, bukanya sudah jelas. Ia berjalan seperti biasa saat datang ke rumah sakit.


Kini para perawat membawakan kursi roda, untuk dipakaikan pada Edric.


"Aku tidak mau pakai ini." Teriak Edric, pada para perawat.


Kursi roda sudah ada di depan matanya, Edric tetap membantah tidak mau naik pada kursi roda.


"Tuan, jika anda memaksakan diri untuk berjalan rasanya tak mungkin." ucap Dokter yang menangani Edric.


"Sudah cukup, diam. Sekarang tinggalkan aku di sini," teriak Edric pada para perawat dan juga dokter.


Pada akhirnya mereka semua keluar dari rumah sakit, karena Edric yang terus mengamuk.


"Sial, kalian semua."


Edric mengerutu kesal dirinya sendiri.


Sampai dokter yang menanganinya, datang menemui Dwinda," kamu lihatkan apa yang sudah kamu lakukan itu, keterlaluan sekali. Seharusnya tak usahlah Edric ikut juga. Kasihan masa depannya."


"Berisik, diam. Jangan bicara lagi, kamu cukup tutupi semuanya, jangan sampai ada orang yang tahu. Jika semua orang tahu, yang akan aku sered saat itu kamu, ingat itu."


Dwinda mengacam dokter yang dekat dengannya, ia berusaha menutupi kebusukan, agar rencana berjalan dengan lancar.


*******


Sedangkan sang ayah baru saja masuk ke ruangan anaknya untuk melihat keadaan Edric.


"Edric, ada apa dengan kamu?"


Pertanyaan Ellad membuat Edric terlihat bersedih.


"Kenapa dengan kaki kamu?"


" Entahlah, Dady. Aku tak mengerti kenapa bisa seperti ini, kakiku susah digerakan. Aku bingung!"


Mendengar jawaban dari anaknya, Ellad masih tak percaya dan tak mengerti. Kenapa sampai bersamaan seperti ini?


Dwinda datang tiba tiba, di saat obrolan antara anak dan ayah sedang berlangsung.


"Pak Ellad, apa saya bisa berbicara dengan anda sekarang?" tanya Dwinda.

__ADS_1


Ellad yang terlihat luluh dengan sifat Dwinda kini menurut, ia berjalan mengikuti langkah kaki sang dokter.


"Silahkan duduk, pak."


Ellad, mulai duduk atas perintah Dwinda. Ia menatap ke arah wajah dokter yang menjadi sahabat istrinya.


Wanita pemilik bola mata coklat itu kini menjelaskan semuanya, kenapa tiba tiba Ellad lumpuh.


"Edric anak bapak mengalami kelumpuhan secara tiba tiba, bisa disebabkan karena syok atau urat yang tiba tiba terjepit."


Ellad hanya diam, mendengarkan perkataan Dwinda, begitu percis dengan istrinya saat menerangkan tentang pasien.


"Kami bisa saja menyembuhkan anak bapak dengan terapi tanpa oprasi."


Ellad tak bisa berpikir jerni, karena pikiranya kini terasa terganggu. Ia hanya mengiakan apa kata dokter.


"Jadi bagaimana Pak Ellad?"


"Terserah anda saja, saya hanya ingin anak saya sehat kembali, bisa berjalan seperti biasa!"


Lelaki berambut putih seperti terlihat tak berdaya, karena Maya yang sudah tiada, di tambah lagi Edric lumpuh.


"Pak Ellad, karena saya banyak berhutang budi dengan istri bapak. Saya akan menjadi dokter yang melayani anak bapak, sampai dia bisa berjalan."


Di situasi darurat seperti ini Ellad sudah tak bisa memikirkan tentang polisi dan penyebab lainya, ia hanya bisa pasrah dan menerima semuanya.


Lelaki tua itu beranjak berdiri dan pergi dari ruangan Dwinda.


Wanita pemilik bola mata coklat, bersorak hore dengan perasaan senang dan bahagia.


Begitu bodoh CEO Ellad, begitu teledor tanpa megasut tuntas masalah yang terjadi pada anak dan istrinya.


Setelah Ellad keluar, Dinda duduk dengan perasaan berbunga bunga. Sampai suara ketukan pintu terdengar.


Tok .... Tok ....


"Masuk."


Seorang dokter yang bekerja sama dengan Dwinda, ternyata datang untuk mendengar penjelasan dari Ellad.


"Bagaimana, apa katanya? Apa dia tidak mengasut tuntas masalah yang terjadi."

__ADS_1


"Kamu tenang saja, dia tidak melaporkan kematian Maya dan juga kelumpuhan Edric, sepertinya ia terlalu terauma. Sampai apapun yang aku katakan dia menurut."


"Bagus kalau begitu, jadi aku bisa bernapas lega. Terus apa rencamu selanjutnya. Jangan lupa setelah berhasil."


Dokter yang bekerja sama dengan Dwinda, menunjukkan tanganya dan mengedipkan mata, memberi sebuah kode, pada Dwinda.


"Tenang saja kamu tak usah kuatir, setelah ini. Rumah sakit tempat kita bekerja akan menjadi milikku sepenuhnya, oh ya kamu yang akan memerintah di rumah sakit ini."


"Wah, setuju. Aku suka dengan ide ceritamu itu."


"Bagus, jika kamu setuju. Hanya dengan tutup mulut saja, kamu pastinya akan merasakan hasil dari kerja keras kita, menyingkirkan Maya."


********


Ditengah kebahagian Dwinda, Ellad melangkah gontai, kakinya seakan lemas. Setelah mendengar Edric butuh penyembuhan total.


"Apa jadinya jika orang orang kantor tahu. Anakku lumpuh, ahk. Tidak tidak, aku harus menyebunyikan semuanya." Ucap Ellad, ia terpaksa menyebunyikan idetitas anaknya sendiri. Sebagai seorang CEO yang sukses, ia tak mau dipandang hina dan malu oleh kawan kawannya.


Edric berusaha menerima keadaanya, karena ia ingin melihat pemakaman sang ibu terakhir kalinya. Karena dengan cara melihat pemakaman sang ibu, saatnya Edric mencurahkan semua kesedihanya.


Memanggil para perawat, Edric memerintah mereka untuk mendudukan Edric di kursi roda.


"Tolong bantu saya duduk di kursi roda."


"Baik, Pak."


Dengan perlahan Edric di dudukan di kursi roda, terlihat sekali Edric merasa tak terima, namun ia berusaha pasrah akan keadaan yang menimpanya.


"Antarkan saya, melihat jenazah Ibu Maya," printah Edric pada para perawat, Edric kini menjadi baik dan tidak membentak lagi para perawat ataupun dokter di rumah sakit sang Ibunda.


********


Air mata berusaha ia tahan semampu yang ia bisa. Melihat jenazah yang sudah bersih dan dibaluti dengan kain kafan, membuat Edric pada akhirnya tak bisa menahan air mata yang lolos begitu saja mengenai kedua pipi.


Rasa sakit kini dirasakan Edric, hatinya hancur sehancur-hancurnya, baru saja kemarin sang Ibu menasehati, selalu melarangnya dengan hal yang tidak baik.


Namun sekarang. Edric merasakan arti Kehilangan, akan nasehat dan juga larangan sang ibu yang setiap hari terlontar dari mulut nya untuk sang anak.


Mengusap perlahan air mata yang terus berjatuhan, Edric tahan melihat orang yang sangat Ia sayang terbujur kaku.


Edric kini mendekat mencium kedua pipi wanita yang sangat berharga dalam hidupnya, bisikan suatu perkataan kepada sang ibu." mom, maafin Edric, selama ini, sebagai seorang anak Edric tak pernah menurut pada mommy. Edric selalu membantah, dan melawan apa yang dikatakan mommy. Sekarang Edric menyesali semuanya."

__ADS_1


Dwinda melihat adegan yang begitu berharga dari seorang anak untuk ibunya, membuat Ia hanya tersenyum manis dan melihat penderitaan perlahan mendekat pada keluarga Ellad." Edric kamu merasakan apa yang aku rasakan saat Ayahku meninggal dunia. Pastinya kamu sangat tersiksa. Hati kamu sakit."


Dwinda perlahan mendekat ke arah Edric, berusaha menjadi seorang penenang, agar Edric bisa bersimpati kepadanya.


__ADS_2