
Aira dari tadi terus menatap kado dari Carlos dan Welly, sedangkan Edric begitu sibuknya melihat isi kado dari teman temannya yang lain.
Edric sudah menduga, barang yang diberikan sahabatnya adalah barang barang branded, bagi Edric sudah biasa melihat barang seperti itu.
Namun bagi Aira, semua itu adalah hal istimewa. Karena Aira biasa membeli barang di emperan dan juga baju dengan badrol harga lima belas ribu sudah membuat hatinya berbunga dan bahagia. Tapi sekarang melihat barang mewah malah membuat Aira terkejut dan masih tak percaya.
"Edric, sayang. Aku baru pertama kali melihat barang-barang mewah ini, apa ini semua untukku," ucap Aira, karena Edric terlalu sibuk bekerja dan mengurus kedua kakinya, ia hampir lupa meluangkan waktu untuk membawa istrinya hanya sekedar jalan-jalan dan beberlanja.
Hanya pertama kalinya Edric membelikkan ponsel untuk Aira, dan itu juga tak bisa ia gunakan.
Untuk membeli sesuatu yang ia inginkan, Edric juga sampai tak sempat, karena masalah dan juga pekerjaan kantor yang selalu menumpuk.
Edric merasa bersalah kepada sang istri. Menatap senyuman dari raut wajah istrinya, membuat Edric mencium bibir itu.
Kedua pipi Aira memerah, melepaskan dan secara tiba tiba, mengenggam erat tangan istri tercintanya.
"Maafkan aku Aira, karena tak pernah peka untuk membelikkan sesuatu."
"Sudahlah, Edric. Kamu tak usah mempermasalahkan semua ini, aku tak pernah minta pada kamu untuk memberikan sesuatu barang, bagi aku. Semua ini hanya kesenangan semata."
Edric senang dengan jawaban sederhana istrinya, ya tak menyangka, bisa mendapatkan seorang wanita yang begitu sederhana dan juga tak banyak menuntut dirinya.
Padahal Edric adalah seorang CEO, tapi saat pernikahan sampai sekarang Aira tak ada permintaan apapun terhadap suaminya.
Aira kini membuka kembali bungkus kado yang begitu rapi, ia melihat suatu benda yang selalu diimpikan setiap wanita.
"Waw."
Sebuah berlian mewah dan juga satu set emas permata. Wanita mana yang tak senang jika diberi benda berharga yang bisa mempercantik dirinya.
Kedua mata membulat begitupun dengan mulut Aira yang mengagah, sedangkan Edric hanya tersenyum kecil melihat tingkah istrinya yang terlihat begitu kampungan.
"Aira, Aira kamu itu lucu ya, ketika sikap kampungan mu itu kamu perlihatkan di depan mata. Rasanya sebuah keunikan yang jarang sekali dimiliki seorang wanita," gumam hati Edric.
__ADS_1
Pandangan sang CEO muda itu tak pernah lepas saat memandang istri tercintanya.
Walau bagaimanapun sang pemilik bola mata biru itu tetap menyayangi istri tercintanya.
Aira mulai mengangkat berlian dalam kotak berukuran sedang itu, memegang berlian permata dengan warna yang begitu bergemelap, dan juga mempesona.
"Indahnya." Ucap Aira, senyuman istrinya tak lepas, kedua matanya tetap berbinar.
"Kamu suka?" tanya Edric. Mendekat dan melihat sebagian berlian itu.
"Ya aku suka, memangnya teman temanmu itu tidak rugi apa, membelikkan hadiah mahal seperti ini?" Pertanyaan Aira malah membuat Edric menahan tawa. "Mereka semua orang-orang kaya dan juga ternama, uang yang mereka keluarkan untuk membeli hadiah kepadaku, tidak akan membuat mereka bangkrut ataupun rugi. Jadi kamu tenang saja, jangan memikirkan mereka."
"Mm, enak sekali ya hidup mereka, tidak kaya hidup Aira yang hanya seorang gadis desa. Yang tak akan mampu membeli barang mahal seperti ini, makan sama ikan teri juga sudah terbilang mahal. "
Bukan malah bersedih, Edric malah tertawa terbahak-bahak mendengar curhatan istrinya, yang begitu memilukan.
"Ya habisanya kamu bahas ikan teri. Apaan sih ikan teri?"
Menggelangkan kepala, Edric menjawab." Tidak tahu, emangnya apaan sih."
"Wah, kamu harus aku masakin ikan teri. Biar tahu bagaimana rasanya."
Edric semakin cinta dengan keluguan dan wajah mengemaskan istrinya. "Kamu ini lucu sayang."
"Oh, ya, sayang aku penasaran sekali dengan kotak yang diberikan Carlos dan Welly. Sahabatmu yang usil itu, mereka kirim hadiah apa sih, sampai kamu pisah segala?" tanya Aira, terlihat dari raut wajahnya begitu Ingin melihat kedua kotak pemberian kedua sahabatnya yang begitu jail.
" Dari tadi kamu penasaran dengan dua kotak itu, kalau kamu penasaran, aku akan buka sekarang dua kotak itu. Tapi kamu jangan terkejut ya!" balas Edric mendekatkan dua kotak hadiah itu ke arah dirinya.
Sebenarnya masih ada rasa trauma saat membuka kedua kotak dari sahabatnya yang usil itu, sampai setiap Edic berulang tahun. Ia tak berani membuka kotak pemberian Carlos dan Welly, pasti selalu ditemani pelayan rumah.
"Loh.Memangnya kenapa. Kok bisa sampai terkejut begitu, memang dulu Carlos dan Welly memberikan hadiah apa pada kamu?" tanya Aira.
Aira wanita yang suka kejutan, Iya tak pernah takut akan hewan. Karena saat di desa, ia selalu melawan orang yang sering menjahili dirinya.
__ADS_1
Apalagi saat orang itu memberikan kado kejutan berisi hewan yang selalu ditakuti setiap wanita.
Aira menyenderkan dagunya pada telapak tangan, ia seakan siap mendengarkan cerita yang akan dilontarkan oleh suaminya itu.
" Nih ya, ketika aku berumur 6 tahun, sempat mengadakan pesta ulang tahun besar-besaran. di mana semua teman-temanku datang dan memberikan kado yang begitu bagus. Tapi berbeda dengan Charlos dan juga Welly, mereka selalu memberikan kado berupa hewan-hewan yang tak aku suka, seperti tikus kecoa dan ular. Sampai saat itulah, aku tak pernah membuka lagi kotak dari kedua temanku yang jahil itu."
"Hanya segitu saja."
Aira begitu santainya mendengarkan cerita dari suaminya, di mana itu hanyalah cerita biasa.
Bagi Aira suaminya itu penakut.
"Ya sudah. Bagaimana kalau kita buka kedua kado itu, soalnya aku penasaran sekali ingin melihat isi kado dari kedua temanmu yang jahit itu. "
"Ya sudah kalau kamu memang berani coba buka saja sendiri. Aku tidak mau membuka kedua kado itu."
Dengan berani Aira membuka kado yang diberikan oleh kedua teman suaminya, sampai dimana Aira melebarkan senyumannya, merasa senang dengan sebuah kado yang diberikan oleh kedua sahabat suaminya itu.
Edric penasaran dan ingin mengintip ke arah kado itu," kok kamu senyum gitu sih, sayang. Emang apa isinya kado itu?"
"Mm, kasih tahu nggak ya!" jawab Aira, seperti sengaja membuat rasa penasaran pada diri Edric.
"Ayolah keluarkan, aku penasaran sekali dengan isi kado yang diberikan kedua sahabatku itu," ucap Edric bersiap melihat isi kado Carlos. Dimana Aira kini mengangkat kedua tanganya.
Dan ....
"Ahkkkk."
Edric terkejut, ia berusaha menjalankan kursi rodanya, tapi Aira malah mau tertawakan suaminya itu.
"Singkirkan itu Aira, geli. Aku takut. "
"Ini tidak apa apa kok sayang, ini sangat lucu."
__ADS_1