
"Bagaimana aktingku kawan? Senang ya sekarang kamu sudah bersama Aini. Hanya saja Aini belum bisa menerima kamu, Hasan," ucap Rendra dengan tawa yang begitu terdengar nyaring.
"Selama ini aku mengira kamu orang baik Rendra, tapi nyatanya kamu tak memberi tahu aku, jika Aini berada di kota," balas Hasan yang seakan tak mau kalah dengan ucapan Rendra.
Lelaki dengan rambutnya yang gondrong, merangkul sang kekasih di dalam mobil. Ia memperlihatkan kemesraannya di hadapan Hasan seraya mencium dari sang gadis, seperti sengaja memperlihatkan kesombongannya.
"Kalau aku jadi kamu, aku nggak akan mau mempertahankan Aini, wanita yang sudah tak menarik itu, peot dan tak mengairahkan." Cecar Rendra, ternyata tangisan perpisahan yang diperlihatkannya didepan Aini, hanyalah tangisan palsu untuk memainkan drama.
Hasan sudah kesal dibuat sahabatnya, menarik kerah baju dengan berkata," jaga ucapanmu bisa saja aku menghajar mulutmu yang sering menghina itu."
Rendra malah bersikap santai, tidak ada rasa takut. Saat tangan kekar Hasan, hampir melayang mengenai wajahnya. " Ayo pukul."
Lelaki tua yang menjadi sopir Edric, berusaha menahan amarah, ia tak mau merugikan dirinya sendiri, melepaskan kerah baju sang sahabat seraya mendorong tubuh nya begitu saja.
Telunjuk tangan menuju ke arah wajah Rendra, dengan berucap," awas saja kalau kamu nanti berani mengganggu Laudia dan juga Aini, aku pastikan hidupmu menderita."
Rendra membuang ludah dengan apa yang dikatakan Hasan, terlihat sekali wajah tak bersalahnya ia perlihatkan dengan penuh ketenangan, jika perlakuan jahatnya tidak akan diketahui orang.
"Oh ya, aku pergi dulu." Ucap Rendra, melambaikan tangan ka arah Hasan, ia pergi dengan senyum liciknya.
Ingin rasanya Hasan melempar batu ke arah mobil Rendra, tapi ia tak berani melakukannnya, karena banyak orang yang saling menatap dirinya satu sama lain.
"Sialan, si Rendra itu."
Laudia keluar dari dalam rumah, setelah menenangkan ibunya, ia mulai mencari keberadaan Hasan, yang mungkin belum jauh dari rumahnya. Wajah penuh air mata, membuat Laudia tak kuasa, jika sang ayah kandung masih ada di alam dunia ini.
Karena setiap kali, Laudia menanyakan tentang keberadaan sang ayah kandung pada ibunya, Aini tak pernah menjawab ia malah marah marah tak jelas. Seperti kebencian sudah menjalar pada hatinya.
__ADS_1
Langkah kaki sudah sampai di luar rumah, Laudia akhirnya melihat sang ayah tengah, berdiri menatap ke arah mobil Rendra yang sudah jauh dari penglihatanya.
"Pak Hasan."
Teriakan Laudia, membuat lelaki tua itu membalikkan badan menatap ke arah anak gadis bertubuh tinggi semampai itu.
"Pak Hasan, terima kasih sudah menolong Laudia. Jika Pak Hasan tidak datang, entah apa yang akan terjadi nanti dengan Laudia dan juga ibu."
Pak Hasan menganggukkan kepala, tersenyum lebar." Itu sudah kewajibanku sebagai seorang ayah. Untuk melindungi kamu anakku."
Kata kata lelaki tua bernama Pak Hasan, membuat Laudia, tersenyum tipis. Seakan tak ada rasa dendam sedikit pun pada hati Laudia, mereka malah semakin akrab dan saling mengerti satu sama lain. Sebagai seorang anak dan juga ayah.
"Apa kamu tidak dendam kepadaku, Laudia. Ayah kandung yang sudah menyia-nyiakanmu," ucap Hasan memperlihatkan penyesalannya ia merasa bersalah.
Kedua mata lelaki tua itu berkaca-kaca, ketika Laudia mejawab." untuk apa dendam, dan untuk apa harus membalas? Perbuatan yang sudah dilakukan ayah kepada ibu? Semuanya hanya menyia-nyiakan waktu saja, lebih baik memaafkan dan membicarakan dengan kepala dingin. Karena Laudia tidak tahu masalah yang sebenarnya terjadi antara ayah dan juga Ibu. Bisa saja ada pihak ketiga yang ternyata memprokator ayah dan ibu agar saling membenci satu sama lain. Menyimpan dendam membuat kalian saling bermusuhan."
"Boleh ayah memeluk kamu?" Pertanyaan yang membuat Hasan tentulah ragu, tapi ia memberanikan diri. Untuk memperlihatkan bahwa ia adalah seorang ayah yang benar-benar bertanggung jawab dan ingin menebus kesalahan yang sudah ia lakukan di masa lalu kepada anaknya dan juga Aini.
Laudia, akhirnya memperbolehkan sang ayah untuk memeluk tubuhnya. Tak ada rasa ragu sedikit pun, mereka berpelukan dengan penuh kasih sayang mencurahkan segala luka yang memendam pada hati.
"Maafkan, ayah."
"Iya, ayah."
Tangisan mereka pecah seketika.
Aini merasa heran dengan anaknya yang tak kunjung kembali setelah meminta izin untuk keluar sebentar, melihat keadaan di luar rumah, melihat apakah Rendra sudah pergi bersama gadis yang ia bayar hanya untuk menemaninya tidur.
__ADS_1
Bagitu pun Hasan, yang sengaja ia usir. Agar tidak datang kembali mengganggu kehidupannya bersama sang anak.
Rasa benci sudah berkat kuat pada hati dan juga pikiran Aini, bawa Hasan tak jauh berbeda dengan lelaki b*j*ng*n seperti Rendra.
Aini bangkit dari tempat duduknya, melangkah menuju keluar rumah. Saat membuka pintu depan rumah, betapa terkejutnya Aini melihat pemandangan yang pas ia ingin lihat.
Kedua matanya membulat, marahnya semakin menggebu. Aini berjalan dengan begitu cepat menghampiri Laudia dan juga Hasan, yang tengah berpelukan.
"Apa yang kalian lakukan, hah. Apa kalian tidak punya rasa malu, di luar rumah berpelukan. Apa nanti kata orang. Laudia." Aini, menarik tangan anaknya dari pelukan Ayah kandungnya sendiri.
Aini seakan tak terima dengan apa yang ia lihat di depan mata kepalanya sendiri.
"Bu, tapi Pak Hasan ini ayah kandung Laudia. Kenapa ibu malah marah marah," ucap Laudia berusaha tidak memarahi ibunya sendiri, enak iya tahu mental sama Ibu masih belum pulih secara total.
Plakkk ....
Tamparan keras ini melayang lagi dari tangan sang ibu untuk anaknya, " berani kamu melawan ibu, ya karena lelaki tidak tahu diri ini. Ingat Laudia yang membesarkan kamu ini Ibu bukan dia."
Hasan berusaha melindungi anaknya dari amukan Aini." Ayolah Aini, sadar kamu jangan egois seperti itu. Bagaimana pun Laudia darah daging ku sendiri, kenapa kamu malah tidak memperbolehkan Laudia dekat denganku. "
Aini, berusaha membuang rasa belas kasih hanya terhadap lelaki yang menghamilinya di masa lalu, pergi tanpa bertanggung jawab.
"Ingat ya Hasan, aku ini tidak egois. Jelas kamu yang egois menelantarkan aku dengan Laudia."
Hasan menundukkan kepala setelah mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Aini. Ia bingung harus menjelaskan apalagi di hadapan wanita yang sangat ia cintai dari dulu hingga sekarang.
Laudia menghampiri sang ibu untuk berusaha menenangkan amarah wanita tua yang sudah melahirkannya itu," Ibu tenang dulu ya jangan marah-marah. ini hanya ada kesalahpahaman saja. Dengarkan dulu penjelasan ayah. "
__ADS_1