Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 71 Perkiraan Edric


__ADS_3

Tarjo dan Andi, berusaha mencari klinik, tubuh mereka terlihat ketakutan. Setiap mencari ke kiri ke kanan tetap saja hanya ada hutan berlantara.


"Tarjo, kok serem amat ya. Di desa Nona Aira, semua dikelilingi hutan. Mana nggak ada siyal lagi," ucap Andi, menutup kaca mobil. Mereka merasa tak nyaman, karena hawa luar begitu terasa dingin. Menancab pada kulit.


"Andi, ya namanya juga perdesaan mana ada diskotik," balas Tarjo, membuat Andi memukul kepala sahabatnya.


"Ya elah, siapa juga yang bilang di sini ada diskotik. Ngaco lu, kalau cewek cantik rambut panjang, pastinya ada," ucap Andi, sengaja menakut nakuti Tarjo yang tengah memegang stir mobil.


"Jangan bercanda lu, An. Emang ya lu mau di makan tuh sama cewek cantik di tengah hutan," balas Tarjo, sedikit bergidig ngeri. Melihat suasana malam semakin mencekram.


"Sudah, kita balik lagi saja. Nggak ada rumah sakit di sini, memang ya tuan, kalau bercanda kelewatan, " gerutu Tarjo, memutar balikkan mobil. Untuk segera pulang ke rumah Aira.


Mereka merasa tak enak hati, dan pikiran tak menentu, karena masuk ke hutan adalah sesuatu yang menakutkan.


Tok .... Tok ....


Suara kaca mobil terdengar di ketuk, Tarjo melihat sosok lelaki tua menatap ke arah mereka pada kaca mobil.


Dengan memberanikan diri, membuka jendela kaca dan berkata." Kalian tersesat."


Andi dan juga Tarjo, merasa tenang. Mereka mengusap pelan dada bidang, " Aku kira hantu, An."


"Sama."


Lelaki tua itu ternyata tengah berburu toke di malam hari, ia memberi tahu. Bahwa di desa tidak ada rumah sakit. Yang ada seorang peraji (Dukun beranak.)


"Kalian ini dari kota ya?" tanya lelaki tua itu dengan begitu sopan.


"Iya, bah, kami cari rumah sakit. Malah ke hutan!" jawab Tarjo, menatap kedua mata lelaki tua itu sedikit menyeramkan.


"Di desa mana ada rumah sakit, kalau dukun beranak ada. Mau saya antar ke dukun beranak, " ucap lelaki tua, menawarkan untuk mengantarkan Tarjo dan juga Andi.


"Gimana, An?" tanya Tarjo, di ambang ke bingugan.


"Dari pada nggak, ya sudah kita ikutin aja si mbah buat cari dukun beranak!" jawab Andi. Merasa penasaran.


Mereka hanya seorang pendatang baru, jadi merasa sedikit was was.

__ADS_1


"Harusnya tanya dulu sama tuan dan Nyonya, biar kita nggak di salahin," ucap Tarjo.


Andi mulai berpikir dengan memegang dagu," gimana ya, Jo. Toh sinyalnya nggak ada."


Lelaki tua, kini bertanya kembali." Bagaimana? Mau saya antar."


"Tapi kan, tuan nyuruh kita itu cari dokter bukan dukun beranak," ucap Andi, mendengar apa yang dikatakan Andi, Tarjo kini berfikir sejenak.


"Iya juga sih, jadi sia sia dong. Ya sudah sebaiknya kita pulang saja lah, biar nanti kita bicarakan pada Nona dan tuan, " ucap Tarjo, membuat Andi menganggukan kepala tanda setuju.


Saat mereka mulai berpamitan pada lelaki tua, tiba tiba sosok itu menghilang, tak ada lagi di depan mata mereka berdua.


"Loh, bapak tua yang tadi berdiri di sini ke mana?" tanya Tarjo, memperlihatkan raut wajah takutnya.


Andi mengusap belakang pundak, merasakan apa yang dirasakan Tarjo, rasa takut. Tiba tiba mencekram terasa menakutkan.


"Tarjo, ayo sebaiknya kita pergi dari sini."


"Ayo."


Tarjo segera menyalahkan mesin mobil untuk segera pergi dari hutan berlantara yang mereka singahi, membuat rasa takut dan tak enak hati dirasakan mereka berdua.


"Bisa jadi Andi, ih serem," balas Tarjo.


Lelaki tua itu ternyata bukan menghilang, ia membungkukan badan, membenahi sepatu. Andi dan Tarjo salah mengira.


"Loh, mereka malah pergi dasar penakut." Ucap Lelaki tua, ia mulai mencari buruannya di hutan.


Sedangkan Andi dan Tarjo, pulang dengan raut wajah ketakutan mereka, tangan bergetar, keringat dingin bercucuran. Tak menyangka di desa bisa melihat hal semacam itu.


"Gila, nyesel tadi nanya sama tuh bapak-bapak, yang ujungnya hantu," ucap Tarjo begidik ngeri.


"Sudahlah jangan bahas, serem dengarnya, sebaiknya kita cepat pulang ke rumah. Jangan mikirin hal menyeramkan lagi," balas Andi, berusaha membuat Tarjo fokus, saat mengendarai mobil, ia takut jika Tarjo malah menabrak pepohonan di depan jalan.


Salah sangka dan rasa takut, mengantarkan mereka pada kesalah pahaman. Lelaki tua yang bukan hantu membuat mereka menjalankan mesin mobil dengan kecepatan tinggi.


*********

__ADS_1


Tawa pada kedua insan, membuat suasana begitu terasa hangat, Edric mendekap sang istri. Mencoba memeluk dengan erat, dan tiba tiba.


"Lepaskan, aku ingin muntah."


Aira kini berlari kembali, ia menahan rasa mual untuk di keluarkan di kamar mandi.


"Rasanya benar benar tak nyaman." Keluh Aira, memegang perut, merasakan rasa lemas yang baru pertama kali ia rasakan. Setiap mencium badan sang suami merasa tak enak. Ingin rasanya muntah.


"Apa jangan jangan kamu sedang hamil," ucap Edric memperlihatkan wajah bahagia di depan istrinya. Dengan memegang perut, mengusapnya secara perlahan.


Sedangkan Aira masih merasakan pusing dan mual, sampai ia tak bisa mendengarkan perkataan Edric.


"Ya sudah kamu istirahat dulu, aku buatkan dulu minuman hangat untuk kamu sayang," ucap Edric dengan semangatnya berjalan ke arah dapur. Ia merasa bahagia, jika memang dugaannya benar. Jika Aira hamil anaknya.


Aira mulai duduk, di ranjang tempat tidur. Ia merasa tak enak badan, perasaan perutnya tak nyaman, lemas dan tak berdaya.


Edric dengan terburu buru membawa teh hangat untuk istrinya, agar tidak merasakan rasa mual lagi.


Saat kakinya melangkah menuju kamar tidur, Edric melihat Aira tengah merasakan rasa tak nyaman dari perutnya dengan mengusap ngusap dan sesekali ingin memuntahkan isi perut.


"Ini minum sayang," ucap Edric menyodorkan teh hangat untuk istrinya.


Perlahan Aira meminum teh hangat yang dibuatkan sang suami, terasa sedikit nyaman dan lega. Rasa mual kini tak terasa seperti tadi.


"Gimana, udah terasa nyaman sekarang?" tanya Edric pada Aira.


Aira menganggukkan kepala, terasa nyaman dan lega. " Ya sudah sekarang kamu tidur. Biar aku pijitin kaki kamu."


Dengan kaki Edric yang lumpuh, tak menghalangi dirinya untuk melakukan aktifitas.


"Kamu kelelahan, dari tadi nungguin aku. Sebaiknya cepat tidur," ucap Aira, merasa tak tega melihat raut wajah suaminya yang begitu terlihat kelelahan.


Edric mengusap pelan punggung tangan Aira, seraya berkata," kamu jangan kuatirkan aku, sebaiknya kamu istirahat. Kamu kan lagi mengandung anak aku."


Mengusap pelan perut sang istri, senyum terukir dari ujung bibir Edric." itukan baru perkiraan kamu, kalau aku belum hamil bagaimana."


"Mm, tak usah kuatir, kita masih bisa bermain kuda lumping."

__ADS_1


Mendengar Edric berkata seperti itu tentu saja membuat tawa di antara mereka berdua.


__ADS_2