Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 112


__ADS_3

Aira bolak-balik ke sana kemari, menunggu telepon dari sang ayah. Ia ingin mengetahui siapa sebenarnya Lilia itu.


"Telepon nggak ya, aku takut jika Daddy masih mengobrol dengan sahabatnya itu." Aira terlihat gelisah, ia duduk sembari mengusap pelan kepala rambutnya dengan kedua tangan.


Sesekali menatap layar ponsel, tetap saja tak menyala. Membuat hatinya gundah dan tak karuan," kok aku jadi gelisah gini ya."


Pesan tiba tiba muncul, Aira menyangkal pesan itu datang dari ayahnya. Namun saat ia lihat, pesan dari pusat yang tak penting baginya.


"Ya elah, ternyata bukan dari Daddy."


Wanita desa ber bola mata hitam, dengan bulu matanya yang lentik. Menaruh ponsel kembali di atas meja. Perasaannya tetap saja gelisah.


Sampai dimana.


Tok .... Tok .... Tok ....


Ketukan pintu beberapa kali terdengar dari kamarnya, Aira tanpak tak tenang. Apalagi mendengar suara suaminya yang memanggil-manggil namanya terus-menerus.


"Aira. Kenapa kamu kunci pintunya sayang? Bukalah, aku ingin tidur dan beristirahat, apa kamu dengar tidak sayang."


Edric tetap bersikap lembut kepadanya, iya tak pernah marah ataupun membentak sang istri.


"Aduh gimana ini, buka apa tidak pintunya."


Aira di dalam kamar tampak kebingungan sendiri, cara menghadapi suaminya harus bagaimana. Karena ia ingin menerima penjelasan dari Edric, sebenarnya siapa wanita yang benama Lilia itu. Kenapa wanita itu begitu dekat dengan Edric dan tak pantas menjadi seorang sahabat. Karena kedekatan mereka yang tak wajar.


"Aira. Ayo buka pintunya, sayang. Kamu ini kenapa? kok marah-marah nggak jelas, nanti aku ceritain deh siapa dokter Lilia yang cantik itu sebenarny, biar kamu nggak marah-marah lagi dan tak ada kesalah pahaman diantara kita.seperti ini." Ucap Edric berteriak keras dibalik pintu kamar sang istri. Edric tak mau melihat sang istri sedih karena tingkahnya tadi bersama Lilia.

__ADS_1


Aira yang masih berada di dalam kamar, kini mendengar hal yang dikatakan oleh suaminya," buka tidak ya, kalau di buka katanya Edric akan berkata jujur. Ya sudah buka saja, dari pada penasaran begini, menunggu ayah tak kunjung dibalas lagi."


Pada akhirnya Aira mengalah, ia beranjak berdiri, membuka pintu kamar suaminya dengan menundukkan pandangan, Aira terlihat masih merasakan kesal karena tak terima dengan kemesraan yang diperlihatkan Edric dan juga sahabatnya itu.


Menatap wajah Edric seakan enggan dan sulit, karena rasa sakit hati dan kecemburuannya itu.


.


Edric masih duduk pada kursi roda, ia mulai masuk ke dalam kamar, begitupun dengan istrinya.


Edric menyuruh sang istri untuk duduk di ranjang tempat tidur, Aira menuruti perintan suaminya. Perlahan tangan kekar sang pemilik bola mata biru itu memegang dagu Aira," Kenapa sih kamu menundukkan pandangan seperti itu, aku ini suamimu loh, jangan sampai kamu membuang wajah seperti itu. Aku tidak suka Aira."


Aira mulai mengangkat wajahnya menatap ke arah sang suami, terlihat bibirnya begitu mengkerut sama seperti saat Edric membuat kesalahan. Karena terlalu memporsi tenaga Aira untuk melayani dirinya.


"Loh bibirnya cemberut lagi, masih kesal kepadaku?" tanya Edric, menampilkan senyumannya yang menggoda.


Aira hanya mengganggukan kepala di depan sang suami," habisnya kamu tak pernah jujur kepadaku."


" Ya sudah, biar aku jelasin, asal kamu tahu sayang. si Lilia itu nama aslinya adalah Lucky."


Edric berharap Aira langsung mengerti.


Namun baru saja Edric berkata seperti itu, Aira malah membulatkan kedua matanya, ia tak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya.


"Maksud kamu, nama Lilia itu adalah Lucky, jadi dia seorang laki laki?"


Pertanyaan Aira membuat Edric menganggykkan kepala.

__ADS_1


Aira benar benar tak percaya. Bahwa Lilia itu adalah seorang lelaki yang menjadi sosok seorang wanita yang cantik jelita tanpa ia curigaan sedikitpun.


Apalagi suaranya yang kemayu, membuat air tanpa iri. Dan postur tubuh begitu bohay seperti bak model. Tak menampilkan dia sebagai laki laki.


"Kamu kan tahu sendiri, sayang. Aku itu tidak berani dekat dengan wanita manapun, memegang wajahnya pun aku tak berani. Kalau bukan milik kamu yang sudah sah menjadi istriku."


Apa yang dikatakan Edric memang benar, selama menikah dengan Aira. Endric tak pernah macam-macam kepada wanita lain. Berkenalan pun tak pernah, Edric selalu bersikap dingin saat berpapasan dengan wanita yang ia temui, dikantor ataupun di rumah.


Sifat ramahnya itu selalu ia tampilkan pada teman laki lakinya, dan Aira. Wanita yang menjadi istrinya .


Hanya saja saat melihat Lilia, Edric berani mencubit pipi, hidung Lilia, sampai membuat Aira menjadi cemburu dan kesal terhadap suaminya itu.


"Sudah kamu jangan marah-marah lagi, wanita yang cantik jelita seksi itu tetap kamu di hatiku, tidak akan ada wanita lain yang tergantikan hanya kamu seorang. "


Aira terkadang tak percaya akan rayuan yang terlontar dari mulut suaminya itu, karena Edric mempunyai paras tampan dan harta yang betlimpah, apalagi dia menjadi seorang CEO muda di usianya yang baru mengijak dua puluh delapan tahun, pastinya banyak sekali wanita yang ingin menjadi kekasih dirinya, apalagi ketika kelumpuhannya itu sembuh.


Mungkin semua wanita semakin tergila gila dan ingin memiliki Edric seutuhnya. Dimana Aira akan menjadi wanita yang tersingkirkan dan tak indah di pandang mata oleh Edric lagi.


Dengan lantangnya, Aira mengeluarkan segala unek unek dalam hatinya kepada sang suami." aku tak percaya dengan kata-katamu itu, di mana-mana itu kalau laki-laki sudah memiliki harta dan juga tahta, apalagi ketampanan, pastinya banyak wanita yang mendekati. Sedangkan istrinya sendiri akan terusir begitu saja. Seperti sampah yang sudah tak layak di pungut."


Edric mengerutkan dahi, masih tak percaya dengan perkataan istrinya itu. "Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu, jelas Aku dan ayahku ini bukan laki-laki sembarangan yang bisa celup sana celup sini. Aku dan ayahku punya pendirian sendiri Kami adalah CEO yang setia."


Aira tertawa terbahak-bahak setelah mendengar apa yang dikatakan suaminya itu, ia seperti melihat acara tv romantis yang selalu ia tonton ketika laki-lakinya. Mengatakan kata setia yang hanya terlontar dari mulut saja tapi kenyataannya itu sebuah kebohongan sangat luar biasa yang dibuat buat olehntya.


Edric heran melihat istrinya tertawa terbahak-bahak, membuat ia menarik tangan Aira. Hingga kedua bibir mereka bersentuhan.


Aira mencoba melepaskan bibirnya yang melekat kuat pada bibir sang suami," mm."

__ADS_1


Edric menikmati setiap sentuhan itu bersama sang istrinya, wanita jika tersentuh ia akan luluh dan tidak bawel lagi." Mm."


Aira berusaha melepaskan tapi tidak bisa.


__ADS_2