
"Ahk, sialan. Aku lupa mengambil tasku lagi," ucap Siska masih berada di toilet wanita.
Ia merasa kesal dengan dirinya, begitu lemah, Siska kalah melawan Aira yang hanya gadis desa.
"Bagaimana bisa, aku kalah dengan wanita itu," pekik Siska mengoceh sendirian di toilet. Ia tak mau berlama-lama berdiam diri di toilet itu, berusaha bangkit sendiri untuk segera berdiri.
Tubuh lemas dan tangan yang sakit, membuat Siska benar-benar memilukan.
Para wanita berniat masuk ke dalam kamar mandi, dikejutkan dengan penampilan Siska yang tercium sedikit bau.
Para wanita itu mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah, salah satu dari mereka tiba-tiba ingin sekali muntah.
"kenapa dengan mereka?" gumam hati Siska.
Siska mulai mencium bau tubuhnya, " Huek, Kenapa bisa bau seperti ini sih, jadi wanita itu tadi menaburkan apa. Ahk, bodoh kamu Siska."
Para wanita itu tak kuat dengan bau yang tercium dari tubuh Siska, mereka kini menunjuk Siska dengan berkata," Eh kalau mau BAB kira-kira dong, jangan di gaun begitu. Memalukan sekali. "
Memalukkan sekali bagi Siska saat itu," kenapa bisa menjadi seperti ini."
Siksa dengan rasa malunya kini mulai keluar dari toilet, orang-orang yang berada di sana pastinya tak nyaman. Mencium bau pada tubuh Siska.
Dosen itu berlari menuju meja makan, di mana teman-temannya masih berada di sana.
"Aku pulang duluan ya. "
Siksa berpamitan begitu saja, dengan gaun pendek yang terlihat bercorak warna kuning di belakang.
Para sahabatnya mengibas-ngibaskan hidung yang tercium bau tak menyenangkan," bau sekali. Bau apa sih ini?"
"Kayanya si Siska berak deh, kok bau banget!"
Para sahabat ya itu malah menertawakan Siska yang pergi dengan bau tak menyenangkan," dia kebelet kayanya, jadi tak tahan."
Para sahabatnya itu benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya mereka meledek Siska, bukannya membantu.
Edric melihat pemandangan itu merasa heran, sampai ia bertanya kepada istrinya." sayang, kenapa tuh dengan si Siska?"
Pertanyaan Edric tak bisa dibalas oleh Aira, wanita Desa itu hanya mengangkat kedua bahunya.
Dan tertawa senang dalam hati," rasain emang enak."
Aira dan Edric kembali menikmati hidangan di atas meja, mereka berdua begitu menikmati makan malam yang sangat istimewa tanpa gangguan lagi.
"Enak kan, tak ada gangguan lagi?" tanya Aira kepada Edric, dimana sang CEO muda telihat begitu menikmati makanan, suapan demi suapan dilayangkan oleh Edric pada mulutnya.
__ADS_1
Begitupun dengan Aira.
********
Sedangkan Siska yang berada di dalam mobil, kini menangis sejadi-jadinya, ya malu pada dirinya sendiri. Kenapa bisa melakukan hal konyol yang diperintahkan oleh sahabat, walau sebenarnya Ia juga mau seperti itu, mendekati sang murid yang bernama Edric dan membayangkan akan menikah dengannya.
Namun khayalan itu tak sepenuhnya tercapai, Siska malah dipermalukan semua orang yang berada di restoran mewah.
"Bodoh, bodoh kamu Siska, kenapa bisa kamu kalah dengan istri Edric."
Siska mencoba tetap tenang, agar tidak terlalu terpacu akan amarah, yang merugikan dirinya sendiri. Bagaimana bisa Siska berbuat seperti itu, walau pada akhirnya, ia yang dipermalukkan.
Perlahan mesin mobil mulai dinyalakan, Siska melajukan mobilnya untuk segera pulang ke rumah, ia ingin menemui sang Ibunda yang selalu mendengarkan curhatannya.
Menangis di setiap perjalanan menuju pulang, tawa orang-orang masih membekas pada pikiran Siska.
"Bagaimana bisa, aku dipermalukan seperti ini.
Benar benar memalukkan sekali. "
Siksa memarahi dirinya sendiri di dalam mobil, di setiap perjalanan Ia hanya bisa menangis.
"Ahk, menyedihkan benar benar menyedihkan hidupku saat ini."
"Hah, benar-benar menyebalkan sekali."
Tak ada mobil sama sekali, perjalanan begitu tampak sepi. Dengan leluasa Siska megendarai mobil hingga kini sampai di rumahnya.
"Akhirnya sudah sampai juga."
Kedua orang tua Siska begitu mencemaskan anaknya. Hingga suara mobil terdengar berhenti di halaman rumah, " Siska pulang pak."
Mereka kini menghampiri anak semata wayangnya," Siska kamu kenapa nak. Bajumu, bau mulutmu."
Siska melewati kedua orang tuanya, untuk segera membersihkan diri, rasa pusing menyelimuti pikirannya saat itu.
"Siska."
Sang Ibunda memanggil, dimana Siska hanya menoleh sebentar. Tak ada jawaban sedikitpun dari anak itu.
"Si Siska ini kenapa ya?"
Tanya sang ayah, semakin heran dengan tingkah anaknya.
Padahal kemarin Siska curhat kepada sang ibu, dengan luka hatinya, tapi kenapa ia tiba-tiba saja berubah, meminum minuman yang tak biasa ia minum.
__ADS_1
Sang ibunda tampak semakin cemas.
Wanita yang berprofesi sebagai dosen itu, kini mulai masuk ke kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhnya yang begitu Kotor dan bau.
Ia menangis sejadi-jadinya, karena malu dengan dirinya sendiri, karena bisa mencintai seorang murid.
Mengacak rambut dengan kedua tangan, Siska tak bisa menikmati air yang merendam tubuhnya saat itu.
Mengusap wajah dengan air yang mengalir dari atas rambut hingga wajah. Terasa segar tapi tidak membuat hatinya tenang.
Ketukan pintu kini dilayangkan oleh sang Ibunda, berharap jika pintu kamar anaknya segera dibuka.
"Siska."
"Nak, apa kamu baik baik saja. "
Siska ternyata meredamkan seluruh tubuhnya begitupun dengan kepala, agar pikirannya kini menjadi segar tak terpengaruh oleh minuman yang memabukkannya saat itu.
"Siska, nak."
Tak ada jawaban sama sekali, sang Ibu merasa semakin cemas. Bagaimana bisa Siska pulang dengan keadaan murung seperti itu, padahal saat berangkat ia begitu Happy.
Apalagi bersama kawan-kawannya, yang terlihat begitu asik dan juga kompak.
Siska mulai memunculkan wajahnya, setelah mendengar teriakan sang ibunda.
"Siska."
Dengan rasa malas Siska langsung menjawab sembari berteriak," ya Bu ada apa Siska lagi mandi."
Sang ibunda mengelus dadanya, merasa tenang setelah mendengar jawaban yang terdengar dari balik pintu kamar mandi anaknya.
"Ibu sih, anak lagi mandi teriak-teriak terus." Cetus lelaki tua yang menjadi ayah Siska kepada istrinya, ia sedikit membenarkan kumisnya.
"Ya elah pak, ibu itu khawatir dengan keadaan Siska." balas sang ibunda Siska, terlihat begitu cemas akan anak gadisnya yang belum mempunyai pasangan sama sekali.
"Iya iya, tapi nggak gitu juga kali."
Sang ayah berlalu pergi meninggalkan istrinya, lelaki tua itu kini menikmati kopi yang sudah mulai dingin, ajakan sang istri menyuruh mengetuk pintu kamar anaknya.
Siska kini keluar dari kamar mandinya, segera mengeringkan rambut, dan menghampiri sang ibunda." Ibu kenapa, sudah ibu tak usah menghuatirkan Siska. Siska ini baik baik saja."
"Oh ya, ibu mau mengatakan jika anak temen ibu akan datang ke sini."
Deg ....
__ADS_1