
Aira dan Edric sampai lupa memberi nama untuk anaknya, wanita desa itu bangun dari ranjang tempat tidur, " Sayang, kamu belum memberikan nama anak kita?"
Pertanyaan sang istri membuat Edric duduk di samping kiri Aira, "benar juga sayang, aku lupa memberi nama anak kita!"
"Ya sudah sekarang kamu kasih nama anak kita, siapa?"
Terlihat raut wajah Edric memperlihatkan kebingungan, saat sang istri menanyakan siapa nama anak yang baru lahir ke dunia ini.
Edric mencoba menarik napas mengeluarkan secara perlahan, bepikir tenang dan nama sang anak terlintas di pikirannya.
"Nama anak kita, aku kasih nama Edwan Casnova. Gimana menurut kamu?"
Edric mempertanyakan soal nama yang ia beri untuk anak pertamanya, kepada sang istri. Bagus atau tidak.
"Nama yang bagus. Tapi .... "
Aira menghentikkan perkataannya, tentulah membuat Edric terkejut dan nampak tak enak hati.
"Tapi, kenapa?" tanya Edric memperlihatkan raut wajah kegelisahannya.
"Namanya semua serba E. Edric, Ellad, Edwan!" jawab Aira nampak sedikit bersedih.
"Loh, bagus dong sayang, jadi tiga E, asal jangan tiga Edan saja, " ucap Edric membuat guyonan dalam ucapanya.
"Apa sih, nggak jelas," balas Aira terlihat memajukan bibir bawahnya.
"Kamu tak suka dengan namanya?" tanya Edric menatap dalam dalam wajah sang istri.
"Bukan tak suka, hanya susah menyebut namanya! Bisa nggak sih yang simpel saja!" jawab Aira, Edric kini memahami perkataan istrinya.
"Ya sudah, kalau begitu. Aldo," ucap Edric.
Aira seperti tak suka dengan nama nama yang diberikan suaminya, Edric sudah bingung sendiri.
"Nama apa yang harus aku berikan pada anakku?"
Aira menidurkan anak pertamanya, terlihat wajah mungil mengemaskan itu. Membuat Aira ingin mencubit. Sedangkan Edric masih memikirkan nama untuk anaknya yang dari tadi tak cocok.
"Nama apa lagi ya? Elo, Edi. Edwan, Erik, Eki, semua nggak cocok bagi Aira, masa ia aku kasih nama, ***. *** ena dong jadinya. " Mengacak rambut kasarnya, Edric bangkit dari tempat duduknya melihat sang istri sudah tertidur pulas.
Begitu pun bayi mungil yang belum diberi nama oleh Edric, lelaki pemilik bola mata biru itu perlahan melangkahkan kaki. Ia berniat mencari udara segar, untuk bisa mencari ide nama.
Melihat ke depan pintu, betapa terkejutnya Edric. pintu depan rumahnya sedikit terbuka. Terburu buru Edruc melihat siapa yang sudah membuka pintu rumahnya.
__ADS_1
"Lucky."
Lelaki berkulit putih dengan tinggi seratus tujuh pulih lima senti itu, membalikkan badan saat Edric memanggil namanya.
"Edric."
Sang pemilik bola mata biru berjalan, ke arah Lucky. Memukul pelan bahu sang sahabat.
"Ngapain kamu malam di sini?" tanya Edric, duduk di kursi depan rumahnya.
"Ya seperti biasa menghirup udara segar!" balas Lucky, nada suaranya kini terdengar seperti seorang laki laki pada umumnya.
Walau mungkin wajah masih terlihat masuh seperti wanita.
"Yang benar, aku kira kamu lagi memikirkan Carlos dan Welly, " ucap Edric melayangkan sebuah candaan, agar suasana malam itu tak horor.
"Mm, mulai lagi. Siapa juga yang mikirin mereka, aku lagi mikirin kehidupanku ke depanya, " balas Lucky, sembari menatap langit. Memikirkan wajah wanita yang ia cintai.
"Cie yang punya kehidupan, " sindir Edric. Lucky melihat tingkah sahabatnya itu, hanya mengelengkan kepala sembari menatap sayu.
"Ya elah orang serius dicandain," pekik Lucky, nada bicara sedikit meninggi.
"Tenang bos, slow jangan marah marah gitu, " ucap Edric berusaha menenangkan sahabatnya itu.
Persahabatan adalah hal yang terindah untuk mereka berdua. Seperti tak ada penyagah sedikit pun, mereka tetap bersama.
Jam sudah menunjukkan pukul satu malam, terlalu asik mengobrol hingga lupa waktu, Edric kini masuk begitupun dengan Lucky.
Membuka pintu kamar, terlihat sang pujaan hati dan anak pertamanya terbangun.
"Kalian tidak tidur."
"Tadi dia nangis."
"Ya sudah, biar aku gendong sini. "
Edric berusaha menggendong anak pertamanya dengan perlahan, agar Aira bisa beristirahat.
"Ya sudah kamu istirahat sana, biar anak kita aku jaga."
Aira tersenyum lebar, dan berkata." Ya sudah. Terima kasih ya."
Aira nampak bahagia, akhirnya ia tertidur untuk beristirahat. Tak terasa bayi mungil itu kini tertidur dengan begitu lelap, Edric menyurusl untuk tidur.
__ADS_1
**********
Bau wangi masakan sudah tercium, aroma itu membuat Edric bangun dari tidurnya. "Harum."
Edric bangun dari ranjang tempat tidur, mengikuti aroma masakan yang menyeruak mengenai hidungnya, melihat ke dapur Lucky ternyata tengah memasak, ia membuat sarapan yang mengunggah selera. Tentulah membuat perut Edric terasa keroncongan.
"Wangi."
Aira masih sibuk dengan bayi mungilnya, " Pagi sayang. "
Ciuman mendarat pada pipi Aira, dimana Aira merasa terganggu." Mm. bau."
Edric tersenyum di hadapan istrinya, yang mengeluarkan bau mulut pada telapak tangan dan menciumnya," iya bau. Hheh, belum sikat gigi."
Aira membulatkan kedua mata, menyuruh suaminya untuk cepat pergi ke kamar mandi. Mengosok gigi dan mandi di pagi hari.
"Cepat mandi, bau tahu." Memencet hidung. Aira menunjuk Edric untuk cepat pergi ke kamar mandi di mana Edric terus mencubit-cubit pipi anaknya.
"Dingin sayang, bentar lagi. Biar aku liat dulu anak mungil kita ini, " balas Edric. Aira sebal ia menjiwir telinga Edric mengiring suaminya menujun ke kamar mandi.
"Ayo cepat mandi." teriak Aira.
Edric seperti anak kecil yang harus diperintah-perintah untuk sekedar mandi saja, mau tidak mau Aira mengguyur Edric, membuat drama keributan di pagi hari.
Lucky mendengar Aira dan Edric saling berdebat hanya karena mandi, membuat iya menggelengkan kepala, di mana Lucky tengah mempersiapkan sarapan pagi di atas meja.
"Sarapan sudah siap."
Lucky terbiasa memasak, sampai ia menginap di rumah Edric pun membuat sarapan sepecial.
Dimana suara bel berbunyi di pagi hari sekali, entah siapa yang datang membuat pemilik rumah terasa terganggu, Lucky terpaksa melihat ke depan pintu rumah Edric.
Saat ia mengintip di balik jendela, betapa kagetnya Lucky, melihat kedua sosok laki-laki datang di pagi hari sekali.
"Sialan itu Carlos dan Welly. "
Lucky membiarkan mereka berdua menunggu di luar rumah, di mana Lucky mencari ponselnya.
Ponsel ternyata ada di dalam kamar, lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu melihat isi pesan yang datang.
(Lilia, pagi sekali aku akan datang ke rumah Edric. Pastinya kamu ada di rumah dia kan, soalnya aku datang ke apartemen kamu tidak ada sama sekali.)
Pesan dari Carlos, kini Lucky membaca pesan dari Welly. ( Aku datang ke apartemenmu, tapi tak ada respon sama sekali, jadi langsung datang saja ke rumah Edric, sudah tak sabar menunggu jawabab kamu Lilia.)
__ADS_1