Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 142


__ADS_3

"Hih, mereka ini. Bikin aku kesal saja, awas saja setelah ini kalian pasti akan merasakan rasa kecewa. Karena sudah mentertawakanku." Gumam hati Lucky, ia duduk sembari melipatkan kedua tangan menunggu kedatangan Aira dan juga Edric.


Memajukkan kedua bibir, Welly melihat raut wajah Lucky seperti Lilia sang dokter. Tapi, Welly berusaha menepis, mana mungkin Lilia seorang wanita cantik seksi dan anggun berkata lembut adalah sosok laki laki.


Carlos sudah menunggu dengan duduk di kursi makan, ia melirik ke sana ke mari, mencari keberadaan sang dokter. Berharap jika dokter bernama Lilia itu muncul saat itu juga.


Lucky tersenyum sinis, melihat kepanikan mereka berdua yang duduk tak tenang. Lucky sudah menduga jika mereka tak sabar ingin segera melihat sang pujaan hati. Yang sebenarnya sudah duduk di hadapan mereka bedua.


Carlos begitu sibuk dengan kedua matanya, menunggu kehadiran Lilia, wanita yang sudah meluluhkan hati dan pikirannya.


Berbeda dengan Welly, lelaki berbadan kekar dengan rambut keritingnya sibuk dengan ponsel yang ia pegang.


Dimana tanda getar terasa oleh Lucky dalam saku celanannya. Lucky mulai merogoh saku celana, melihat isi pesan yang terus menerus di kirim oleh Welly.


(Lilia, kamu dimana. Aku menunggumu dari tadi, apa kamu lupa janjimu sendiri. Untuk memilih seorang lelaki diantara kami berdua, antara aku dan Carlos.)


Lucky membaca isi pesan dari Welly, berusaha menahan tawa, agar tak di curigai kedua lelaki dihadapanya.


(Kamu mau tahu aku ada dimana?)


(Ya, kamu ada dimana.)


Edric dan Aira kini datang, duduk di atas kursi, semua berkumpul.


"Ayo makan. "


Tetap saja kedatangan Carlos dan Welly, menanyakan Lilia sang dokter yang tak terlihat dari tadi.


Carlos duduk di samping Edric dan mulai bertanya." Kemana Lilia?"


"Mm, Lilia."


Lucky tersenyum tipis mungkin saatnya mengetahui Lilia itu siapa sebenarnya.


"Oh, ya. Kok malah Lucky yang ada di sini?" Welly terlihat tampak heran saat menatap ke arah Lucky, seperti ada kecurigaan..


Welly menunggu pesan dari Lilia yang tak kunjung dibalas, sedangkan Carlos menikmati makanan di atas meja.


"Lucky, apa kamu bisa tunjukan Lilia dimana, " ucap Edric pada Lucky, masih memegang ponsel.


"Oke," balas Lucky. Terlihat ia mulai membalas pesan Welly dan menunjukkan sesuatu.


(Aku ada di samping kanan kamu.)

__ADS_1


Welly mulai membaca pesan betapa syoknya dia, menatap Lucky yang mengedipkan ke dua mata.


"Alah tidak mungkin."


(Masa ia.) Welly berharap jika pesan yang dikirim Lilia hanyalah candaan belakang, karena tak mungkin jika sang dokter adalah laki laki.


(Ya, masa kamu nggak percaya.)


Menelan ludah, Welly kecewa benar benar kecewa. Hingga Lucky menunjukkan kartu idetitasnya.


(Kalian lihat ini.)


Semua mata membulat, apalagi Carlos yang tengah menikmati makanan di atas meja, rasanya ingin memuntahkan saat itu juga.


Carlos batuk, hingga Lucky menunjukkan semua bukti. " Ini, kalian lihat ini."


Tanda hitam kecil begitu percis dengan yang dimiliki Lilia, mereka tak percaya.


"Kalian mengerjai kami kan, mana mungkin si Lilia itu laki laki, toh dia bicara lembut dan ..... "


Lucky menghentikan perkataan Carlos, dan kini mengubah suaranya menjadi Lilia.


"Bagaimana, apa kalian percaya."


Betapa sakit hatinya Carlos mendengar suara Lucky, sama percis Lilia." Kok bisa sama begitu?" tanya Carlos.


Bisa bisanya kedua lelaki tampan itu, tertipu dengan topeng Lucky selama ini, mereka kini berucap dengan nada kesal." Heh, aku nggak nyangka banget, Lucky kamu benar benar tega ya."


Lucky malah tertawa dan merasakan rasa puas setelah berhasil mengerjai keduanya. " Kenapa marah, bukanya kalian juga suka mengerjai kami."


Padahal Carlos masih ingin makan, tapi ketika tahu apa yang diungkapkan Lucky, ia menjadi tak napsu makan. Seleranya hilang begitu saja," kami pulang."


Lucky yang melihat pemandangan itu, malah tertawa terbahak bahak dan berkata." Syukurin, emang enak di kerjain."


Tawa Lucky mengema, ketika keduanya beranjak pergi dari tempat makan.


Carlos menghampiri Lucky dan berkata." Kamu benar benar ya. "


Lucky membulatkan kedua mata, membenarkan rambutnya, " kenapa?"


Carlos tak sanggup memarahi Lucky, kerana ia mengigat Lilia, hatinya rapuh. Pergi menyusul kembali Welly.


Tawa kembali dilayangkan Edric dan juga Lucky, mereka seperti puas dengan permainan ini.

__ADS_1


Tring ....


Pesan datang seperti dari Welly.


Lucky menatap layar ponselnya dan benar saja. Pesan dari Welly, (Aku kecewa sama kamu.)


Pesan itu memperlihatkan emojid bersedih, tentulah membuat Lucky semakin tertawa.


"Ada ada aja kelakuan mereka berdua ini. "


(Kalau kecewa ya harus apa lagi. Kenyataannya sudah begini.)


Lucky menunggu pesan dari Welly.


(Kamu menipu kami kan, kamu ada kan. Lilia, aku tahu kamu bersembuyi, kenapa kamu malah mengejai kami, Lucky tetap Lucky, Lilia tetap Lilia, bukan begitu.)


Membaca pesan dari Welly membuat Lucky menggelengkan kepala," tetap saja Welly, ragu jika aku ini Lilia."


"Mungkin karena cinta."


Tawa dilayangkan lagi oleh keduanya, " Memang mereka harus dikerjai seperti itu biar kapok. "


"Haha, ya sudah dari pada kalian mengobrol terus. Sebaiknya cepat makan masakan di atas meja. Nanti keburu dingin nggak enak, " printah Aira pada Lucky dan juga Edric.


Mereka berdua menurut menaruh ponsel dan kini menyantap makanan di atas meja dengan kesenangan yang berbeda.


"Gimana rasanya pasti enak kan?"


"Enak, karena puas sudah mengerjai keduanya!"


Semua tertawa terbahak bahak, mereka senang dengan apa yang dilakukan Lucky, berbeda dengan Aira. Ia hanya diam sembari menyantap makanannya begitu lahap.


"Lucky, apa kamu nggak takut dengan mereka berdua. Kalau mereka perkosa kamu bagaimana?" tanya Edric pada Lucky saat menikmati makananya.


"Ya elah mana ada. Yang ada mereka jijik lihat gue, paham!" jawab Lucky, sedikit bernada tinggi, ia masih menerima pesan dari Welly.


"Ya ampun si Welly ini, bisa bisanya ngirim pesan. Dan bilang aku ini mengerjai mereka jika Lilia itu tetap Lilia bukan Lucky. Hem, apun deh."


Aira hanya bisa tersenyum tipis dan berkata." hati hati loh, ngerjain orang seenak jidat. Kena karma tahu rasa."


"Sudahlah Aira, kita ini hanya membalaskan dendam kita saja, jangan bahas lagi karma karma, aku percaya. Masalah itu."


Edric kini membuat sebuah guyonan," iya sayang. Kita hanya ingin membuat mereka gerah, jangan terlalu diambil serius lah, kamu tahu sendirikan mereka jahilnya kaya apa. Kita doakan aja mereka sadar atas kelakuan mereka sendiri."

__ADS_1


Aira hanya bisa menatap sekilas ke arah suaminya dan berkata," ya. Iya aku nurut saja apa kata kamu sayang, yang terpenting kamu bahagia."


"Sudah sudah jangan bahas lagi, Carlos dan Welly, kita nikmatin saja makanan kita ini."


__ADS_2