
Tidak butuh waktu berhari hari tinggal di rumah sakit, Aira sudah di izini untuk pulang. " Akhirnya bisa pulang juga."
Sesuai janji, Edric yang kini sudah bisa berjalan. Membopong tubuh istrinya untuk duduk di kursi roda, karena keadaan sudah melahirkan membuat Edric tak tega melihat istrinya.
"Aku bisa jalan, kok, " ucap Aira menatap wajah sang suami, semakin hari semakin terlihat tampan.
"Sudah naik kursi roda saja ya," balas Edric, memanjakan Aira setelah melahirkan.
Aira napak berkeringat di ruangannya sengaja tak terpasang Ac, karena ada bayi kecil dalam gendongannya.
Ternyata Carlos dan Welly berniat mengantarkan Aira sampai pulang ke rumah.
Namun, Edric dan Aira menolak. Karean sudah ada Lilia yang akan mengantarkan mereka pulang.
Mau tidak mau, Carlos dan Welly pulang dengan mobil mereka masing masing.
Terlihat ada kekecewaan dihati mereka karena Lilia sang dokter belum memberikan jawaban yang pasti.
Di dalam perjalanan menuju pulang.
"Kok, bisa. Kamu datang lagi bersamaan dengan Carlos dan Welly?" tanya Edric dalam tawa renyah, karena kedua teman yang usil itu begitu tergila gila dengan Lucky, wanita jadi jadian.
"Jelas dong, secara mereka kan memperebutkan aku dan menjadikan aku sebagai taruhan, siapa yang menang dia dapat mobil dan plus menikah denganku, seorang dokter cantik bernama Lilia!" balas Lucky, sembari melegokkan tubuhnya sedikit dihadapan Edric dan Aira.
Tawa kini terdengar nyaring pada Aira dan juga Edric, mereka disuguhkan sebuah cadaan yang menyehatkan pikiran, menghilangkan stress.
"Kamu tahu dari mana? Kalau mereka menjadikkanmu sebagai taruhan?" tanya Edric yang memang ia baru tahu, kedua sahabat usilnya itu tetap menjadikan semua ajang perlombaan dan kejahilan mereka.
Entah kapan mereka akan bertaubat dan sadar akan prilaku yang malah merugikan banyak orang, demi kesenangana mereka masing masing.
"Jelas aku tahu, baru tadi pagi mendengar percakapan mereka berdua, yang pastinya lumayan mengasihkan. Walau sebenarnya aku sebal karena mereka bedua tak sopan, setiap kali bertemu ada aja tangan yang menggerayami tubuhku," ungkap Lucky sudah terlihat risih dengan Welly dan juga Carlos.
"Mereka memang keterlaluan, harus diberi pelajaran, agar kapok dan tak mengulangi kesalahan mereka lagi," balas Edric, ia juga ingin membuat kedua sahabatnya sadar akan perilaku mereka yang tak baik itu.
__ADS_1
Aira hanya mendengarkan obrolan mereka berdua tanpa ikut campur, dimana sang buah hatinya menangis.
"Uluh cup, cup. Sayang."
Ponsel Lucky berbunyi, tanda pesan datang dari Welly dan Carlos.
(Sudah sampai belum, jangan lupa besok penentuan siapa yang kamu pilih, Lilia.)
Pesan dari Carlos, lelaki tak sabaran itu selalu menghubungi Lilia, setiap detik menit, dan jam. Tak pernah absen untuk tidak mengirim pesan.
Kadang ada rasa kasihan, karena sudah delapan bulan mengerjai mereka berdua. Tapi apa boleh buat, mereka harus mendapatkan pelajaran biar kapok dan tak berbuat kejahilan lagi.
Tring, kini pesan dari Welly.
(Apa sudah sampai? Kabarin aku kalau sudah sampai. Ada yang mau aku bicarakan lagi dengan kamu. )
Pesan kedua lelaki itu sudah biasa terbaca oleh Lucky, tanpa sang dokter balas.
Karena sudah bosan dan malas, apalagi sekarang Lucky tengah dekat dengan Amanda sahabatnya, wanita yang ia kagumi saat duduk di sekolah dasar hingga sekarang.
"Jadi mereka berdua benar benar akan menikahimu?" tanya Edric pada Lucky, karena masih tak percaya dengan apa yang dikatakannya.
Kedua lelaki jahil itu sampai serius, dari yang tadinya berniat untuk taruhan sekarang berniat menikah ke jenjang serius.
"So, jadi sekarang kamu memilih siapa?" tanya Edric mereka masih dalam perjalanan pulang.
Lucky yang mengedarai mobil menatap kaca, mempelihatkan Edric dan juga Aira.
"Tak akan ada yang aku pilih dari salah satu mereka, enggak banget, masa ia pedang adu pedang," balas Lucky. Kedua orang yang berada dibelakang tertawa.
"Ya bisa aja kan kamu sekarang sudah berwujud seperti wanita sempurna!" ucap Edric, membuat sebuah guyonan.
"Walau pun wujud sudah jadi wanita, tetap saja bawahanku ini pedang panjang, dan masih tajam," balas Lucky, seraya mendelik kesal. Ia sudah ingin bertobat dan menjadi dirinya sendiri, tak mau menentang takdir yang sudah di gariskan tuhan kepadanya.
__ADS_1
" Oh ya, jadi acara lamaran akan di gelar kapan?" tanya Edric pada Lucky. Wanita jadi jadian itu membenarkan rambutnya.
"Besok di rumah kamu, dan sekarang aku akan pergi kesalon memotong rambut, dan besoknya memperlihatkan diriku yang sebenarnya di hadapan mereka berdua! Tinggal mengubah penampilan dan pastinya mereka akan terkejut, dan tak percaya sama sekali." jawab Lucky terlukis senyuman bahagianya, karena besok bisa memperlihatkan penampilannya yang sesungguhnya di hadapan, Welly dan Carlos.
Setelah selesai mengantarkan Edric dan Aira, Lucky mulai berpamitan pergi dengan mengendarai mobil berkecepatan.
sesuai janjinya, hari ini harus mengubah penampilan agar besok bisa bersiap-siap melihat Kedua lelaki yang akan melamarnya.
Saat masuk ke dalam salon rambut, semua lelaki yang melihat Lucky terlihat begitu terpana akan kecantikannya.
Namun karena merasa risih dengan tatapan para lelaki, akhirnya Lucky mulai mengeluarkan suara kekarnya, siapa sangka lelaki yang tadinya terpanah malah membulatkan kedua mata mulut mereka mengangah, setelah mendengar suara asli wanita cantik yang berjalan menuju ke tempat duduk untuk potong rambut.
seorang lelaki yang bekerja di salon itu, terlihat begitu gemetar, karena mendengar suara kekar Lucky.
"Mau potong rambut model apa?" tanya sang pegawai salon kepada Lucky.
Lucky menunjuk foto model gaya rambut yang terpanjang pada dinding, " tolong ya model seperti itu. "
Pegawai salon laki-laki itu, sangatlah terkejut ke tika potong rambut gaya laki laki," Apa dia mau tobat ya, jadi laki laki utuh. " Gumam hati sang pegawai salon.
Rambut panjan Lucky, perlahan kini terpotong, pelahan demi perlahan sehingga sang pegawai salon tidak mau menyia-nyiakan rambut indah yang dimiliki Lucky.
Mereka memanfaatkan rambut indah itu untuk dijual kembali, Lucky sangat percaya diri bahwa dia akan berubah lagi menjadi seorang laki-laki, Kalau mungkin wajah permaknya sudah berubah menjadi seorang wanita.
Namun tetap saja Lucky akan berubah menjadi seorang lelaki, ia tinggal mengubah penampilannya. dan menumbuhkan lagi kumis begitu pun jenggot.
"Sudah selesai."
Gaya rambut laki-laki memang tak pantas untuk Lucky, apalagi saat dia memakai baju seksi wanita.
"Bagus."
Lucky tersenyum lebar, rambut yang terurus olehnya kini sudah terbuang.
__ADS_1
Perlahan ia menghapus make up, mengganti bajunya menjadi seorang lelaki seutuhnya, semua orang yang berada di sana menggelengkan kepala.
"Wanita cantik, berubah menjadi laki laki tampan. "