
Pak Hasan yang melihat pemandangan itu dari kejauhan sangatlah senang, ia mengukir senyum berhasil membuat kedua insan itu bahagia lagi.
Edric dan Aira saling berpelukan satu sama lain, terlihat kedua Insan itu begitu melekat seperti terkena lem tak ingin dipisahkan.
Panggilan untuk pesawat yang akan ditumpangi kedua Insan itu kini terdengar dipanggil. Keduanya mulai bersiap-siap menaiki pesawat, Edric tak sabar ingin sekali sembuh, agar bisa cepat berjalan.
Edric sudah membayangkan bisa membopong tubuh istrinya yang bohay dan tinggi itu, tak menyusahkan orang lain untuk mengangkat tubuhnya.
Saat menaiki pesawat aman-aman saja, hingga beberapa menit kemudian Aira memuntahkan isi perutnya, mabuk berat. Tentu membuat orang-orang yang melihatnya mengatakan hal yang tidak-tidak.
Namun Edric tetap berusaha tenang, ya memaklumi jika istrinya muntah, karena mungkin bawaan bayi.
"Kamu mual sayang." ucap Edric lembut, berusaha membuat Aira tetap tenang.
Aira menganggukkan kepala, ia merasa malu akan dirinya yang muntah secara tiba tiba. " Maafkan aku Edric bikin kamu malu, soalnya aku mencium bau wangi yang tidak aku suka. Sampai membuat aku tak tahan dan ingin memuntahkan isi perutku saat itu juga. "
"Kamu tak usah meminta maaf, aku memaklumi kok kamu ini sedang mengandung anakku."
Kata kata Edric membuat Aira tenang, wanita berbulu mata lentik itu. Memeluk sang suami dengan begitu erat, beruntung memiliki seorang lelaki yang mampu memahami dirinya.
Walau mungkin ada masalah sedikit, tapi mereka tetap bisa bertahan dan menyelesaikan masalah.
Pramugari datang menghampiri Aira," apa ada yang saya bisa bantu?"
keramahan pramugari itu membuat Aira meminta bantuan padanya," Saya sedang hamil. Apakah ada minuman hangat yang bisa saya minum?"
Pramugari itu tersenyum, " saya akan buatkan minuman khusus untuk ibu hamil!"
Betapa senangnya Aira, mendengar keramahan pramugari, kepada dirinya.
Beberapa menit kemudia, minuman sudah selesai dibuat. Aira minum dengan hati hati, iya tersenyum saat minuman yang dibuatkan pramugari begitu enak dan melegakan tubuhnya.
"Ini enak sekali."
Pramugari wanita itu begitu senang, setelah minuman yang ia buat dapat diterima oleh Aira.
"Terima kasih."
__ADS_1
Pramugari mulai menjalankan tugasnya, terlihat Aira begitu menikmati perjalanan di pesawat. Edric melihat kebahagiaan istrinya, tersenyum dan juga ikut bahagia, iya tidak akan melupakan momen terindah yang ia lihat pada istrinya.
Aira mulai tertidur, Edric menyelimuti sang istri mencium keningnya. Aira terlalu kelelahan karena melayaninya.
*****
Menatap awan-awan putih yang terlihat berdiam diri, membuat lelaki pemilik bola mata biru itu memikirkan keadaan dirinya sendiri.
Ia sudah bosan berada di kursi roda selama 3 tahun, mengandalkan seseorang untuk duduk. Ataupun turun dari dalam mobil.
Edric ingin berjalan seperti biasa, tanpa mengandalkan orang lain. Ia ingin menjadi pelindung untuk istrinya, tak mau mengandalkan sang istri terus-menerus.
Edric ingin menjadi lelaki seutuhnya tanpa kekurangan sedikitpun, karena kecacatan yang ia miliki, membuat Edric tak bisa memanjakan sang istri, yang ada Edric malah menyusahkan istrinya itu.
Sebenarnya ia juga tak menyangka jika orang yang bernama Dwinda itu adalah penyebab kelumpuhannya. Kalau saja kucurigaannya ia teruskan, kemungkinan besar Edric tak akan mengalami kelumpuhan yang cukup lumayan lama.
Namun karena kebodohannya yang terlalu menurut dengan sang ayah, membuat ia harus menerima penderitaan yang selama ini tak ia inginkan.
Air mata tak terasa berlinang, membuat rasa sesak di dalam dada.
Edric berusaha menguatkan diri, berharap jika kelumpuhannya itu segera pulih kembali.
Memegang kepala yang terasa berdenyut, Edric berusaha untuk memejamkan kedua matanya agar beristirahat.
Perjalanan menggunakan pesawat tidak butuh begitu lama, akhirnya kedua Insan itu sampai di tempat tujuan. Aira yang melihat pemandangan di luar negeri tempat kelahiran kedua orang tuanya.
Merasa bergembira, ia sudah tak sabar ingin segera menjalani pengobatan terapi yang dianjurkan ayahnya.
"Bertapa indahnya."
Aira mendorong perlahan kursi roda suaminya, di mana mobil jemputan yang sudah disediakan sang ayah kini tiba.
kedua Insan itu mulai masuk ke dalam mobil, perasaan mereka benar-benar dibuat bahagia oleh sang ayah yang sudah disediakan segala hal.
Waktunya Edric menemui sang dokter yang sudah direkomendasikan Ellad.
Setelah tiba, Edric dan Aira diantarkan pada rumah sederhana yang sengaja dibeli oleh ayahnya.
__ADS_1
Walau sederhana tapi terasa nyaman.
"Bagaimana apa kamu suka di sini." Aira menatap lingkungan di sekitar rumahnya, tampak begitu bersih. Tak ada sampah sedikitpun, suasana sepi membuat Aira terasa nyaman.
"Ini adalah rumah Daddy dan Mommy dulu, sebelum mereka pindah ke Indonesia. Daddy sengaja tidak menjual rumahnya di Amerika. Karena banyak kenangan berharga bersama Mommy di rumah ini."
Aira mulai melangkah untuk mendekat ke arah rumah sederhana, terlihat bangunan itu begitu kokoh. Warna cat rumah yang begitu cerah, " Nyaman sekali, lingkungannya pun bersih. Sepertinya aku akan nyaman tinggal di sini apalagi bersama suamiku yang baik ini."
Mendengar ujian yang terlontar dari mulut Aira, membuat pipi Edric memerah, sang pemilik bola mata biru itu mencubit hidung istrinya.
"Aw, sakit. Kamu ini kenapa sih." Aira yang memang tengah merasakan mood yang tidak baik .
Membuat Edric dengan sengaja mencubit lagi kedua pipi istrinya, " jangan begitu Edric, ini sakit."
Edric malah tertawa terbahak-bahak, setelah mereka masuk ke dalam rumah. Aira ditarik menuju yang tempat tidur.
Edric yang hanya menggunakan kursi roda sedikit kewalahan, "Edric. Bukannya tadi udah. "
Edric yang memang belum merasakan bulan madu, membuat tubuhnya memanas. Ia seperti ingin melakukannya lagi dan lagi, karena belum cukup merasa puas.
"Tapi aku mau lagi," ucap Edric merengek seperti anak kecil. Aira yang tengah hamil harus menjaga kandungannya, agar tidak terlalu melakukan ritual suami istri yang berlebihan.
"Aku kan sedang mengandung, aku takut kandunganku kenapa-napa."
"Kamu tenang saja, aku akan berusaha melakukannya pelan-pelan kok."
Aira tak percaya dengan perkataanmu suaminya itu, karena saat di hotel juga. Edric selalu bersemangat, membuat kram pada perut Aira.
Hawa dingin dalam ruangan, membuat Edric mencubu bibir hingga ke bawah leher sang istri, saat semua terbuka.
Ting nong.
Bel berbunyi, siapa yang tak kesal. Mendengar suara bel itu, Edric begitu bersemangat kini melemah.
*******
Siska sang dosen berusaha menelepon Edric, entah kenapa hati seorang dosen itu merasa kehilangan, sosok Edric yang selalu hadir di sekolah. Mengganggu pikiran Siska.
__ADS_1
Walau Edric lumpuh, Siska begitu menyukai akan Kharisma yang selalu terpancar dalam diri Edric.
"Kenapa aku kepikiran Edric terus ya."