Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 114 Pesan dari dosen.


__ADS_3

Ketika pergulatan yang ketiga kalinya selesai, Edrik langsung melihat layar ponselnya kembali. Sebenarnya Edric merasa penasaran dengan pesan yang begitu banyak dikirim oleh sang dosen.


Apa mungkin sebuah skripsi atau tugas, atau dia ingin menjelaskan tentang bidang bisnis? Edric tak mengerti dengan dosennya itu.


Saat itulah Edric mulai membuka isi pesan dari sang dosen. Pesan yang lumayang begitu banyak, membuat kepala Edric pusing dan malas melihatnya. Tapi kalau tidak ia lihat, malah menjadi penasaran.


Menghelap napas," ada ada si dosen gila ini. Ahk, sudah tahu aku sedang tahap penyebuhan, masih saja ganggu, bukannya belum puasnya dengan surat cuti yang aku buat."


(Hai Edric, apa kabar. Bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik di sana. Aku berharap kakimu sembuh dan kamu bisa mengikuti pelajaran lagi seperti biasa.)


"Pesan macam apa ini, aneh. Dan dia menyebut kata aku dan kamu, terasa tak enak dibaca. Apa dia tidak sadar dengan umurnya. Wajah si boleh kelihatan muda tapi umur dia. Ada ada aja."


Aira melihat suaminya tertawa sendiri, membuat ia yang tengah mengeringkan rambut dengan handuk merasa penasaran.


Edric membulatkan kedua matanya, membaca pesan dari Siska.


(kamu tak membalas pesanku pasti kamu berada dalam pesawat ya.)


"Konyol, pesan macam apa ini. Benar benar sudah tak waras dia." Gerutu Edric menggelengkan kepala, membuat perutnya sakit kerena membaca pesan dari dosennya.


Sedangkan Aira malah semakin penasaran dengan suaminya itu.


"Kenapa dengan Edric?"


(Aku mau tanya sama kamu. Apa ketika kamu cuti seperti ini? Apa kamu mau aku beri tugas, ya hitung-hitung membantu kamu dalam masa kuliah. Agar kamu tidak ketinggalan mata kuliah kamu di semster ini.)


"Ide yang bagus sih, tapi masa ia cuti masi mengerjakan mata pelajaran. Lah, bukan cuti namanya, tapi belajar di rumah." Gerutu Edric marah dengan pesan dari dosennya itu.


Mengerutkan dahi dari kejauhan dia berkata," loh, tadi dia ketawa ketawa, sekarang malah marah marah. Gak jelas. Ada apa sih?"


(kalau memang kamu mau tugas itu, akan aku kirim setiap hari agar kamu mengejakannya, dan setiap malam kita akan belajar tatap muka. Bagaimana.)


(Apa kamu mau?)


(Jika kamu mau, tolong balas pesanku?)


"Benar benar tak waras dosen ini, kuliah cuman tatap muka tiga kali dalam seminggu. Ini setiap hari." Gerutu Edric, ia semakin kesal dan hampir melempar ponselnya.


Tapi masih banyak pesan yang belum ia baca lagi, karena masih kuat mental, Edric membuka kembali isi pesan itu.

__ADS_1


(Oh ya, aku mau tanya seberapa lama kamu Cuti di luar negeri untuk masa penyembuhan kamu itu, soalnya aku akan memberi laporan bahwa kamu cuti untuk sementara waktu.)


"Ini dosen harus di bawa ke rumah sakit jiwa, kata kata pesannya sudah tak ada benarnya. Dia kenapa sih, over protektif. Padahal dia bukan siapa siapaku. Hanya seorang dosen."


Mengusap kasar wajah, Edric berusaha tetap tenang, karena masih banyak pesan yang belum ia baca.


Aira penasaran dengan suaminya itu, dia kini mendekat dan bertanya?" kamu kenapa, dari tadi mendumel terus. Kadang ketawa sendiri."


"Ini, aku lagi baca pesan dari dosenku. Pesannya aneh gitu sayang!" jawab Edric, sembari menatap layar ponselnya.


"Aneh, gimana maksud kamu?" tanya Aira. Tak mengerti apa yang dijelaskan oleh suaminya.


"Nih, ya. Aku lihatin sama kamu!" jawab Edric, memperlihatkan pesan yang dikirim sang dosen.


Kedua mata Aira mengkerut ia kini bertanya." Memang dosen kamu laki laki apa perempuan?"


"Permpuan sayang!"


"Pantas saja, dia mengirim pesan seperti itu ke kamu. "


"Lah memang dia kenapa, aku mengira dia gila."


"Bukan gila, tapi ..... "


Tawa dipelihatkan oleh Edric di depan istrinya, sedangkan sang istri malah cemberut.


"Kenapa cemberut lagi?" tanya Edric, mencium pipi istrinya.


Aira yang mulai menjawab, malah dikejutkan dengan suara ponsel suaminya. Dimana Edric, melihat layar ponsel itu. Membaca pesan yang baru saja datang.


(Oh ya Edric apa jam segini kamu sudah tidur? kebetulan aku ingin berbicara dengan kamu.)


Edric yang memang tak pernah merasakan masa pacaran, hanya mengatakan jika pesan yang dikirim sang dosen kepadanya. Adalah pesan aneh.


Ia layar ponsel dengan telunjuk tangannya, memperlihatkan isi pesan dari sang dosen.


Aira kesal dengan isi pesan itu, dia menatap jam. Dimana sekarang jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12.00 malam.


"Dasar wanita ganjen." Gerutu Aira.

__ADS_1


Edric tanpak heran dengan kemarahan istrinya, tiba tiba saja, mengepalkan kedua tangan. Terlihat Iya tak suka dengan isi pesan yang dikirim oleh Siksa dosennya.


"Kamu ini mau tahu tidak?" tanya Aira, mendekati wajah sang suami. Perlahan tanganya, memegang leher Edric.


"Apaan sih kamu ini sayang, tiba-tiba saja ngambek?" tanya Edric.


Aira yang sudah merasa kesal terhadap pesan dari dosen suaminya, membuat iya menjelaskan semuanya kepada sang suami.


"Kalau wanita sudah pandai merayu kamu, Itu tandanya dia suka kepada kamu."


Edric yang mendengar perkataan dari istrinya, tidak percaya." Mana mungkin Siska melakukan hal seperti itu, dia kan seorang dosen. Masa iya mau merayu anak muridnya, kayak nggak laku aja."


"Edric sayang. Apa sih yang tidak mungkin di dunia ini, kamu tahu sendiri kan kakek-kakek juga bisa menikah dengan gadis, apalagi ini gadis tua. Bisa dengan gampangnya mendekati murid seperti kamu." Cetus Aira, ia pergi begitu saja.


Namun Edric menahan sang istri, membuat wanita desa itu duduk di pangkuanya.


"Edric."


"Sudah diam di sini, aku tak suka lihat kamu marah marah."


"Mm."


Aira sebenarnya penasaran, kenapa dosen itu sampai berani mengirim pesan pada muridnya. Apa ia tak tahu jika, muridnya itu sudah menikah.


"Coba kamu balas, apa dia akan menelepon kamu."


"Oke, akan kucoba. Kirim pesan apa, tapi?"


"Bilang kamu belum tidur gitu aja!"


Pada akhirnya Edric menuruti perintah istrinya itu, ia mengirim pesan pada Siska.


(Aku belum tidur ada apa?)


Melihat balasan dari Edric, membuat Siska senang, ia besorak hore di kamarnya sendiri. " Edric membalas pesanku, benarkah ini. Aku merasa terpana. Ya ampun, dari pagi aku sempat frustasi dan sekarang pesanku dibalas olehnya."


"Telepon atau tidak ya."


Siska, bahagia kegirangan. Ia memeluk bantal guling yang selalu menemani tidurnya dengan begitu, dia mulai membalas pesan dari Edric.

__ADS_1


(Oh, ya. Bolehkah aku meneleponmu di jam malam ini? Apa kamu tidak keberatan?)


Aira dan Edric menunggu jawaban dari dosen bernama Siska itu, membaca balasan dari sang dosen, membuat Aira tambah murka dan juga kesal.


__ADS_2