Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 88 Akhir masa lalu


__ADS_3

"Kenapa kamu minta maaf pada saya Dwinda, jelas saya yang salah, " ucap Ellad merendahkan hati di depan Dwinda. Lelaki cuek dan tak pernah peduli akan orang lain, sifat dinginnya kini berubah derastis menjadi ramah dan juga baik hati.


Dwinda berhasil membuat Ellad menjadi lelaki lemah dan tak berdaya akan cinta. Jelas lelaki tua bangka itu tipe orang yang setia dan tak gampang berpaling kelain hati.


Namun Dwinda bekerja keras, untuk bisa mendapatkan Ellad, ia kini mencapai kemenangan. Bahwa Ellad sebentar lagi akan jatuh pada pelukannya.


Edric mulai menyadari kedekatan sang papa dan juga dokter yang merawatnya. Ia terlihat kesal melihat kedekatan mereka berdua, karena Edric yang memang tidak menyukai.


Semakin hari kedekatan mereka semakin lengket, Ellad berada di titik tak mempedulikan orang lain, ia menjadi sosok egois, mencintai Dwinda.


Pada akhirnya mereka menikah, tentu saja membuat peluang bagi Dwinda.


Hanya saja dari peluang itu, Dwinda kini menjadi sosok wanita yang harus menerima nasib.


Dimana Dwinda sudah terkucilkan.


*******


******* Keterpurukan Dwinda *******


Ellad sudah sampai di dalam kamar, kedua matanya merasa kecewa sekali dengan penghianatan sang istri, rasa dendam terasa pada diri Ellad.


Hingga ia mulai menghubungi anaknya.


"Halo."


Edric kini mengangkat panggilan telepon dari ayahnya, karena Kebetulan sekali ia berada di dalam perjalanan menuju pulang ke kota.


Melihat sang istri, terlihat begitu kelelahan dan juga merasa kasihan akan kondisi tubuhnya yang begitu lemah.


Edric memaksakan diri untuk membawa Aira pulang, karena ia khawatir dengan keadaan istrinya yang semakin terlihat begitu mengkhawatirkan.


Panggilan telepon berbunyi, dimana sang ayah menelepon Edric.


"Halo, Edric. Kamu ada di mana?" tanya Ellad pada sang ayah.


"Aku sedang berada di perjalanan menunju pulang. Memangnya kenapa!?" jawab Edric merasa heran dengan sang ayah yang terus menelepon.


"Ada hal yang ingin Daddy bicarakan pada kamu, ini penting" ucap Ellad dalam sambungan telepon. Ia sudah ingin meminta maaf pada anaknya. Karena Ellad telalu egois, terlalu percaya pada Dwinda.


"Memangnya apa yang akan Daddy bicarakan, kenapa tidak langsung bicarakan sekarang saja," balas Edric pada sang ayah, ia penasaran akan hal penting yang akan dibicarakan Ellad.

__ADS_1


"Kamu pulang saja, Daddy tak enak jika bicara dalam sambungan telepon," ucap sang ayah. Edric berusaha mengerti dan kini menutup panggilan telepon.


Aira masih terlihat lesu, wajahnya tak bersemangat karena bulak balik ke kamar mandi, hanya untuk memutahkan isi perut.


"Siapa?"


"Daddy suruh kita pulang cepat cepat, karena ada hal yang ingin ia bicarakan!"


"Tapi kita ke rumah sakit dulu ya, badanku lemas sekali rasanya."


"Iya."


********


Para pelayan saling membicarakan Dwinda, apalagi Maria yang dulu sempat kagum terhadap Dwinda, seorang wanita berprofesi sebagai dokter. Maria selalu mempercayai Dwinda, karena terlihat dari raut wajah sang dokter membuat seseorang yang melihatnya pastinya terpanah dan juga kagum, akan kebaikan dan juga kepolakan yang terpancar dari diri Dwinda.


Namun, semua itu nyatanya, hanya kebohongan belaka yang sengaja dibuat-buat. Agar Dwinda bisa membalaskan dendamnya terhadap keluarga Ellad.


Maria seakan puas membalaskan dendam akan kelakuan busuk wanita pemilik bola mata coklat yang selalu semena-mena pada pelayan, setelah menikah dengan sang majikan.


"Kasihan baget si Dwinda."


Mendengar Lina sok simpati. Membuat para pelayan tertawa di atas penderitaan Dwinda, hati mereka seakan berbunga-bunga karena sebentar lagi akan menceraikan Dewinda dan mengusir wanita jahat itu di dalam rumah.


"Iya juga sih."


Maria paling tua diantara mereka berdua, kini memegang kedua pipi Lina, mencubitnya pelan.


"Aduh."


"Sakit ya, mau balas lagi nggak."


"Maria."


"Makannya jangan sok simpati, toh dia juga dulu nggak ada rasa simpati sama kita. Main tindas saja."


"Tuh, kamu dengar Lina. Apa kata Maria."


Lina menganggukkan kepal dan tersenyum, " Hehe iya sih." Sembari mengaruk belakang kepala.


"Maria kamu sungguh hebat, kamu pintar disaat Tuan Ellad lengah, kamu bisa merekam kelakuan busuk Nyonya Dwinda, "ucap Ratna dengan tawa yang terdengar begitu renyah.

__ADS_1


Maria ikut tersenyum mendengar pujian yang terlontar dari sahabatnya," soalnya aku sudah lelah dengan kelakuan Si Dwinda itu, dia itu terlalu semena-mena terhadap kita."


"Benar juga apa kata kamu dia kali-kali harus diberi pelajaran supaya dapat berpikir jernih tidak selalu menjajah seseorang yang lebih rendah dari dirinya," balas Ratna. Memperlihatkan kepuasan diri akan Maria yang hebat sudah membuat Dwinda kini jatuh dalam keterpurukan.


Mereka sebenarnya malas melakukan semua itu, hanya saja karena sudah lelah dengan sifat dan keserakahan Dwinda. Sampai tega membuat Dwinda hancur dan terpuruk sekarang.


Dwinda yang selalu di manja kini mendapatkan perlakuan tak baik dari Ellad.


Ellad membiarkan Dwinda sendirian, tak mempedulikan istrinya sama sekali.


Para pelayan mendukung semua yang dilakukan Maria apalagi menguak semua kebusukan tentang Dwinda kepada sang majikan.


"kalian tahu kan Dwinda itu sedang apa sekarang. Setelah mendapat perlakuan tak menyenangkan dari Tuan Ellad. "Timpal Ratna pada para pelayan yang tengah berkumpul santai di dapur. Terlihat sekali mereka begitu senang saat membicarakan Dwinda.


Para pelayan dengan kompaknya berkata, "jelas dia pastinya lagi menangis menyesali perbuatannya."


Mereka tertawa terbahak bahak, mentertawakan Dwinda kembali, perasaan tenang dan juga bahagia saat musuh di dalam rumah sudah lemah.


"Coba saja kalau dia itu nggak jahat, terus dia nggak ngelakuin hal yang tidak pantas kepada Tuan Edric, hem. kemungkinan besar dia akan selalu menjadi Nona besar di istana ini, siapa sih yang tidak mau menikah dengan lelaki tua bernama Tuan Ellad itu, pastinya kita sebagai gadis juga mau sama dia. Ya walaupun kita nyadar diri bahwa kita itu beda kasta dengan Tuan Ellad." Ucap Lina, gadis manis yang sudah lama bekerja di rumah Ellad.


Dia belum mendapatkan pasangan karena terlalu fokus dengan pekerjaan.


Ratna memukul bahu Lina, ia membulatkan kedua mata dan berkata," kalau ngomong itu yang benar saja Lina."


Lina tersenyum kecil, seakan semua itu menjadi guyonan,


"Ahkkkkkkk."


Suara jeritan kini terdengar dari kamar Dwinda.


Para pelayan penasaran, kenapa sang Nyonya menjerit.


Mereka berjalan pelan, untuk mendengar suara tangisan dan jeritan Dwinda saat itu.


"Kayanya Nyonya Dwinda, mulai jadi gila deh."


Maria menyengol bahu Ratna dan menjawab," kalau ngomong itu selalu sesuai kenyataan deh."


Tawa kembali mereka lontarkan saat mendekat ke arah pintu kamar sang Nyonya.


Mereka penasaran dengan keadaan Dwinda yang sudah diabaikan Ellad selama tiga hari.

__ADS_1


"Kita intip yuk."


"Ayo."


__ADS_2