Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Nan 45 Kerja sama.


__ADS_3

"Bagaimana, apa kalian setuju?"


Tanya Maria berusaha menyakini para pelayan yang menjadi sahabatnya.


Ratna tersenyum dan bersemangat." Aku setuju, mudah mudahan saja berhasil, karena memang aku sudah muak dengan wajah nyonya yang selalu memperlakukan kita itu seenaknya."


Para pelayan yang berkumpul bersama Maria, kini menjawab kata setuju, mungkin bagi mereka ini jalan satu satunya, menindak lanjut sang nyonya besar yang keterlaluan.


"Bagus kalau begitu. Basok aku akan berusaha mengatakan semuanya pada Aira."


Di tengah obrolan para pelayan Dwinda datang kembali dengan raut wajah kesalnya, ia melipatkan kedua tangan dihadapan para pelayan dengan berkata. "Oh jadi Kalian ada di sini, pantas saja aku teriak-teriak untuk memanggilkan kalian mengambil barang yang aku butuhkan. kalian ternyata tengah merumpi di sini. Apa yang kalian obrolkan? Apa mau gaji kalian saya potong kembali?"


Para pelayan yang sudah kesal dengan perilaku potong gaji dan ancaman Dwinda, membuat mereka meyakinkan diri, merasakan rasa takut seperti dulu. " jangan Nyonya kami hanya meluangkan waktu beristirahat sejenak di sini."


"Alah, sok-sokan pelayan beristirahat. Kalian itu di gaji untuk bekerja, bukannya istirahat. Siapa yang mau kasih gaji sama pelayan males-malesan seperti kalian." Bentak Dwinda. Tak segan segan Ia memelototi para pelayan, menyakiti perasaan orang lain tanpa iya sadari.


Para pelayan saya bisa menundukkan


"Sudah aku tidak mau melihat kalian berkumpul seperti ini, buatkan aku minuman dan juga cemilan saat ini." Printah Dwinda kepada para pelayanya.


"Baik nyonya. "


Para pelayan yang sudah kelelahan, bekerja dari pagi hingga malam, membuat mereka sangatlah tak kuat tinggal berada di rumah Ellad.


Namun karena kebutuhan yang mendesak dan gaji yang lumayan besar, membuat mereka bertahan. Walaupun banyak perkataan yang tak menyenangkan dari mulut Dwinda.


Sudah tiga tahun ini, mereka sudah cukup bersabar, tapi Dwinda malah semakin menjadi jadi. Maka dari itu, mereka mencari ide untuk bisa membuat Dwinda menderita.


Hanya dengan bekerja sama Aira, semua pasti bisa teratasi.


"Dasar pembantu tidak bisa diandalkan inginnya enak sendiri."


Dwinda berjalan dengan memegang pinggangnya yang terasa sakit, ia meringis sembari menggerutu kesal.


Aira yang ternyata bersembunyi di balik pintu hanya bisa tersenyum kecil.


"Mm, sepertinya akan menjadi sesuatu yang sangatlah seru."


Aira kembali ke dalam kamar, setelah menaruh baskom berisi air hangat.


Tiba tiba Edric mengangetkan Aira yang datang membuka pintu kamar, wanita itu malah terjatuh dan memeluk Edric.


"Pas mendarat kepelukkan.'


Tawa dilayangkan pada mereka berdua, hingga perkataan kini terlontar dari mulut Aira." Aku mau tanya?"

__ADS_1


"Mm, tanya apa?"


"Memangnya kalau para pelayan melakukan kesalahan harus potong gaji ya!"


"Kesalahan, memangnya siapa yang berbicara seperti itu."


"Tadi aku melihat para pelayan dimarahi Dwinda, karena tidak datang ke kamarnya dan di ancam potong gaji."


Mendengar perkataan Aira, Edric baru tahu. Jika wanita itu, sok berkuasa di rumah miliknya.


"Dia belum tahu ini rumah siapa?"


Mendengar perkataan Edric membuat Aira mengerutkan dahi," rumah siapa? Loh inikan rumah ayah kamu. Sayang!"


"Dady itu tidak punya apa apa, dia hanya numpang hidup di sini. Perusahaannya bangkrut karena proyek dan bisnisnya gagal, ia meminta bantuan kepadaku, sampai menjual rumah ini. Kepadaku, dan beberapa aset berharga miliknya!"


Mendengar perkataan itu, Aira semakin senang. Ternyata Dwinda hanya menikahi sosok pria tua yang tak memiliki apa apa lagi. Miris sekali hidup Dwinda. Sudah numpang hidup, sok seenaknya pada para pelayan.


"Ya sudah nanti, biar kamu yang ngatur gaji para pelayan di sini, bagaimana."


Edric menyerahkan tanggung jawab Dwinda pada Aira, " aku. Mana mungkin, aku kan hanya ...."


Edric menutup mulut Aira, dengan menempelkan jari telunjuknya pada bibir. Membuat Aira tentu saja diam.


Edric begitu baik, banyak sisi lembut yang ia tampilkan pada Aira, tentulah membuat Aira tenang dan nyaman.


Apakah hati Aira akan luluh, untuk tidak membalaskan dendam pada keluarga Ellad?


Akan sikap Edric yang begitu penyayang.


"Apa kamu tidak malu memiliki wanita desa sepertiku ini." Bibir Aira kini Edric cubit dengan perlahan dan menjawab." Kenapa aku harus malu, sedangkan aku juga hanya pria lumpuh."


Edric menatap wajah Aira dalam dalam dan berkata kembali," kamu tahu tidak, Aira?"


"Apa?"


"Ketika kita menikah dengan pasangan yang kita pilih, bukan karena harta, cantik. Dan jabatannya!"


"Lah terus apanya?"


Edric mencuil hidung Aira yang terlihat sedikit mancung dengan berkata." karena kita menerima kekurangannya, maka dari itu kita sebagai pasangan harus bisa menerima kekurangan itu dengan baik."


Aira dengan reflek memeluk tubuh Edric, meresakan rasa hangat dan nyaman.


"Apa bisa aku melakukan, apa yang aku mau saat ini?"

__ADS_1


Aira sudah mengerti dengan perkataan Edric, ia melihat ke arah bawah keperjakaan Edric, yang sudah mengembang.


Edric merayu Aira dengan mengangkat kedua alisnya beberapa kali.


"Gimana mau tidak?"


"Oke."


Aira kini terbiasa dengan keinginan Edric, hingga ia berusaha melakukan apa yang diperintahkan Edric.


Kedua insan yang tengah memadu kasih, merasakan getaran cinta dan gelombang asmara, membuat siapun tentu akan iri.


*******


Para pelayan mengantarkan cemilan dan juga minuman pada Dwinda, dimana sang nyonya tengah merasakan rasa sakit yang tak kujung membaik.


"Ini Nyonya."


"Ya sudah taroh di sana."


Maria merasa kasihan terhadap Dwinda karena semalaman ia tidak bisa tidur, menahan rasa sakit di pinggang karena keegoisannya.


Membuat Dwinda tidak diperiksa oleh dokter, Kebetulan sekali, ia malah memarahi suaminya karena membela Aira.


Maka dari itu lebih Indah mengasingkan diri di dalam kamar, tak mempedulikan teriakan Ellad yang mengkhawatirkan dirinya.


"Apa nyonya butuh bantuan saya, biar sama pijat. Agar pinggangnya terasa nyaman."


Mendengar kata pijat, membuatku Dwinda merasa heran." Memangnya bisa ya ketika kita sakit pinggang dipijat?"


Maria berusaha menjelaskan kepada sang nyonya, jika di desa ketika terjatuh dari motor ataupun terpeleset dari kamar mandi, selalu ada istilah pijat.


"Apa akan manjur."


Maria menganggukkan kepala.


"Ya sudah, coba kamu ke sini. Tolong pijat pinggangku yang sakit ini."


Dwinda pada akhirnya menyuruh pelayannya itu untuk memijat bagian sakit di pinggangnya, ini kesempatan Maria menyakiti tubuh wanita yang selalu membuat semena-mena kepada dirinya dan juga sahabatnya di rumah.


Maria mulai duduk di belakang punggung Dwinda, kedua tangannya memulai memijit pinggang sang nyonya yang tengah kesakitan.


Perlahan, hingga suara erangan itu terdengar dari mulut Dwinda, ternyata sang Nyonya kesakitan dengan tekanan yang diberikan oleh Maria.


"Tahan ya, nyonya. Ini biasanya sakit, setelahnya tidak kok." Ucap lembut Maria sembari tertawa kecil.

__ADS_1


__ADS_2