
"Apa yang kamu katakan itu memang benar, Tapi tetap saja semua itu tak adil."
Edric berusaha tetap menasehati sahabat yaitu agar tidak larut dalam dendam. Karena bagaimanapun seorang anak tak pantas jika harus bermusuhan dengan kedua orang tuanya apalagi seorang ayah yang sudah berjuang membiayai kebutuhan anak-anak dan juga seorang ibu yang sudah rela berjuang untuk melahirkan dan membesarkan seorang anak.
" Ayolah jangan jadikan, kasih sayang ayahmu kurang, kepadamu. Aku tahu kok, kenapa ayahmu berbuat begitu mungkin ada alasanya."
Dreet ....
Pesan datang kembali, ternyata pesan itu dari Carlos.
(Cantik, kenapa tak di balas.)
Ponsel yang terus mengeluarkan suara membuat Lucky terlihat kesal," bagaimana bisa si Carlos itu mengirim pesan sampe ke sepuluh kalinya."
Edric tertawa mendengar tutur kata sahabatnya itu, ia sesekali menyindir dengan kata kata lucu." Ya pastinya ingin mengajak kamu pede kate lah, masa masa pendekatan gitu."
Lucky memonyongkan bibir bawah atasnya dan menjawab." Idih, walau dandanan aku kaya cewek dan hasil oplasan tetap ya aku masih waras suka cewek."
"Makanya cepat berubah berubah jadi cowok, kamu nggak mau nanti sampai kehabisan cewek di muka bumi ini." sindir kembali Edric pada Lucky yang tengah memandangi layar ponsel begitu serius.
"Idih, mana ada di dunia ini cewek abis, nggak lah, masih banyak, sotoy," balas Lucky memperlihatkan gaya seperti wanita pada umumnya.
Edric yang melihat pemandangan itu merasa terganggu penglihatan matanya karena gaya dan fostur tubuh Lucky begitu sama seperti wanita.
Apa Edric bisa merubah kembali Lucky menjadi lelaki sejati.
"Heh, Lucky."
"Mm."
Biasanya saat orang menyebut nama aslinya, ia selalu marah dan terkadang membentak orang itu, tapi tidak dengan sahabatnya Edric. Ia hanya memajukan bibir atas dan bawahnya.
Seperti menganggap hal itu bagi dirinya biasa, tak ada kemarahan dalam raut wajah lelaki yang berubah menjadi wanita itu.
Suara bel di rumah Edric tiba-tiba saja berbunyi, Aira masih sibuk di dalam dapur, kini bergegas ke depan pintu melihat siapa orang yang datang di pagi hari sekali.
Bel rumah terus dibunyikan, sampai beberapa kali. membuat Aira terburu-buru berlari dengan rasa kesal, karena orang yang membunyikan bel sungguh keterlaluan.
"Ya tunggu."
"Gila ya ni, orang. pencet bel sampai beberapa kali." Gerutu hati Aira, hingga Ia membuka pintu rumahnya.
__ADS_1
Ketika pintu rumah terbuka, bertapa terkejutnya Aira melihat kedua sosok lelaki yang menjadi sahabat suaminya. Carlos dan juga Welly mereka tengah bertengkar di depan rumah.
Aira hanya diam, melipatkan kedua tangan menonton pertengkaran itu. " Mm, ternyata mereka?"
Aira sudah menduga, kemungkinan besar mereka datang ke rumah Ebric pagi sekali, pastinya ingin bertemu dengan Lucky yang kini menjadi seorang wanita. kalau mereka tahu sang dokter itu seorang pria, kemungkinan besar mereka tak sudi bertengkar di pagi hari ini.
Aira berpura-pura batuk. Untuk menghentikan pertengkaran mereka berdua, tapi tak ada hasil juga, mereka tetap saja bertengkar untuk bisa masuk ke dalam rumah menemui sang dokter cantik.
" Mereka ini kenapa sih, sudah tahu ada tuan rumah, malah bertengkar terus menerus." Gerutu hati Aira.
"Heh, lu. Yang duluan masuk itu gue. "
"Setupit lu, tetap saja. Yang datang pagi sekali itu tetap gue ya gue."
"Nggak bisa, pertama kali yang harus menemui dokter itu tetap gue ya gue."
"Nggak bisa, tetap gue."
Mereka saling dorong satu sama lain, tentu saja membuat Aira semakin murka dan juga kesal.
Apalagi saat ia sedang hamil muda, emosinya meluap luap seperti pusing.
Teriakan Aira tak membuat kedua lelaki itu berhenti dari kemarahan dan saling merebutkan.
Mereka hanya berhenti sejenak dan menatap ke arah Aira sekilas, melanjutkan lagi pertengkaran yang terus-menerus saling dilayangkan satu sama lain.
Edric dan Lucky, penasaran dengan teriakan Aira, mereka berdua bergegas keluar rumah melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa ya, kok. Ribut ribut."
Setelah keduanya keluar rumah, Edric tertawa lepas melihat kedua sahabatnya saling bertengkar, ia tahu jika mereka berdua tengah memperebutkan Lilia. Wanita setengah jadi jadian.
"Seru juga ya." ucap Edric.
Lucky hanya terdiam menohok, melihat didepan matanya sendiri.
Aira mendengar suaminya berkata seperti itu, membuat ia mendengus kesal.
Berkacak pinggang, menatap kedua lelaki yang tengah tertawa.
"Heh, apa kalian lihat semua ini lucu, cepat bubarkan mereka, aku pusing."
__ADS_1
Teriak Aira, dengan wajah gelisah karena melihat kemarahan istrinya, Edric terburu buru. Menghampiri kedua sahabatnya itu, menghetikan pertengkaran yang tak kunjung usai.
"Stopp, Carlos, Welly. "
Lucky, lelaki yang kini memakai nama sebagai Lilia, hanya diam seperti wanita. Aira melihat semua itu, kini menarik kerah baju Lucky, membanting kehadapan kedua lelaki itu.
Brukkk ....
" Aw."
Kedua lelaki yang bertengkar itu, kini menghentikan perdebatan, mereka berdua langsung menolong, Lilia.
"Lilia, kamu nggak papa. "
Edric berusaha menghentikan mereka berdua hanya menatap kedua sahabatnya berlari menolong lucky.
"Padahal saat aku hentikkan mereka berdua agar tidak bertengkar lagi, tetap saja tidak berhasil. Tapi saat si Lucky itu di jatuhkan istriku, pertengkaran keduanya tiba-tiba usai, mereka mencoba menjadi lelaki baik yang menolong seorang dokter cantik terjatuh di atas lantai. Miris. Bagaimana kalau mereka tahu jika dokter cantik itu adalah seorang lelaki," ucap pelan Edric, menatap kedua sahabatnya yang begitu perhatian terhadap Lucky, yang mereka anggap seorang dokter cantik.
"Dokter, kamu tidak apa-apa."
Lucky merasakan rasa sakit di pinggangnya, karena tarikan Aira yang menjatuhkannya sangatlah kuat.
"Pinggangku sakit."
Memegang pinggang terasa berdenyut, benar benar menyakitkan, bagaimana bisa Aira sekuat itu sampai bisa melemparkan Lucky seorang lelaki ke atas lantai.
"Aira, dia kan wanita sama seperti kamu, kenapa tega kamu buat ia jatuh dan terluka. " Hardik Carlos memarahi Aira, Edric tak terima jika istrinya di marahi oleh sahabatnya itu.
Carlos ternyata sengaja, membuat pembelaan agar Lucky yang ia anggap Lilia meliriknya, dan mau ia ajak pacaran.
"Heh, Carlos. Jangan marahi istriku, bagaimana pun kamu hanya tamu, jika kamu dan Welly hanya bikin rusuh sebaiknya pergi dari sini," pekik Edric, memarahi kedua sahabatnya, karena tak terima jika mereka seenaknya menyalahkan Aira.
Kedua lelaki itu menundukkan wajah, menatap satu sama lain, " Ya kami minta maaf."
Aira tak mempedulikan permintaan maaf kedua sahabat Edric, ia kini melanjutkan pekerjaannya di dapur.
"Cepat kalian semua masuk, aku sudah masak makanan enak. "
Semua nampak gembira, sedang Carlos dan Welly, mempunyai kesempatan untuk mendekatin Lilia, sang dokter cantik yang sudah mengugah selera kelakilakian mereka.
Hanya Edric bergidig ngeri. Sedangkan Lucky hanya tersenyum sinis, ia tahu apa yang harus ia lakukan saat itu juga.
__ADS_1