Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 39 Juteknya Edric


__ADS_3

Jam pelajaran sudah selesai, waktunya Edric untuk segera pulang. Ia tak sabar ingin menemui Aira, membangkitkan lagi keperjakaannya yang sempat tertunda.


Apa yang dikatakan sang sopir memang benar, Edic sepertinya butuh bulan madu. Untuk menghilangkan napsu yang terus memucak, buktinya setiap mata pelajaran yang dijelaskan oleh dosennya. Pikiran Edric itu terus membayangkan wajah Aira, senyuman manisnya begitupun cara pintarnya dalam bermain.


"Mm."


Sisak dosen di kampus, menghentikan kursi roda Edric. Membuat sang pemilik bola mata biru itu terkejut dimana cara mengentikanya memalukan.


Wajah mereka saling berhadapan, Sisak tersenyum dan sesekali mengangkat kedua halisnya. Tidak seperti biasanya, tegas dan galak. Tapi ini terlihat kecentilan.


"Ada apa?"


Sisak tertawa, dan mendorong kursi roda Edric kebelakang.


"Hey, apa yang kamu lakukan."


Sang Dosen hanya diam. Tak mempedulikan perkataan muridnya


"Bu Siska."


Tangan Siska kini terlepas, kursi roda berhenti." Hey. Jangan karena anda dosen jadi seenaknya ya."


Siska menggelengkan kepalanya ia berdiri di hadapan Edric. Melipatkan kedua tangan, " Mm. Apa kamu tidak lihat bahaya di depan kamu sendiri."


"Bahaya?"


Siska sedikit menyingkir dari hadapan Edric, dimana CEO muda itu menatap ke arah depan.


"Sebuah tangga, bukanya tadi."


Edric merasa aneh, sejak kapan pintu keluar sekolanya berubah menjadi tangga.


"Itulah jika seorang murid tidak fokus, dan terus menerus melamun. Alhasil nyawapun melayang."


Edric malu dengan apa yang dikatakan sang dosen, padahal tadinya ia ingin memarahi Siska habis-habisan. Yang ternyata dirinya salah, membuat Edric hanya bisa tersenyum lebar.


"Maaf ya, Bu Siska. Saya salah menduga.'


"Makanya jangan melamun."


Siska tersenyum dikala Edric meminta maaf padanya, seperti ada getaran dalam hati tiba tiba muncul begitu saja. Entah kenapa Siska merasa jika ia tengah merasakan rasa suka pada seorang lelaki bernama Edric itu, padahal tidak ada yang sepecial dari dia. Dulu memang Edric tak lumpuh. Tapi sekarang ketika melihat Edric lumpuh. Hati Siska malah semakin ingin memilikinya.


Sang pemilik bola mata biru, mulai menjalankan kursi rodanya untuk segera pulang. Ia terlalu memikirkan wajah cantik istrinya hingga lupa jika dirinya juga harus menjaga diri.

__ADS_1


Perasaan beruntung membuat hari hari Edric semakin bersemangat, wajah yang muram selalu tampil ceria saat di kampus.


"Ayo pak, kita pulang."


Pak Hasan, mengerutkan dahi dan berkata." Loh, belum waktunya pulang tuan."


"kenapa?"


Lelaki tua yang sudah lama menjadi sopir Edric menunjukkan beberapa pesan yang dikirim Ellad kepadanya, pesan itu menunjukkan bahwa sang tuan muda harus pergi ke kantor.


Mengacak rambut secara kasar, Edric kesal. Mana bisa ia pergi ke kantor. Sedangkan rasa rindunya belum terpenuhi.


"Ayo tuan, kita ke kantor dulu."


Rasa bersemangat kembali hilang, Edric terduduk lesu di kursi mobilnya. Ia sudah ingin membuat keperjakaanya bermain lagi, tapi sialnya. Menjadi seorang CEO begitu sibuk dihadapkan dengan berbagai pekerjaan.


"Tuan, murung begitu?"


Pertanyaan Pak Hasan. Membuat Edric menatap sinis sang sopir pribadinya.


"Ya, siapa yang nggak murung. Sudah senang selesai kuliah mau pulang ketemu bini, ya disuruh ke kantor. Memang Dady kemana coba? Bukanya dia yang menghendel kantorku." Menggerutu kesal, Pak Hasan malah mentertawakan sang tuan muda.


"Sabar tuan, bukannya tuan mau membuktikan pada Almarhum Ibu Maya, bahwa tuan bisa dan mampu menjadi seorang CEO." Ucap Pak Hasan. Membuat Edric mengigat kata katanya dulu, memang sempat terucap disaat sang ibu masih hidup.


Dan sudah jelas sekarang, Sang ayahpun menjadi bawahan Edric dan harta warisanpun berada di tangan Edric semuanya.


"Pak, setelah pulang dari kantor. Tolong berhenti di toko ponsel ya."


"Memangnya tuan muda mau beli ponsel lagi."


"Nggak, saya mau menghadiahkan untuk istri saya."


"Baik tuan."


Edric membayangkan saat ia pulang, membawa ponsel pastinya Aira akan senang.


Senyum terukir kembali pada wajah Edric ketika mengigat sang istri.


Sampai di kantor.


Edric turun dengan dibantu oleh Pak Hasan mengunakan kursi roda. Semua mata tak lekat memandang Edric seorang anak muda yang lumpuh. Bisa menjadi sukses dan berpangkat CEO.


Omongan selalu terdengar pada telinga Edric, namun selalu ia tepis. Karena kunci kegigihan dan menjikan ia sukses seperti sekarang, ialah fokus pada tujuan, tak mempedulikan omongan orang.

__ADS_1


Bagi Edric, menjadi sosok percaya diri adalah jati dirinya. Maka ia tak pernah berputus asa dan menghindar, selalu menghadapi semua dengan yakin dan tekad kuat.


"Siang pak."


Semua saling menyapa sang CEO muda, hingga salah satu asistennya yang seksi datang.


"Siang pak."


Tersenyum, tapi Edric tak pernah membalas senyuman siapapun yang berada di dalam kantor.


Ia selalu memperlihatkan wajah juteknya.


Namun, berbeda dengan sang ayah. Ellad selalu memperlihatkan senyum ramah dan membuat orang orang nyaman jika di dekatnya.


Edric masuk ke dalam kantor dengan Sekertaris seksinya.


Mengganti kursi, mendorongnya. Edric tetap duduk pada kursi rodanya yang menemaninya selama tiga tahu ini.


"Siang ini ada jadwal metting dari Pak Marco."


"Baik, kalau begitu."


Hanya perkataan singkat saja yang selalu terlontar dari mulut Edric untuk sang sekertasis seksi dihadapanya. Terkadang ucapan jutek Edric membuat sang sekertaris jenuh, ingin rasanya Edric jatuh kepelukannya.


Namun, apa daya. Sifatnya yang jutek selalu membuat sang sekertaris ketakutan dan tak berani mendekatinya.


"Tadi ayah saya datang tidak ke sini."


"Sebelumnya datang tuan untuk mengurus berkas yang belum di tanda tanganni, setelah itu. Tuan mendapatkan telepon untuk segera pulang buru-buru. "


Edric sudah menduga jika biang keladi dari pulangnya sang ayah pastinya karena Dwinda.


Wanita yang selalu mengusik hidup Edric sampai sekarang, entah apa tujuanya membuat sang pemilik bola mata biru itu ingin membuat kedua orang tuanya cerai.


Brakkk .....


Tiba tiba saja, Edric memukul meja. Tentunya membuat sang sekertaris terkejut. Tangan gemetar memegang bulpoin. Begitulah jika Edric sedang marah selalu memukul meja kerjanya.


Laudia berdiri membawa berkas yang harus di tanda tangani sang CEO. Dengan berjalan berlengak lenggok, memakai rok mini. Membuat Edric dengan kesalnya berkata." apa bisa ketika kamu bekerja, jangan memakai rok mini. Kamu tahu kan saya tak suka, oh ya satu lagi, dengan jalanmu itu, bisa tidak di perbaiki. Karena mengganggu pandangan saya saat bekerja. "


"E, baik Pak."


"Bagus, Oh ya jika besok saya masih melihat kamu berdandanan seperti ini dan juga berjalan lenggak-lenggok seperti gadis kecentilan, sebaiknya kamu keluar dari kantor ini. Saya bisa mencari sekertaris yang lebih baik dan sopan dalam penampilan."

__ADS_1


" Baik pak. Saya akan usahakan."


"Bagus kalau begitu. Ya sudah cepat kembalii bekerja lagi. "


__ADS_2