Gadis Desa Untuk Ceo

Gadis Desa Untuk Ceo
Bab 48 Menyanjung sang ayah.


__ADS_3

Edric tak segan segan meninju mulut Sodikin hingga berdarah. Dimana lelaki tua itu belum meneruskan perkataannya.


"Bunuh saya sekalian. Hah. Asal anda tahu saya sudah menebar fitnah di desa, jika pembunuh itu adalah suruhan anda demi membawa Aira pergi."


Edric hampir saja meninju Sodikin kembali, hingga sang suruhan, berusaha menghentikan sang tuan muda agar tetap menjaga martabat sebagai CEO.


"Jangan anda buat tangan anda kotor tuan, hanya untuk membunuh lelaki tua tidak tahu diri di depan anda saat ini. Tahan emosi anda."


Apa yang dikatakan sang suruhan memang benar, Edric tetap harus menjaga emosi agar tidak merugikan dirinya sendiri. Jika Edric sampai membunuh lelaki tua ini, mungkin karirnya akan hancur dan ia masuk ke dalam penjara. Walau dengan menyogok uang, tetap saja rasa malu itu akan tetap ada melekat pada wajah sang CEO muda yang sudah berhasil sukses di usia dua puluh delapan tahu.


Karir yang melambung tinggi, tentunya membuat Edric selalu menjadi orang yang selalu di sanjungi rekan bisnisnya.


"Benar apa perkataan kamu, saya tak boleh mengotori tangan saya. Biarkan nanti anaknya sendiri yang membuat ayahnya menyesal." Ucap Edric


Mendengar perkataan Edric, tentulah membuat Sodikin hanya tertawa dengan begitu santainya, ia seperti orang yang tak peduli jika nanti hidupnya akan jadi seperti apa, yang ia pikirkan hanya uang dan bersenang senang. Tak peduli jika keluarganya menjadi korban keserakahan Sodikin sendiri, " Sudahlah anda sebagai CEO tinggal menikmati anak tiri saya, dan setelah bosan. Anda bisa tinggalkan dia."


Hilang kesabaran Edric, CEO muda itu kini mengambil lakban menutup mulut Sodikin agar tidak seenaknya dalam berucap.


"Tuan, apa kita lanjutkan perjalanan kita ke desa Nona Aira?" tanya sang suruhan pada Edric.


"Sepertinya tak usah, karena kita sudah menemukan biang keladinya. Jadi tak usah cape cape pergi ke sana!" jawab Edric. Membuat sang suruhan memutar balikkan mobil menuju ke kota.


Sodikin sedikit terlihat ketakutan, walau dalam ucapanya ia begitu berani. Tapi nyalinya begitu menciut, "Sial, kenapa bisa apes seperti ini." Gerutu hati Sodikin.


Ponsel berbunyi, Edric kini mengangkat panggilan telepon dari ayahnya sendiri.


"Halo, Dad. Ada apa?"


"Kenapa kamu tidak masuk ke kantor sekarang? Ada rekan bisnis yang ingin bertemu secara langsung dengan kamu."


Edric tetap profesional dalam pekerjaan, tak pernah mengungkit kejadian semalam akan perdebatannya saat membahas Dwinda. Karena bagi dirinya itu hal yang tak penting. Jadi untuk apa di bahas lagi.


Tapi jika membahas pekerjaan, Edric tak sengan segan akan mengeluarkan sang papah dari perusahaan dan tak ingin membantunya lagi.


Edric, memang terkesan kejam. Tapi pada dasarnya ia begitu sayang kepada sang ayah, tak mau jika melihat sang ayah menjadi bualan omong kosong istrinya.


"Sebentar lagi aku akan datang, sekarang aku ada urusan dengan seseorang."

__ADS_1


"Baik kalau begitu, Dady akan usahan rekan bisnis kita nyaman di perusahaan."


"Baiklah."


Begitulah menjadi seorang CEO selalu ada pekerjaan yang tiba tiba mendadak datang tanpa di undang, selalu ditekankan dengan kesibukan.


Edric terkadang menjadi sosok yang selalu menyendiri, karena pekerjaan yang membuat ia jauh dari pergaulan bebas.


"Tuan, jika kita pulang sekarang. Lelaki tua itu maun kita bawa kemana?"


"Benar apa kata kamu, kita bawa kemana ya dia. Jika kita bawa ke hadapan Aira tentu saja ia akan kaget!"


Sang suruhan, mengingat tempat yang jarang dipakai, " Oh ya, tuan. Saya ingat tuan kalau Tuan Ellad mempunyai gudang yang jarang di pakai, apa kita simpan saja lelaki tua itu di sana."


"Ide yang bagus, ya sudah kamu atur saja. Jangan sampai dia lari. "


Sodikin hanya bisa memutarkan kedua matanya, tak bisa berucap apa-apa karena bibir terlakban sepenuhnya. "Saialan, aku benar benar menjadi umpan bagi mereka." Gerutu hati Sodikin


Suruhan Ellad mulai mengantarkan Edric menuju kantor. Sedangkan Sodikin, akan disekap di gudang kosong yang sudah jarang dipakai.


Edric mulai melangkah menuju ke ruang metting. Ia melewati Laudia yang menunduk seperti tak berani menatapnya.


"Laudia, tagapkan wajah kamu." Ucap Edric. Laudia berusaha menegakan wajah, walau ada rasa malu, karena wajahnya terdapat luka lebab.


Sang CEO muda yang melihat penampilan Laudia yang menyedihkan membuat ia berusaha tak peduli. Dengan menampilakan senyum pada beberapa rekan bisnis, Edric mulai duduk dan memulai metting.


Ellad yang berada di sini hanya menjadi seorang bawahan anaknya, ada rasa malu. Tapi harus bagaimana lagi, memang kenyataanya seperti ini. Ellad tidak bisa apa apa lagi.


Hanya menurut dan mendengarkan semua apa yang dikatakan anaknya.


Padahal saat menikah dengan Maya, Ellad begitu jaya. Menjadi seorang lelaki terpandang kaya raya, perusahaan tak ada yang bangkrut seperti sekarang.


Entah kenapa, semua begitu berbanding terbalik, Ellad yang sekarang menjadi jatuh miskin. Seorang lelaki biasa yang tak mempunyai jabatan apa apa.


Di setiap Edric menerangkan tentang bisnis bersama rekannya, Ellad banyak menghabiskan waktu dengan melamun. Sampai saat Edric melemparkan sebuah perkataan yang membuat para rekan bertepuk tangan.


Ellad maju ke depan dengan berkata, "Beri tepuk tangan untuk ayah saya, yang sudah berjuang membangun perusahaan hingga ketitik teratas."

__ADS_1


Deg .....


Lamunan sang ayah membuyar, mendengar perkataan anaknya yang masih ia tak percaya.


Kenapa bisa Edric mempelakukan seorang ayah begitu istimewa di depan orang lain.


Padahal Edric bagaikan musuhnya, setelah menikah dengan Dwinda. Keceriaan bersama Edric sirna, anak berusia dua puluh delapan tahun itu sering membangkang dan tak pernah menurut.


Saat dinasehatipun Edric tak pernah mau, apa maksud Edric terhadap Ellad.


Ellad benar benar di beri sebuah kebahagian, disanjung para rekan bisnis dan yang lainya. Namanya yang hampir redup, kita bercahaya kembali karena anak semata wayangnya yang selalu peduli.


Senyum tergambar dari raut wajah Ellad, seperti tak ada niat jahat kepada sang ayah.


Ellad benar benar merasa aneh saat ini.


Setelah metting selesai, Ellad mencoba menghampiri Edric. Mengejar anaknya, hingga ke ruang kerja.


"Edric tunggu."


Ellad, terlihat kelelahan saat mengejar Edric hingga sampai di ruangan.


"Sebagai seorang ayah, saya ingin berbicara penting dengan kamu Edric."


"Berbicara apa, tentang pekerjaan? Kalau tentang itu aku akan mendengarkan, tapi jika tentang istri Dady, aku sibuk dan banyak waktu."


"Edric, ini bukan masalah Dwinda! Tapi ini masalah tadi saat kamu menyajungi Dady di depan rekan bisnis, apa ada tujuan tertentu?"


"Tujuan tertentu, maksud Dady, sepertinya tak ada?"


"Edric."


"Apa lagi, Dady. Sudah Edric jelaskan dengan sangat sangat jelas."


"Edric, kapan kamu menjadi anak Dady yang seperti dulu."


Edric terdiam.

__ADS_1


__ADS_2