
Lucky yang kini menjadi seorang wanita seutuhnya itu, memarkirkan mobil di pinggir jalan. Menatap layar ponsel siapakah yang menelpon dirinya?" Ayah?"
Betapa terkejutnya Lucky melihat sang ayah menelpon dirinya, " Lucky kamu ada di mana sekarang?'
pertanyaan sang ayah malas sekali dibalas oleh anaknya, Lucky hanya membalas seperlunya saja. Tak banyak obrolan antara mereka berdua layaknya seperti keluarga.
Semenjak kematian sang ibunda, Lucky lebih mementingkan dirinya sendiri, menjauhi seorang ayah yang membuat dirinya tak pernah semangat untuk menjalani hidup.
"Lucky. Ayolah kamu jangan pernah egois, aku ini ayahmu kenapa kamu membesarkan egomu, daripada .... "
Lucky dengan lancangnya memotong ucapan sang ayah, ia malas membahas tentang keluarga yang tak pernah aku.
"Sudahlah, aku sibuk."
Lucky mematikan panggilan telepon, ia tak peduli dengan kemarahan sang ayah. Karena lewat situ itu lebih mementingkan kedua adik-adik Lucky daripada dirinya.
Terkadang Lucky selalu tersisihkan, dari kasih sayang seorang ayah.
Lucky tahu jika dirinya harus lebih dewasa dan tidak egois, namun apa daya. Lucky juga mempunyai perasaan dan ingin disayang, walau hanya mendapatkan kabar dari sama ayah.
Setelah panggilan telepon terputus, lelaki tua itu mengirim pesan kepada anaknya.
(Ayah ini ingin bicara baik-baik dengan kamu, tapi kenapa kamu selalu seperti ini.)
Lucky membaca isi pesan dari ayahnya, tapi ia hanya mengabaikan tanpa membalas pesan dari sang ayah.
Tak peduli, mengabaikan ponselnya begitu saja.
Anak muda berumur dua puluh sebilan tahun itu, mengajak rambut panjang, ia menatap pada cermin yang selalu ia bawa ketika pergi kemana-mana.
Terlihat ia menjadi sosok yang begitu lemah, tak berdaya, hanya bisa memarahi dirinya sendiri." kenapa dunia seakan tak adil."
__ADS_1
Ketika Lucky merasa sedih dan sedikit frustasi, dia selalu mengingat sang ibunda. Dimana sosok wanita itulah yang selalu membuat hati Lucky lebih tenang.
Tapi sekarang, ia seakan sendirian. Tak ada tempat dirinya untuk bersandar, dia hanya menjadi sosok lelaki yang menyedihkan.
Terkadang sosok menjadi seorang wanita merubah gaya penampilan dan juga karakter dirinya yang seperti laki-laki berubah drastis.
Menjadi sosok seorang perempuan yang cantik jelita, selalu membuat Lucky nyaman dan juga tenang. Tapi dia juga merasa bersalah pada dirinya, karena menentang kodrat yang sudah Tuhan berikan.
sang ayah selalu menyalahkan dirinya, membuat ia menampung beban yang semakin berat. Hingga keputusannya untuk merubah diri, ia penuhi.
Dengan merubah diri hidupnya semakin berbeda, Lucky, ngumpulin Nyai banyak sahabat seorang wanita. Yang selalu siap mendengarkan kelah keluhnya, mereka selalu ada di setiap, Lucky membutuhkan mereka.
Lucky, mulai menyalakan mesin mobilnya, pemanasan Ayah terus mengirim pesan menyuruh dirinya untuk segera datang.
karena amukan dan hinaan terlontar dari mulut ayahnya, walau lewati pesan. Tetap saja membuat hati sang anak terasa tergores, pilu dan juga menyedihkan.
********
Sedangkan di acara reunian, para sahabat mencari keberadaan Lucky. Begitu juga dengan sosok wanita, yang selalu didambakan oleh Lucky.
"Heh, malah melamun. Kita di sini sudah temanan lama loh, jangan ada yang di sembunyi sembunyikan," ucap Carlos, memukul bahu Edric.
Lelaki yang duduk di kursi roda hanya bisa tersenyum, melihat sahabatnya tertawa riang. Mereka tak tahu jika Lucky sudah menjadi sosok seorang wanita.
"Ya lah, si Lucky orang yang barbar kalau nggak ada dia nggak seru," balas salah satu wanita bernama Agelina, menampilkan pipi lesungnya. Ia memegang air minum, merasakan bertapa nikmatnya rasa pertemanan mereka.
Sedangkan wanita yang di sukai Lucky, hanya diam memndangi rumah Edric yang terlihat nyaman. Di sekumpulan para sahabat Edric, Aira hanya bisa terdiam, karena ia takut salah mengucapkan satu patah katapun.
"Sudahlah, nanti kalau aku bertemu dengan Lucky, aku kasih tahu kalian. Karena nomornya dari tadi tak di angkat angkat, mungkin dia sedang sibuk," timpal Edric, membuat suasana kembali terasa nyaman.
"Aira." Edric memanggil istrinya, kehadapan para sahabatnya itu, dimana mereka terkejut. Melihat begitu naturalnya wajah Aira.
__ADS_1
"Ini istri kamu, cantik sekali," ucap Welly, memegang rambut Aira. Edric tak suk dengan sahabat lelakinya yang asal memegang rambut sang istri.
"Pegang dikit aja, napa. Nggak boleh," balas Welly, mengusap pelan tangan bekas pukulan Edric, terasa perih dan lumayan menyakitkan.
Aira menutup mulut menahan tawa, dimana mereka hanya menyaksikan kekocakan Willy.
Carlos dengan wajah bulenya, mendekat ke arah Aira, lelaki itu begitu tampan dan mempunyai tangan yang berotot. Terlihat seksi, siapapun wanita melihatnya akan terpana.
"Wah, aku tak menyangka jika kamu mau menyukai si Edric ini, jelas jelas dia laki laki letoy," ungkap Carlos, membuat Edric kesal.
Para sahabatnya mentertawakan apa yang dikatakan Carlos, Aira semakin tak bisa menahan tawa, berusaha tetap menahan agar tidak kebablasan.
"Idih enak saja, walau aku duduk di kursi roda ini, jangan ragukan kejantananku, saat menyentuh sang istri, tiada tandingannya dengan kalian semua di sini," ucap Edric begitu percaya diri, hingga Carlos, memukul mukul dada bidang sahabatnya itu.
"Percaya letoy, " balas Carlos yang memang suka asal jeplak.
Aira sudah tak bisa menahan tawa ia kini, tertawa terbahak bahak, membuat Aura kecantikannya bertambah mempesona.
Semua sahabat Edrif memandangi wajah cantik bersinar itu, wajah khas Indonesia yang begitu alami.
Kedua pipi Aira memerah, melihat semua sahabat Edric memandangi dirinya, mana mungkin bisa ia terlihat seperti orang gila, jika semua tak ikut tertawa.
"Kenapa kalian diam saja, aku jadi malu dengan tawaku sendiri." ungkap, Aira membenarkan rambutnya yang terurai panjang, mereka tetap memperhatikan Aira, tersenyum lebar.
Sedangkan Edric, hanya mendengus kesal, karena wajah Aira menjadi pujian para sahabat Edric, apalagi Carlos yang pandai menggombal, membuat Edric cemburu berat.
"Kami melihat kamu begitu terpesona, wajah begitu membuat kami terpana," ungkap Carlos, tetap membuat rayuan untuk istri Edric.
Sedangkan Aira hanya bisa mengucapkan kata terima kasih kepada para sahabat suaminya, sudah memuji kecantikan yang di berikan Tuhan untuknya.
"Terima kasih atas pujian kalian." Ucap Aira, dengan sopan dan ramahnya, tersenyum lebar.
__ADS_1
Edric, menyuruh Aira untuk tidak tersenyum, karena Carlos yang usil itu. Selalu memandangi kecantikan Aira tanpa di ragukan lagi.
"Heh, Carlos jaga matamu itu, ya. Jangan kamu curi curi pandang istri orang, kalau terus begitu, aku cokel kedua matamu itu." ucap Edric memegang tangan sang istri, Aira begitu senang dengan Edric, suami yang tak ingin istrinya dikagumi lelaki lain, Iya begitu menjaga sang istri.